Pilu KM Virgo 8 Terbalik di Laut Jawa: 6 Meninggal, 140 Masih Dicari

Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengalami kondisi darurat di Laut Jawa pada Minggu (13/9).
Kapal yang membawa ratusan penumpang dan awak itu dilaporkan terbalik setelah menghadapi cuaca buruk.
Operasi pencarian dan evakuasi langsung dilakukan. Sejumlah kapal yang berada di sekitar lokasi turut membantu menyelamatkan korban. Hingga Minggu malam, sebanyak 107 orang telah dievakuasi. Enam di antaranya meninggal dunia dan satu orang mengalami luka berat. Sementara itu, pencarian terhadap korban lainnya masih berlangsung.
Virgo Hadapi Cuaca Buruk sebelum Terbalik
KMP Virgo Transport 8 berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin pada Minggu (13/9). Kapal tersebut dilaporkan membawa 243 penumpang dan awak kapal.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan kondisi darurat bermula ketika kapal menghadapi cuaca buruk. Awak kapal sempat menyampaikan kondisi tersebut kepada pihak perusahaan.
“Pada saat kapal mengalami kondisi menghadapi cuaca buruk, dari awak kapal sudah menyampaikan kepada perusahaan bahwa kapal mengalami atau menghadapi cuaca yang tidak baik,” kata Syafii kepada wartawan, Minggu (13/9).
Beberapa jam kemudian, kondisi kapal berubah. Titik pusat gravitasi kapal disebut mengalami perubahan hingga menyebabkan kapal miring. Awak kapal kemudian menyiarkan permintaan bantuan dan mengaktifkan Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB).
“Beberapa jam berikutnya dilaporkan bahwa kondisi kapal mengalami perubahan center of gravity atau ada kemiringan dari pihak kapal, dan pada saat itu disiarkan (broadcast) bahwa kapal membutuhkan bantuan,” ujarnya.
Laporan hilang kontak diterima Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin setelah komunikasi kapal terputus sekitar pukul 02.00 WITA. Lokasi kapal diketahui berada di perairan Laut Jawa.
Informasi awal mengenai insiden tersebut kemudian disebarkan kepada pengguna lalu lintas laut di sekitar lokasi agar kapal-kapal yang berada di kawasan tersebut dapat membantu proses pencarian dan evakuasi.
Kapal Ditemukan dalam Kondisi Terbalik
Tim SAR menemukan posisi KMP Virgo Transport 8 di Laut Jawa. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebut kapal tersebut ditemukan dalam kondisi terbalik, tetapi belum tenggelam.
Kapal berada sekitar enam jam perjalanan dari Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Saat ditemukan, keberadaan seluruh penumpang di dalam kapal belum dapat dipastikan.
“Namun, untuk keberadaan sisa penumpang, kita belum dapat memastikan apakah di dalam kapal Virgo itu masih ada korban di dalamnya,” kata Dudy.
Dalam perkembangan berikutnya, sejumlah penumpang ditemukan terombang-ambing di laut dan dievakuasi oleh kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi.
Kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan dalam operasi pencarian. Tinggi gelombang di sekitar lokasi dilaporkan mencapai 2 hingga 2,5 meter.
107 Orang Dievakuasi, 6 Meninggal Dunia
Hingga Minggu malam, jumlah korban yang telah dievakuasi mencapai 107 orang. Dari jumlah tersebut, enam orang meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka berat.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii merinci proses evakuasi yang dilakukan sejumlah kapal.
“Yang pertama, kapal TB Mauhau 9. Informasi sementara telah mengevakuasi 16 korban: 14 korban selamat, satu cedera berat, dan satu dalam kondisi meninggal dunia,” kata Syafi, Minggu (13/9).
Kemudian, TB TCP mengevakuasi enam korban. Satu orang selamat, sementara lima lainnya meninggal dunia.
Sementara itu, MV Haida mengevakuasi 69 orang dalam kondisi selamat. KM Cahaya Bahari membawa 22 korban yang seluruhnya selamat.
“Beberapa kapal sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan yang ada di Banjarmasin ini, dan diperkirakan kapal pertama adalah MV Haida membawa 69 orang, insyaallah mudah-mudahan dalam 1 jam ke depan sudah bisa sandar,” ujarnya.
Operasi SAR masih dilanjutkan untuk mencari korban yang belum ditemukan.
“Sehingga kita semuanya berharap mudah-mudahan operasi yang kita laksanakan ini bisa segera untuk bisa mengevakuasi seluruh korban yang dilaporkan terlibat atau terkena dalam musibah tersebut,” tuturnya.
Kapal Pertamina Selamatkan 16 Orang
Salah satu kapal yang ikut dalam proses penyelamatan adalah kapal tanker MT Mauhau milik PT Pertamina Patra Niaga. Kapal tersebut sedang berlayar dari Banjarmasin menuju Tuban ketika menerima informasi mengenai kecelakaan KMP Virgo melalui radio VHF.
Nakhoda dan awak MT Mauhau kemudian mengubah arah untuk menuju lokasi kejadian. Sebanyak 16 orang berhasil dievakuasi ke kapal tersebut, termasuk nakhoda KMP Virgo.
Salah satu korban mengalami luka pada bagian kaki dan mendapatkan penanganan dari awak MT Mauhau.
VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora mengatakan penyelamatan tersebut merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap keselamatan.
“Begitu menerima informasi adanya kapal yang tenggelam, Nakhoda dan crew MT Mauhau segera mengambil langkah untuk membantu proses penyelamatan. Keselamatan jiwa menjadi prioritas utama, dan kami bersyukur hingga saat ini 16 korban telah berhasil dievakuasi ke atas kapal,” ujar Kitty, dalam keterangan resmi, Minggu (13/9).
MT Mauhau kemudian berkoordinasi dengan Basarnas Banjarmasin untuk melanjutkan proses pencarian dan evakuasi. Sejumlah kapal lain, termasuk TB TCP 205 dan KMP Haidar, juga ikut membantu.
“Kami terus berkoordinasi dengan Basarnas dan seluruh pihak yang terlibat. Fokus kami saat ini adalah memastikan para korban yang telah dievakuasi mendapatkan penanganan dengan baik dan mendukung proses pencarian terhadap korban lainnya,” tutur Kitty.
Nelayan Ikut Bahu Membahu Evakuasi Korban
Selain unsur SAR dan kapal-kapal komersial, nelayan di sekitar lokasi juga ikut membantu proses penyelamatan.
Kapal-kapal nelayan terlihat bahu-membahu mengevakuasi korban yang terombang-ambing di tengah laut setelah KMP Virgo terbalik.
Upaya penyelamatan dilakukan bersamaan dengan pengerahan kapal Basarnas, TNI AL, Polri, KSOP, serta unsur terkait lainnya.
Dari sisi udara, helikopter Basarnas juga dikerahkan untuk mendukung pencarian. Sejumlah kapal Basarnas dari Banjarmasin, Surabaya, dan Makassar bergerak menuju lokasi. Empat KRI TNI AL juga dilaporkan mendekati lokasi kejadian.
Polri Siapkan 6 Posko DVI
Di tengah proses pencarian, Polri menyiapkan enam posko Disaster Victim Identification (DVI) untuk mendukung identifikasi korban.
Posko tersebut tersebar di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, dengan fungsi untuk proses identifikasi antemortem maupun postmortem.
Enam posko tersebut berada di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Sumenep, RS Bhayangkara Surabaya, RS Bhayangkara Banjarmasin, RSUD Ulin Banjarmasin, serta Pelabuhan Trisakti.
“Polri tidak hanya memperkuat pencarian dan evakuasi, tetapi juga menyiapkan seluruh dukungan yang diperlukan, termasuk DVI, kesehatan, posko pelayanan, dan jalur komunikasi bagi keluarga. Semua dilakukan untuk memastikan penanganan korban berjalan secara profesional, akurat, dan manusiawi,” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko dalam keterangannya, Minggu (13/9).
Polri juga mengerahkan tiga Kapal Polisi untuk memperkuat pencarian. Ketiganya yakni KP Laksmana-7012, KP Ibis-6001, dan KP Manyar-5003.
Selain itu, operasi SAR diperkuat KN Laksamana milik Basarnas, KNP 382 milik KSOP, KM Hai Da, KM Niki Mila Utama, TB TCP, TB Mauha IX, serta KM Cahaya Bahati Jaya. Dua helikopter dari Polda Kalteng dan Basarnas Surabaya turut dikerahkan.
“Polri memberikan dukungan penuh dalam operasi SAR KM Virgo Transport 8. Prioritas utama saat ini adalah pencarian, penyelamatan, dan evakuasi seluruh penumpang maupun awak kapal yang masih dalam proses pencarian. Polri bersama Basarnas, TNI AL, KSOP, pemerintah daerah, dan seluruh unsur terkait terus bergerak secara terpadu untuk mempercepat proses pencarian di lokasi,” ujar Trunoyudo.
Kesaksian Penumpang: Bertahan di Kapal yang Terbalik
Salah satu penumpang yang berhasil selamat, Rinto Arahab, menceritakan detik-detik KMP Virgo mulai mengalami masalah hingga akhirnya terbalik.
Rinto mengatakan kejadian berlangsung sekitar lima jam setelah kapal berangkat dari Tanjung Perak, Surabaya. Sekitar pukul 02.00 dini hari, ia mendengar suara seperti besi patah sebelum kapal mulai oleng ke kiri.
“Itu kejadiannya sekitar jam 2 dini hari. Itu kapal oleng sebelah kiri,” kata Rinto, Minggu (13/9).
Sekitar dua menit setelah kapal mulai oleng, Rinto keluar untuk mencari pelampung atau life jacket. Ia kemudian bertahan di sisi kapal hingga kapal terbalik.
“Terus saya bertahan di pinggir kapal sampai kapal itu sempat jatuh juga. Jatuh, terus saya naik ke atas kapal terbalik itu,” ujarnya.
Rinto mengatakan kondisi laut ketika itu cukup buruk dengan tinggi gelombang lebih dari 2 meter.
“Ombaknya tinggi, sekitar 2 meter lebih tinggi,” kata Rinto.
Setelah kapal terbalik, Rinto bersama penumpang lainnya terombang-ambing di laut selama sekitar empat jam. Ia kemudian diselamatkan sebuah kapal tugboat pengangkut batu bara yang melintas di sekitar lokasi.
“Empat jam, Pak,” ujarnya saat ditanya berapa lama dirinya terombang-ambing di laut.
Menurut Rinto, ada sekitar 15 orang yang berada bersamanya saat itu. Namun, hanya delapan orang yang kemudian ditemukan dan diselamatkan oleh tugboat tersebut.
“Kami kan 15 orang, tapi yang ditemukan cuma 8 orang, Pak,” katanya.
Rinto mengaku hanya bisa pasrah dan berdoa ketika berada di tengah laut.
“Ya perasaannya campur. Pasrah saja. Saat-saat itu kan sudah pasrah. Minta sama Allah, ya kan, berdoa, mohon keselamatan,” tuturnya.
Ia juga mengalami luka akibat benturan saat proses penyelamatan.
“Luka ini karena benturan,” ujarnya.
Pencarian 140 Orang Masih Berlangsung
Dengan 107 orang telah dievakuasi, operasi SAR masih berlanjut untuk mencari korban lainnya. Berdasarkan pembaruan terbaru, 140 orang masih dinyatakan hilang.
Kepala Basarnas mengatakan seluruh unsur akan terus dikerahkan untuk memperluas pencarian, baik melalui jalur laut maupun udara. Kondisi gelombang dan lokasi kejadian yang membutuhkan waktu tempuh panjang menjadi tantangan bagi tim penyelamat.
“Tidak hanya tiga Kapal Polisi, tetapi juga terdapat kapal-kapal dari unsur lainnya, dukungan dua unit helikopter, personel Basarnas, KSOP, TNI AL, Polairud, serta tim pendukung lainnya. Seluruh kekuatan ini bergerak untuk memperluas area pencarian dan mempercepat proses evakuasi,” kata Syafii.
Hingga Minggu malam, fokus utama tim gabungan adalah menemukan korban yang masih hilang, mengevakuasi mereka yang berhasil ditemukan, serta memastikan korban meninggal dunia dapat diidentifikasi dan ditangani dengan baik.
