Perilaku Patuh Tidak Selalu Memberi Gambaran Utuh tentang Keyakinan Seseorang.

Mahasiswi Fakultas Psikologi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Embun Bening Di Moravia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebagian orang mengalami perubahan perilaku yang cukup drastis setelah meninggalkan lingkungan yang selama ini mengatur kehidupan mereka. Pada sebagian lulusan pondok pesantren, misalnya, kebebasan setelah lulus bisa menjadi kesempatan untuk mencoba berbagai hal yang sebelumnya jarang mereka lakukan. Perubahan ini terkadang terlihat begitu kontras dengan perilaku mereka ketika masih tinggal di pondok.
Namun, perubahan tersebut tidak serta-merta berarti bahwa pesantren menyebabkan seseorang menjadi “liar”. Pengalaman setiap santri berbeda, begitu pula alasan di balik perilaku mereka setelah lulus. Untuk memahami fenomena ini, kita bisa melihatnya melalui tiga konsep: self-presentation, disonansi kognitif, dan confirmation bias.
Self-presentation: diri yang ditampilkan di hadapan orang lain
Erving Goffman, melalui bukunya The Presentation of Self in Everyday Life (1959), menjelaskan bagaimana seseorang mengelola kesan yang ditampilkan kepada orang lain dalam interaksi sosial. Dalam lingkungan yang memiliki aturan dan ekspektasi tertentu, seseorang dapat menampilkan dirinya sebagai pribadi yang patuh dan disiplin.
Namun, perilaku yang terlihat tidak selalu menunjukkan seluruh proses yang terjadi dalam diri seseorang. Kepatuhan bisa berasal dari keyakinan pribadi, kebiasaan, tuntutan lingkungan, atau kombinasi semuanya. Karena itu, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa seseorang hanya berpura-pura patuh ketika berada di pondok.
Ketika lingkungan berubah setelah lulus, cara seseorang menampilkan dirinya juga dapat berubah. Ia mungkin merasa lebih leluasa mengekspresikan sisi dirinya yang sebelumnya jarang terlihat atau mulai mengeksplorasi identitasnya di lingkungan baru.
Disonansi kognitif: ketika perilaku bertentangan dengan keyakinan
Perubahan perilaku menjadi persoalan psikologis yang berbeda ketika tindakan seseorang tidak selaras dengan nilai yang masih diyakininya.
Leon Festinger menjelaskan disonansi kognitif dalam A Theory of Cognitive Dissonance (1957) sebagai ketidaknyamanan yang dapat muncul ketika terdapat pertentangan antara unsur-unsur kognisi seseorang, termasuk keyakinan, sikap, dan perilakunya.
Misalnya, seseorang masih meyakini suatu nilai yang dipelajari selama di pondok, tetapi mulai melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai tersebut. Jika ia menyadari pertentangan itu dan menganggapnya penting, ia mungkin mengalami konflik batin.
Untuk mengurangi ketidaknyamanan tersebut, ia dapat mengubah perilakunya, meninjau kembali keyakinannya, atau mencari penjelasan yang membuat tindakannya terasa lebih dapat diterima. Namun, tidak semua perubahan perilaku menimbulkan disonansi. Bisa jadi, pandangan seseorang memang telah berubah atau ia tidak memaknai tindakannya sebagai sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya.
Confirmation bias: kecenderungan mencari informasi yang mendukung keyakinan
Ketika seseorang berusaha memahami atau mempertahankan pandangannya, cara ia memproses informasi juga dapat berperan. Confirmation bias merujuk pada kecenderungan untuk lebih mencari, memperhatikan, atau menafsirkan informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimiliki.
Peter Wason melalui penelitian pada 1960 menunjukkan bagaimana orang dapat terlalu berfokus pada bukti yang mendukung dugaan awal dan kurang menguji kemungkinan yang dapat membantahnya.
Dalam konteks perubahan perilaku setelah keluar dari pondok, seseorang mungkin lebih menerima pandangan yang membenarkan pilihannya dan kurang memperhatikan informasi yang menantang pandangan tersebut. Jika ia merasa tindakannya bertentangan dengan nilai yang masih dipegang, kecenderungan ini berpotensi membuatnya lebih mudah menerima pembenaran tertentu.
Meski demikian, confirmation bias tidak otomatis muncul setiap kali seseorang melakukan sesuatu yang berbeda dari kebiasaannya. Konsep ini berkaitan dengan cara informasi dipilih dan diproses, bukan semata-mata dengan keputusan untuk menjalani gaya hidup tertentu.
Ketiga konsep tersebut membantu kita melihat sisi yang berbeda dari fenomena yang sama. Self-presentation menjelaskan bagaimana seseorang menampilkan dirinya dalam lingkungan sosial. Disonansi kognitif membantu memahami ketidaknyamanan yang mungkin muncul ketika perilaku bertentangan dengan keyakinan. Sementara itu, Confirmation bias menjelaskan bagaimana seseorang dapat cenderung memproses informasi yang mendukung pandangannya.
Ketiganya bukan proses yang selalu terjadi secara berurutan. Namun, konsep-konsep tersebut dapat menjadi kerangka untuk mengeksplorasi bagaimana seseorang beradaptasi ketika berpindah dari lingkungan yang terstruktur menuju kehidupan dengan kebebasan yang lebih besar.
Maka, persoalannya bukan sekadar apakah seseorang tetap mematuhi aturan setelah meninggalkan pondok. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah ia memahami nilai yang dijalankannya, bagaimana ia mengambil keputusan ketika tidak lagi diawasi, dan apakah ia bersedia mengevaluasi pilihannya sendiri.
Sebab, perubahan lingkungan dapat membuka kesempatan untuk mengenali diri, tetapi proses membangun prinsip pribadi tidak berhenti ketika seseorang keluar dari lingkungan tersebut. Ia tetap perlu belajar memahami alasan di balik pilihannya, mempertimbangkan konsekuensinya, dan menentukan nilai apa yang ingin dipertahankan dalam kehidupannya.
