Konten dari Pengguna

Peringatan Dini Menghadapi Bencana Hidrometeorologi di Banyumas

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari IMAM PAMUNGKAS tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah warga berjalan menerobos banjir di Martubung, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (10/9/2026).  Foto: Yudi Manar/ ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah warga berjalan menerobos banjir di Martubung, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (10/9/2026). Foto: Yudi Manar/ ANTARA FOTO

Dokumen Kajian Risiko Bencana tahun 2025 menyebutkan bahwa Kabupaten Banyumas terdapat 10 potensi bencana seperti : banjir, banjir bandang, gempa bumi, kekeringan, gunung Slamet, tanah longsor, kebakaran hutan dan lahan, likuifaksi, cuaca ekstrim dan wabah penyakit. Kejadian bencana di Kabupaten Banyumas menurut data BPBD sejak Januari-awal September 2016 adalah 332 kejadian bencana, dengan jenis bencana: banjir, cuaca ekstrim, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran hutan & lahan.

Data : BPBD Kab. Banyumas.
zoom-in-whitePerbesar
Data : BPBD Kab. Banyumas.

Kondisi bencana hidrometeorologi di Kabupaten Banyumas masih cukup tinggi, sehingga upaya penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap pra bencana khususnya dalam situasi terdapat potensi terjadinya bencana perlu dilakukan. Langkah-langkah strategis menjadi penting dalam menurunkan risiko bencana, risiko bencana tersebut dapat dikurangi dengan cara menurunkan kerentanan dan menambah kapasitas berupa kesiapsiagaan, peringatan dini, dan mitigasi struktural dan non struktural.

Kegiatan pengurangan risiko bencana melalui pengembangan sistem peringatan dini berbasis masyarakat yang sederhana dan berbahan baku lokal bisa menjadi alternatif untuk dilakukan. Early Warning System (EWS) bencana banjir berbasis kearifan lokal di terapkan di sekitar bendung dengan lebar sungai < 20 m. Perhitungan debit air (Q) diambil dari perhitungan dengan data perhitungan :

Q = Cd x 2/3 x √(2/3) x g x b x H1^1.5

Q = Debit aliran di atas bendung (m³/detik).

Cd = Koefisien debit

g = Percepatan gravitasi (≈ 9,8 m/dt²)

b = Panjang efektif mercu bendung (m).

H₁ = Tinggi energi total di atas mercu (m).

setelah hasil perhitungan Q didapatkan maka untuk menghitung kecepatan air yang melalui bendung dihitung dengan rumus Q = A x V, di mana :

A = rata-rata luas penampang sungai (m²)

V = kecepatan air sungai (m/det)

setelah didapatkan V rata-rata maka bisa diperhitungkan jarak dari bendung ke lokasi terdampak banjir, sehingga akan diperoleh waktu datangnya banjir di lokasi terdampak. Perhitungan sederhana tersebut sebagai dasar penentuan waktu banjir dari titik pengamatan di bendung sampai di lokasi terdampak banjir sebagai peringatan dini banjir yang cukup sederhana dan dapat diterapkan. Akurasi penyampaian informasi data waktu banjir dapat menggunakan bantuan Internet of Things (IoT) yaitu konsep di mana berbagai benda atau perangkat fisik di sekitar kita dilengkapi dengan sensor, perangkat lunak, dan koneksi internet agar dapat saling terhubung dan bertukar data secara otomatis tanpa memerlukan intervensi manusia.

Berikut ini ilustrasi Early Warning System (EWS) bencana banjir berbasis kearifan lokal

sumber : google earth

Perhitungan Q banjir dengan data-data:

Cd = 0.44 (mercu tipe bulat)

g = percepatan gravitasi (≈ 9,8 m/dt²)

b = panjang efektif mercu bendung (9 m).

H₁ = tinggi energi total di atas mercu (1,8 m).

Q = 0,44 x 2/3 x √(2/3) x 9,8 x 9 x 1,8^1.5

Q = 3,82 m3/det

sehingga untuk menghitung kecepatan banjir dan waktu tempuh adalah

Q = A x V

A = luas penampang (m2)

V = kecepatan air (m/det)

A = lebar sungai rata-rata 5 m x tinggi tebing rata-rata 3 m, maka didapat perhitungan :

3,82 m3/det = 15 m2 x v

sehingga v = 0,26 m/det

jika jarak titik pantau di Bendung Julang ke lokasi terdampak bencana sejauh 6.300 m, maka banjir akan menggenangi dengan waktu tempuh 26,74 menit

Kesimpulan dari prakiraan dan pendekatan asumsi perhitungan tersebut maka penerapan penerapan sistem peringatan dini khususnya kejadian bencana banjir dapat diterapkan di sejumlah lokasi khususnya di wilayah Kecamatan Kemranjen dengan titik pantau di Bendung Tipar Sungai Tipar, Bendung Petarangan Sungai Petarangan. Wilayah Kecamatan Sumpiuh penerapannya di Bendung Kalijering Sungai Sumpiuh, Bendung Julang Sungai Angin, Bendung Kedungkancil di Sungai Gumelar.

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi, penerapan peringatan dini banjir sudah seharusnya menggunakan sistem informasi digital agar akurasi dan akuntabilitasnya bisa dipertanggung jawabkan serta tujuan penanggulangan bencana sesuai harapan masyarakat.

Sejalan dengan penelitian Ivander AW, dkk, (2023) dengan judul Monitoring ketinggian air dan curah hujan dalam Early Warning System Bencana Banjir Berbasis IoT "Konsep inilah yang disebut Early Warning System (EWS). IoT dapat membantu pemantauan dan peringatan banjir secara langsung dan terus menerus. IoT juga dapat memantau ketinggian udara dari jarak jauh. Penelitian protokol MQTT juga menggunakan sensor ketinggian air dan curah hujan sebagai data untuk deteksi banjir. Sistem ini akan mendeteksi ketinggian air dan curah hujan secara real time."