Piring yang Kotor

Eks. Imam Besar Masjid NU At-Taqwa, Jepang. Dai Internasional dan pengajar pesantren di Probolinggo asal Temanggung, yang pernah aktif berdakwah di Korea, Taiwan, dan Jepang.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhammad Riza Diponegoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sebuah dapur, selalu ada saat ketika piring berpindah peran tanpa siapa pun menyadarinya.
Pagi tadi ia masih bersih, berkilau di rak, menunggu giliran dipakai. Begitu nasi hangat dituang ke atasnya, lengkap dengan lauk dan sambal yang menggugah, piring itu naik derajat. Ia menjadi pusat perhatian meja makan. Tangan-tangan terulur untuknya. Mata-mata memandanginya dengan lapar yang menyenangkan. Untuk sesaat, piring itu adalah segalanya.
Tapi waktu makan selalu berakhir. Ketika sendok terakhir terangkat, ketika potongan terakhir lenyap ditelan, piring itu berubah wujud di mata yang sama yang tadi memujanya. Ia disebut kotor. Ia disisihkan. Ia menunggu di tepi wastafel, basah oleh sisa minyak dan kuah yang mengering, sementara percakapan di meja terus berjalan tanpa pernah lagi menyebut namanya.
Tidak ada yang berubah dari piring itu sendiri. Yang berubah adalah fungsi yang melekat padanya, dan cara manusia menilai sesuatu berdasarkan fungsi itu, bukan berdasarkan keberadaannya yang sesungguhnya.
Begitulah cermin paling jujur tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lain. Habis manis, sepah dibuang.
Ada masa ketika engkau menjadi orang yang paling dicari di antara banyak nama dalam daftar kontak seseorang. Telepon berdering, dan namamu yang muncul di layar membuat orang lain tersenyum sebelum sempat mengangkatnya. Pesan masuk dengan nada manis, penuh permintaan tolong yang dibungkus pujian. Engkau menjadi tempat singgah keluh kesah, tempat bersandar masalah, tempat menumpahkan beban yang tak sanggup dipikul sendiri oleh orang lain.
Engkau memberi waktu yang semestinya untuk dirimu sendiri. Engkau memberi tenaga yang semestinya untuk memulihkan diri. Engkau memberi telinga, pikiran, bahkan air mata, demi menjaga orang-orang itu tetap berdiri tegak di tengah badai hidup mereka. Dan selama itu pula, engkau dipuji sebagai sosok yang baik hati, yang dapat diandalkan, yang selalu ada.
Namun datanglah hari ketika giliranmu yang roboh. Datanglah masa ketika engkau yang justru perlu dipapah, ketika suaramu yang gemetar mencari telinga yang dahulu begitu setia mendengarkan. Dan di situlah keheningan paling menyakitkan dimulai.
Telepon tidak lagi berdering secepat dulu. Pesan yang dahulu dibalas dalam hitungan menit kini menunggu berjam-jam, kadang berhari-hari, kadang tak pernah dibalas sama sekali. Orang-orang yang dahulu begitu hangat mendadak sibuk dengan urusan lain, dengan alasan lain, dengan kehidupan lain yang seolah jauh lebih mendesak dibanding keberadaanmu yang sedang rapuh.
Mereka tidak pergi dengan suara pintu yang dibanting. Mereka pergi dengan cara yang jauh lebih halus dan karena itu jauh lebih menyakitkan, yaitu dengan perlahan menjauh, seperti air laut yang surut tanpa pernah mengucap selamat tinggal, meninggalkan jejak basah di pasir sebagai satu-satunya bukti bahwa ia pernah ada di sana.
Pada titik itulah seseorang akhirnya memahami sebuah kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik senyum dan pujian. Sebagian orang tidak pernah benar-benar mengenalmu. Mereka hanya mengenal apa yang bisa kau berikan kepada mereka. Mereka memuja air yang mengalir darimu, bukan sumber yang mengalirkannya. Begitu sumber itu kering, begitu pula perhatian mereka ikut mengering, seolah tak pernah ada hubungan apa pun selain transaksi yang dibungkus rapi dengan kata-kata manis.
Jauh sebelum dunia modern mengenal istilah hubungan transaksional, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menunjukkan akar persoalan ini lewat sabda yang ringkas namun menembus dada. Beliau bersabda, "Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah." (Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi).
Sabda ini bukan sekadar anjuran sopan santun. Ia adalah peringatan bahwa rasa syukur kepada Allah dan rasa hormat kepada sesama manusia adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Seseorang yang dengan mudah melupakan jasa orang lain begitu kepentingannya selesai, sesungguhnya sedang menunjukkan retak yang lebih dalam dalam dirinya, retak yang sampai ke akar hubungannya dengan Sang Pencipta. Dan bagi yang pernah dikecewakan dengan cara seperti piring yang dibuang setelah makanan habis, sabda Nabi ini menjadi pengingat bahwa bukan dirinya yang gagal mencintai dengan tulus, melainkan orang lain yang gagal menunaikan kewajiban paling sederhana dalam pergaulan manusia.
Al-Quran pun telah lebih dahulu menggambarkan watak manusia yang mudah lupa setelah kesusahan berlalu. Dalam Surah Az Zumar ayat 49, Allah berfirman bahwa ketika manusia ditimpa bahaya, ia berseru memohon pertolongan kepada Allah, namun begitu nikmat diberikan kepadanya, ia berkata bahwa nikmat itu didapat semata karena ilmu yang ia miliki sendiri. Ayat ini menyingkap pola yang sama persis dengan kisah piring kotor, betapa manusia begitu mudah mengingat kebutuhan saat dalam kesulitan, namun begitu mudah pula melupakan siapa yang dahulu menolongnya begitu kesulitan itu berlalu.
Ini bukan tuduhan kepada seluruh umat manusia. Ini hanya pengamatan jujur tentang bagaimana sebagian hati bekerja, bagaimana sebagian hubungan dibangun di atas fondasi kebutuhan, bukan di atas fondasi penghargaan terhadap keberadaan seseorang sebagai pribadi yang utuh.
Yang menyedihkan, pola ini sering kali baru terlihat setelah terlambat. Selama masih bisa memberi, seseorang jarang mempertanyakan ketulusan orang-orang di sekitarnya. Sebab memberi terasa menyenangkan, terasa bermakna, terasa seperti bukti bahwa hidup ini berguna. Baru ketika kemampuan memberi itu hilang, entah karena sakit, karena kebangkrutan, karena usia, karena kelelahan yang menumpuk bertahun-tahun, baru terlihat siapa yang sungguh-sungguh tinggal dan siapa yang sekadar singgah.
Namun di sinilah letak pilihan yang menentukan arah hidup seseorang selanjutnya.
Sebagian orang yang mengalami kekecewaan semacam ini memilih untuk mengeraskan hati. Mereka berhenti memberi sama sekali, takut dikhianati lagi, takut dimanfaatkan lagi, takut mengulang luka yang sama. Mereka membangun tembok tinggi di sekeliling diri mereka, dan di balik tembok itu mereka merasa aman, meski sesungguhnya mereka juga sendirian.
Tetapi ada jalan lain yang jauh lebih bijaksana, meski jauh lebih sulit ditempuh.
Jalan itu adalah memahami bahwa kekecewaan terhadap sebagian orang bukan alasan untuk berhenti menjadi pribadi yang baik. Memberi tetap mulia, sekalipun tidak semua orang yang menerima pemberian itu pantas mendapatkannya. Kebaikan tidak kehilangan nilainya hanya karena ada yang menyalahgunakannya. Air hujan tetap suci meski jatuh ke comberan.
Yang perlu diubah bukan kebiasaan memberi, melainkan cara memilih kepada siapa kepercayaan diletakkan. Berikan kebaikan kepada siapa saja yang membutuhkan, sebab itu adalah panggilan jiwa yang baik. Namun simpan hati, simpan kerentanan, simpan cerita yang paling dalam, hanya untuk mereka yang telah membuktikan diri tetap tinggal bukan saat engkau penuh, melainkan saat engkau kosong.
Sebab orang yang benar-benar berharga dalam hidup seseorang bukanlah mereka yang datang ketika piring itu penuh dengan hidangan lezat. Mereka adalah orang yang tetap memandang piring itu dengan hormat bahkan setelah makanan di atasnya habis, bahkan ketika yang tersisa hanya remah dan noda kuah yang mengering.
Mereka inilah yang layak disebut keluarga, dalam arti yang sesungguhnya, terlepas dari ada tidaknya ikatan darah di antara mereka. Mereka adalah sahabat sejati, yang mengukur persahabatan bukan dari seberapa banyak yang bisa mereka peroleh, melainkan dari seberapa lama mereka bersedia bertahan.
Hidup ini, pada akhirnya, adalah proses penyaringan yang panjang dan kadang menyakitkan. Setiap kekecewaan yang dialami sesungguhnya sedang membantu menyingkirkan orang yang tidak pantas berada dekat dengan diri seseorang, sekaligus memperjelas siapa saja yang benar-benar layak dipertahankan.
Maka biarlah waktu menjadi penyaring itu. Biarlah ia memilah siapa yang mencintai kehadiranmu dan siapa yang hanya mencintai manfaat darimu. Dan ketika penyaringan itu selesai, ketika hanya tersisa segelintir orang yang benar-benar setia, di situlah seseorang akan menyadari bahwa kesendirian yang sejati justru lebih baik daripada keramaian yang penuh kepalsuan.
Karena pada akhirnya, harga sebuah piring tidak pernah ditentukan oleh seberapa penuh ia pernah terisi. Harga sejatinya ditentukan oleh seberapa setia tangan yang merawatnya, bahkan setelah ia kosong, bahkan setelah ia dianggap tak berguna oleh dunia yang hanya menghargai sesuatu selama sesuatu itu bermanfaat bagi mereka.
