Petualangan Usia Senja Menuju Kebahagiaan Sejati

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di usia 56 tahun, Pak Syarif cuma pengen asyik. Karena rezeki sudah ditulis, umur sudah ditetapkan. Usia senja yang asyik nggak usah berisik apalagi mengusik. Ia hanya ingin menikmati hari tua. Anak sudah besar-besar, sudah saatnya menikmati apa yang dimiliki.
Setelah puluhan tahun bekerja dan sibuk mengejar berbagai target hidup, hari ini ia mengemas ransel sederhana lalu berangkat menjelajahi daerah perbukitan di Sukamakmur Kab. Bogor. Ditemani istrinya dan berkendara motor menikmati perjalanandemi perjalanan. Diselingi udara sejuk dan hembusan angin. Ia berjalan perlahan menyusuri jalur setapak, gemericik air sungai, dan semilir angin yang menari di antara pepohonan. Setelah sekian lama, Pak Syarif dan istri merasa benar-benar hadir di setiap momen.
Perjalanan itu membawanya ke sebuah situ Rawagede yang berada di 1.072 mdpl dan dikelilingi perbukitan. Di sana, Pak Syarif bertemu banyak orang dengan latar belakang berbeda, mulai dari petualang, pekemah, riders, hingga pedagang lokal yang juga mencari ketenangan. Dari setiap percakapan, ia belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari harta atau jabatan, melainkan dari rasa syukur dan kemampuan menikmati hal-hal sederhana yang sering terlewatkan dalam kesibukan hidup. Pak syarif pun menyewa sebuah tenda dan kemping di pinggir Situ Rawa Gede malam itu.
Esok paginya, Pak Syarif dan istri segera bergegas. Menuju titik pendakian Gunung Luhur yang lagi viral dan banyak dikunjungi petualang dari berbagai tempat. Di daerah ketinggian 1.750 mdpl, ia menyaksikan suasana pendakian gunung yang ramai sekali. Untuk mendekati alam dan menikmati hamparan bunga yang indah sambil menyaksikan matahari terbit. Pak Syarif duduk diam sambil mengenang perjalanan hidupnya. Ia menyadari bahwa setiap tantangan, kegagalan, dan keberhasilan yang pernah dialami telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Di tengah keheningan alam, ia menemukan kedamaian yang sejati. Makin memahami tentang manusia, dari mana berasal dan mau ke mana akan pergi?
Setelah turun dari pendakian, istirahat sejenak di Rest Area 99 sambil menikmati secangkir kopi. Memandangi panorama indah di Sukamakmur, ditemani cemilan bakwan. Jelang siang, Bersiap motoran lagi untuk mengunjungi beberapa lokasi. Mulai ke Desa Sirnajaya, Warung De Padee, Desa Sukamulya di pendakian Datar Buluh dan berujung di Hanjawong Villas sambil menengok tanah kavling tempatnya menikmati hari tua. Perjalanan menyusuri hutan pinus, melewati jalan berbatu hingga jembatan sungai terasa indah dan penuh kenangan. Tanpa terburu-buru, Pak Syarif sekaligus belajar menghargai waktu sebagai anugerah yang berharga. Ia tidak lagi memikirkan apa yang belum dimiliki, melainkan mensyukuri apa yang telah ada. Alam mengajarkannya bahwa segala sesuatu memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh, berkembang, dan beristirahat.
Sambil menikmati perjalanan kembali ke Jakarta setelah maghrib, Pak Syarif pulang dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih. Ia memahami bahwa usia senja bukanlah akhir dari petualangan, melainkan kesempatan untuk menikmati hidup dengan cara yang lebih bermakna. Uisa senja yang asyik tanpa berisik tanpa mengusik orang lain. Sebuah pesan moral bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak yang kita kumpulkan sepanjang hidup, tetapi pada kemampuan untuk mensyukuri perjalanan, menjaga keseimbangan batin, dan menikmati setiap momen yang diberikan kehidupan. Salam usia senja! #YukSiapkanPensiun #DanaPensiun #PakSyarifPensiunan
