Konten dari Pengguna

PISA 2025 dan Mengapa Kita Harus Membaca?

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maria Goreti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media pemberitaan kembali dipenuhi dengan paparan skor Programme for International Student Assessment (PISA) dalam beberapa hari terakhir. Hasil, data, dan fakta-fakta pun disampaikan dengan berbagai analisis dan sudut pandang untuk perbaikan kualitas pendidikan.

Menurut laporan OECD 2026, penilaian PISA tahun 2025 berfokus pada sains dan juga mengukur seberapa efektif anak berusia 15 tahun dapat menerapkan pengetahuan mereka dalam membaca, matematika, dan pemecahan masalah komputasi.

Tren kinerja dari waktu ke waktu dalam sains, membaca, dan matematika. Sumber: OECD, 2026
zoom-in-whitePerbesar
Tren kinerja dari waktu ke waktu dalam sains, membaca, dan matematika. Sumber: OECD, 2026

Mengejutkan, rata-rata skor PISA 2025 merosot di berbagai aspek, dan kemampuan membaca global menjadi salah satu temuan yang paling memprihatinkan. Rata-rata kinerja membaca menurun secara signifikan pada sekitar tiga perempat sistem pendidikan antara 2018 dan 2025, tepatnya 56 dari 74 sistem pendidikan dengan data yang sebanding.

Hanya sedikit negara yang mampu melawan tren tersebut dan mengalami peningkatan yang signifikan secara statistik, seperti Qatar yang naik 11 poin, Brunei Darussalam 18 poin, Kamboja 26 poin, Filipina 27 poin, dan Zambia 50 poin.

Sementara itu, nilai PISA Indonesia justru menunjukkan perbaikan di dua bidang. Skor sains meningkat 6 poin menjadi 389, sedangkan skor membaca naik 7 poin menjadi 365. Sementara itu, skor matematika terkoreksi tipis 2 poin menjadi 364. Meskipun demikian, OECD menyebut capaian Indonesia pada ketiga bidang tersebut secara umum masih sekitar sama dengan 2022.

Kemahiran dalam sains, matematika dan membaca di antara siswa berusia 15 tahun. Sumber: OECD, 2026, PISA 2025 Results (Volume I) – Country Notes: Indonesia.

Pentingnya Membaca

Penurunan kemampuan membaca menarik untuk dicermati bersama, terutama di tengah perkembangan artificial intelligence (AI) yang mampu menjawab banyak pertanyaan dengan sangat cepat.

Bagikan seorang dukun yang anti mengatakan tidak tahu, AI pun hampir tidak pernah tidak bisa memberikan informasi yang kita butuhkan. Namun, perlu juga pahami bahwa tidak semua yang disampaikan AI benar adanya, terutama jika harus dibaca dalam konteks tertentu.

Karena itulah, seseorang membutuhkan kemampuan membaca yang mendalam, untuk bisa melakukan penilaian secara kritis dan mendalam.

Melalui membaca, seseorang melatih melatih dirinya untuk memahami informasi secara cermat, membandingkan berbagai sumber, mengenali argumentasi, menguji bukti, dan menyusun kesimpulan secara mandiri.

Di sisi lain, neuroscientist Maryanne Wolf dalam bukunya yang berjudul Reader, Come Home: The Reading Brain in a Digital World (2018; 2026) memperingatkan munculnya apa yang disebut sebagai shallow hypothesis atau hipotesis dangkal.

Menurutnya, lingkungan digital yang mendorong scrolling, skimming, dan konsumsi informasi secara cepat dapat mengurangi kebiasaan membaca secara mendalam.

Akibatnya, perhatian lebih mudah terpecah dan proses berpikir yang membutuhkan waktu, konsentrasi, dan refleksi menjadi semakin sulit dilakukan.

Peran Keluarga

Maria Goreti sedang membangun komunikasi dengan siswa sekaligus memotivasi mereka untuk berani berpikir kritis dan gemar membaca. Sumber: Dokumen pribadi.

Di tengah situasi ini, sekolah tentu tidak bisa diberikan beban utama, mengingat mereka tidak dapat bekerja sendirian.Jika membaca ingin menjadi budaya, maka kebiasaannya tidak cukup dibangun di ruang kelas. Membaca pertama-tama adalah budaya yang diperkenalkan dan dicontohkan di rumah.

Anak yang tumbuh dalam keluarga yang terbiasa membaca akan melihat buku bukan sebagai tugas sekolah, melainkan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Ketika orang tua membaca buku atau meluangkan waktu membaca bersama anak, sesungguhnya mereka sedang membangun kebiasaan yang tidak selalu dapat dibentuk melalui program sekolah.

Di sinilah keluarga dapat membantu lembaga pendidikan.

Sekolah mengajarkan keterampilan membaca, tetapi keluarga dapat membantu menjadikan membaca sebagai kebiasaan. Sekolah dapat memberikan tugas membaca, tetapi rumah dapat menyediakan ruang agar anak mengalami membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan dan bermakna.

Karena itu, gerakan literasi tidak seharusnya berhenti di sekolah.

Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu melibatkan keluarga dalam membangun ekosistem membaca. Orang tua tidak harus menjadi pengajar tambahan di rumah. Yang lebih penting adalah menciptakan lingkungan yang memungkinkan anak melihat, mengalami, dan menikmati kegiatan membaca.

Sebab anak tidak akan mencintai membaca hanya karena diperintahkan untuk membaca. Mereka belajar mencintai membaca ketika melihat orang-orang di sekitarnya menjadikan membaca sebagai bagian dari kehidupan.