Konten dari Pengguna

Pesan dari Gontor

Andri Saleh

Andri Salehverified-green

ASN, Praktisi Komunikasi dan Kehumasan

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andri Saleh tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Momen Solat Id di Ponpes Gontor Ponorogo, Jumat (20/3). Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Momen Solat Id di Ponpes Gontor Ponorogo, Jumat (20/3). Foto: Dok. Istimewa

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, di pertengahan 2023 yang lalu. Bukan sebagai santri, saya datang sebagai seorang ayah yang mengantar anak sulung untuk memulai perjalanan pendidikannya di sebuah pesantren yang namanya sudah lama saya kenal itu. Ada perasaan campur aduk sebetulnya. Bangga, tentu saja. Tapi ada juga rasa khawatir. Bagaimanapun, saya sedang mengantar seorang anak untuk hidup jauh dari rumah, belajar mandiri, dan menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari kesehariannya selama ini.

Namun, belum sempat saya mengenal lebih jauh seperti apa kehidupan di dalam pondok, sebuah kalimat sudah lebih dahulu menyambut saya tepat di pintu gerbang masuk. Tulisan “Ke Gontor, Apa yang Kau Cari?” terpampang besar di depan mata. Saya terdiam sejenak. Pertanyaan itu sederhana, tetapi tidak sederhana untuk dijawab.

Saya kemudian menyadari, mungkin inilah salah satu cara Gontor berkomunikasi. Ia tidak selalu menyambut orang dengan penjelasan panjang. Kadang-kadang, cukup dengan sebuah kalimat pendek yang membuat seseorang berhenti, berpikir, lalu bertanya kepada dirinya sendiri.

Dan pertanyaan itu ternyata tidak berhenti di pintu masuk. Saat menjalani proses registrasi dan penyelesaian administrasi, saya kembali menemukan berbagai tulisan dan slogan di berbagai sudut ruangan. Kalimat-kalimat pendek, tetapi terasa padat dengan pesan. Ada yang berbicara tentang ilmu, perjuangan, keikhlasan, kedisiplinan, pengabdian, hingga kehidupan. Bagi saya yang telah mengenyam pendidikan di bidang komunikasi, tulisan-tulisan itu bukan hanya sekadar dekorasi. Tulisan-tulisan itu adalah bagian dari cara Gontor mendidik santri-santrinya.

Hari itu juga saya mulai berpikir. Mungkin para santri tidak hanya dididik melalui apa yang disampaikan ustaz di dalam kelas, tapi juga dididik oleh apa yang setiap hari dilihatnya. Dididik oleh kata-kata dan simbol yang terus berulang dibaca, kebiasaan yang terus dilakukan, dan suasana yang terus dialaminya. Dengan kata lain, Gontor tidak hanya mengajarkan sesuatu kepada santri. Gontor terus-menerus “berbicara” kepada santrinya.

Pesan yang Penuh Keberanian

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan sambutan pada puncak resepsi kesyukuran 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Foto: Destyan Sujarwoko/ANTARA FOTO

Pemikiran itu kembali muncul ketika Gontor menjadi perhatian publik setelah Presiden Prabowo Subianto menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo beberapa hari yang lalu. Lebih dari 8.000 tamu undangan menghadiri acara tersebut, mulai dari unsur pimpinan lembaga negara, menteri, duta besar, pimpinan TNI dan Polri, kepala daerah, ulama, akademisi, alumni, hingga keluarga besar Gontor.

Namun, di tengah acara sebesar itu, salah satu momen yang kemudian banyak diperbincangkan justru adalah cara Pimpinan Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, menyampaikan sambutannya. Presiden Prabowo bahkan secara khusus menyinggungnya. Beliau menyebut sambutan Kiai Hasan sebagai sambutan yang “sangat modern” dan “sangat efisien”, terutama karena tidak menggunakan rangkaian sapaan formal yang panjang.

Menurut saya, ini menarik. Ketika hampir semua acara kenegaraan memiliki tata cara yang sangat formal, Gontor hadir dengan caranya sendiri. Bukan dengan pidato yang bertele-tele. Bukan dengan daftar panjang sapaan kehormatan. Bahkan dalam pemberitaan mengenai acara tersebut, pidato Kiai Hasan menjadi salah satu bagian yang paling banyak diperbincangkan. Beliau dinilai “berani” menyampaikan kritik kepada pemerintah secara langsung di hadapan ribuan tamu undangan. Mengapa bisa?

Dalam model komunikasi David K. Berlo, komunikator membawa serta pengetahuan, sikap, sistem sosial, dan budaya yang membentuk dirinya ketika mengonstruksi sebuah pesan. Dalam konteks ini, keberanian Kiai Hasan menyampaikan pandangan secara lugas di hadapan Presiden mungkin tidak dapat dilepaskan dari posisi Gontor yang selama ini menekankan kemandirian dan tidak menempatkan dirinya sebagai bagian dari struktur pemerintahan. Posisi yang relatif independen itu dapat memberi ruang bagi seorang komunikator untuk berbicara dengan cara yang berbeda.

Bahkan ketika bersalaman dengan Presiden, gestur Kiai Hasan yang tidak menunjukkan sikap menunduk secara berlebihan juga menarik untuk dibaca sebagai komunikasi nonverbal. Dalam perspektif Erving Goffman, gestur dan perilaku dalam interaksi sosial dapat merepresentasikan bagaimana seseorang menempatkan dirinya dalam relasi dengan orang lain. Tentu, kita tidak dapat mengetahui secara pasti maksud di balik sebuah gestur. Namun secara simbolik, sikap tubuh tersebut dapat dibaca sebagai pesan bahwa menghormati seseorang tidak selalu berarti menempatkan diri lebih rendah darinya.

Ke Gontor, Apa yang Kau Cari?

Presiden Prabowo usai acara Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, Sabtu (19/9/2026). Foto: Youtube/Sekretariat Presiden

Kemudian saya kembali kepada kalimat yang pertama kali saya lihat ketika mengantar anak saya: “Ke Gontor, Apa yang Kau Cari?”. Dalam perspektif komunikasi, kalimat ini menarik justru karena bukan berupa pernyataan, tapi pertanyaan. Pertanyaan yang memaksa kita melakukan percakapan dengan diri sendiri. Inilah yang dalam ilmu komunikasi dikenal sebagai komunikasi intrapersonal: komunikasi yang berlangsung di dalam diri seseorang.

Ketika membaca kalimat tersebut, saya tidak sedang berbicara dengan siapa pun. Tetapi saya mulai berbicara dengan diri sendiri. Apa yang saya cari? Apa yang ingin saya dapatkan dari pendidikan ini? Apakah hanya nilai akademik? Apakah hanya ijazah? Ataukah ada sesuatu yang lebih besar?

Mungkin itu pula yang membuat peristiwa di panggung Gontor beberapa hari lalu terasa unik. Di hadapan Presiden Republik Indonesia, Gontor tidak sekadar menyampaikan sebuah sambutan, tapi justru sedang memberikan pertanyaan: “Ke Gontor, Apa yang Kau Cari?”