Pilu Bocah Down Syndrome yang Meninggal Diduga Dibully Tetangganya

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perundungan (dibully) atau bullying. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perundungan (dibully) atau bullying. Foto: Shutterstock

Nasib tragis menimpa Z, bocah berusia 10 tahun penderita down syndrome asal Kecamatan Rungkut, Surabaya. Ia meninggal dunia diduga menjadi korban bully yang dilakukan oleh dua anak di sekitar rumahnya pada Senin, 12 September 2026 lalu.

Ayah korban, Selaras Abdul Wahid (53), menceritakan pagi itu, sekitar pukul 07.30 WIB, istrinya yang bernama Nurul Fadilah berpamitan pergi ke pasar untuk berjualan susu sari kedelai.

Sebelum berangkat, Selaras sempat menyampaikan kondisi tubuhnya yang sedang tidak baik kepada sang istri. Ia baru saja menjalani operasi kencing batu sebulan sebelumnya dan merasakan sakit yang hebat pada bagian perut serta punggung.

Usai meminum obat jantung dan obat pereda nyeri (ibuprofen), Selaras tertidur pulas di dalam kamar. Sementara itu, Z seperti biasa ditaruh di atas kursi roda di teras depan rumah.

"Setelah minum ibuprofen, saya itu tertidur pulas. Mulai jam 07.30 WIB itu sampai istri saya datang jam 09.20 WIB," kata Selaras saat ditemui di rumahnya, Sabtu (17/10).

Selaras Abdul Wahid (53), ayah Z (10), bocah dengan Down syndrome yang meninggal dan diduga menjadi korban perundungan, saat ditemui di rumahnya di Rungkut, Surabaya, Sabtu (17/10/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Ketenangan pagi itu mendadak pecah ketika sang istri pulang dari pasar. Istri Selaras tiba-tiba histeris melihat kondisi putranya.

"Istri saya datang jam 09.20 WIB teriak-teriak, 'Bi, anake wis biru, anake wis biru'. Anaknya sudah biru," ucapnya.

Mendengar teriakan sang istri, Selaras yang kaget langsung bergegas ke depan rumah dan mengambil putranya dari pangkuan sang istri. Betapa terkejutnya ia saat mendapati leher sang anak terjerat tali sepatu.

"Saya ambil anak saya dari pangkuan istri saya, ternyata ada jeratan tali sepatu di lehernya. Saya kendurin," ujarnya.

Korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Eka Chandra Rini. Namun, nyawa bocah malang tersebut tidak tertolong dan dinyatakan telah meninggal dunia.

"Karena meninggalnya janggal, banyak polisi, terus akhirnya polisi sudah mengantongi CCTV. Terus akhirnya karena ini pembunuhan, akhirnya polrestabes yang tangani kasusnya. Habis gitu, anak saya dibawa ke polda untuk diautopsi," kata dia.

Rekaman CCTV

Selaras Abdul Wahid (53), ayah Z (10), bocah dengan Down syndrome yang meninggal dan diduga menjadi korban perundungan, saat ditemui di rumahnya di Rungkut, Surabaya, Sabtu (17/10/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Dari rekaman CCTV, kata Selaras, terlihat dua anak terpantau datang ke rumahnya pukul 08.15 WIB dan keluar pukul 08.32 WIB. Selang beberapa menit kemudian, tepatnya pukul 08.37 WIB, salah satu anak kembali masuk ke area rumah selama sekitar 10 menit sebelum akhirnya meninggalkan lokasi.

"Jadi anak saya itu sudah dijerat lehernya dengan tali sepatu, masih juga dijejeli sabun colek, habis gitu ditaburi daun lamtoro mayat anak saya itu. Sama dua anak itu," ungkap dia.

Selaras juga mengatakan, seminggu sebelum insiden ini terjadi, ia sempat memergoki sebuah tali tambang terkalung di leher anaknya di tempat yang sama.

"Anak saya itu sudah ada tamparnya (sejenis tali tambang) di kalungkan di lehernya sini, sekitar 1 meteran lah tebalnya satu jari gini tampar itu. 'Lho, Nak, kamu dapat tampar dari mana?' Tapi ya anak saya itu enggak bisa ngomong, ya enggak bisa merespons. Ya sudah, ya saya ambil lagi," ujarnya.

"Anak saya itu down syndrome, penyakitnya down syndrome, jantung bocor, terus katarak, enggak bisa berdiri, enggak bisa ngomong, enggak bisa melihat, ya cuma di kursi roda aja anak saya. Jadi kalau diajak ngomong enggak nyawang orangnya, asik sendiri," imbuh dia.

Harapan Keluarga

Selaras Abdul Wahid (53), ayah Z (10), bocah dengan Down syndrome yang meninggal dan diduga menjadi korban perundungan, saat ditemui di rumahnya di Rungkut, Surabaya, Sabtu (17/10/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Selaras menaruh harapan besar pada proses hukum dan penanganan para pelaku. Ia menyadari usia para terduga pelaku yang masih sangat muda, sehingga ia tak menuntut hukuman penjara, melainkan pembinaan.

"Harapan saya mohon keadilan. Saya enggak ingin anak itu dihukum, saya ingin kedua anak itu dibina oleh lembaga negara untuk dijadikan manusia yang bermanfaat," ujar Selaras.

Bagi Selaras dan istrinya, Z adalah anak kesayangan yang dibesarkan dengan penuh pengorbanan.

Karenanya, Selaras memohon agar pemerintah dan aparat penegak hukum memberikan perhatian serius.

"Sebelum dia (pelaku) mengerti mana yang baik, mana yang buruk, mana yang hak, mana yang batil, tolong jangan dilepaskan lagi ke masyarakat. Kalau cuma dibina 6 bulan, enggak bisa, saya enggak percaya," ucapnya.

"Mana keadilannya untuk saya kalau anak ini tidak dibina dan dijadikan manusia yang bermanfaat? Pengin saya itu saja, ingin dibina kedua anak itu sampai dia dewasa menjadi orang yang bisa bermanfaat untuk orang lain," lanjut dia.

Kata Pemkot Surabaya

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-P2KB) Kota Surabaya, Ida Widayati, Kamis (9/4/2026). Foto: Muthia Firdaus/kumparan

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya merespons terkait kasus tersebut. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya, Ida Widayati, mengatakan bahwa dua pelaku saat ini telah dikembalikan kepada orang tua masing-masing uaai menjalani pembinaan.

"Karena masih anak-anak jadi masih dikembalikan dalam pengawasan orang tua," kata Ida kepada kumparan.

Ida menyampaikan bahwa pihaknya juga telah melakukan pendampingan terhadap para orang tua baik pelaku maupun korban terkait kasus tersebut.

"Akan tetapi kami sudah melakukan pendampingan baik keluarga korban (ortu) dan anak-anak pelaku. Proses hukum di Polrestabes juga sudah berjalan," ucapnya.

Saat ditanya terkait upaya pencegahan bullying anak, Ida mengungkapkan bahwa Pemkot Surabaya telah membuat sejumlah program di lingkungan sekolah maupun di masyarakat.

"Kami sudah melakukan upaya-upaya pencegahan baik di lingkungan masyarakat melalui puspaga (pusat pembelajaran keluarga) maupun ke sekolah melalui kegiatan dinamika sekolah arek Suroboyo," ungkapnya.