Pertamina soal Pembatasan Pertalite di SPBU Jogja: Untuk Jaga Kuota

Sejumlah SPBU di Yogyakarta dilaporkan membatasi pembelian pertalite kepada pengendara. Pembatasan ini disebut sebagai inisiatif masing-masing SPBU untuk mengantisipasi konsumsi Pertalite yang terus meningkat dan mencegah realisasi penyaluran melampaui kuota hingga akhir tahun.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jateng-DIY, Taufiq Kurniawan, mengatakan kuota BBM bersubsidi melekat pada masing-masing SPBU. Karena itu, SPBU perlu menjaga penyaluran agar realisasinya tidak melebihi kuota yang telah ditetapkan.
“SPBU itu bermaksud baik karena kuota BBM itu melekat di masing-masing SPBU,” kata Taufiq dihubungi Pandangan Jogja, Selasa (1/9).
“Nah ketika melekat di masing-masing SPBU, maka setiap SPBU itu berkewajiban untuk menjaga kuotanya agar tidak jebol sampai dengan akhir tahun melebihi realisasi versus kuotanya,” sambungnya.
Menurut Taufiq, konsumsi Pertalite di DIY saat ini mengalami peningkatan sekitar 6–7 persen setiap bulan. Kenaikan tersebut tercatat sejak Mei hingga Juli 2026.
Taufiq menyebut langkah pembatasan pembelian merupakan salah satu cara yang dilakukan SPBU untuk mengamankan kuota. Menurutnya, bentuk upaya yang dilakukan dapat berbeda-beda di setiap wilayah maupun SPBU dan dinilai dapat membantu mengurangi antrean, terutama jika terdapat konsumen yang membeli BBM secara berulang untuk kemudian dijual kembali.
“Jadi itu merupakan inisiatif murni dari SPBU, harus kita sambut baik ya,” ujarnya.
Menurut dia, pembelian berulang berpotensi membuat konsumen yang menggunakan BBM untuk kebutuhan sehari-hari harus mengantre lebih lama. Terlebih, kapasitas tangki sepeda motor pada umumnya hanya sekitar 4–5 liter.
Di sisi lain, Pertamina memastikan ketersediaan Pertalite di DIY masih aman. Ia menjelaskan realisasi penyaluran Pertalite di DIY berada di kisaran 45 ribu hingga 48 ribu kiloliter per bulan.
