Planet yang Ditemukan di Ujung Pena (Bagian I)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anatomi Program Riset Lakatos
Berlin, 23 September 1846. Johann Galle, astronom di Observatorium Berlin, menerima sepucuk surat dari Paris. Pengirimnya Urbain Le Verrier, matematikawan Prancis yang belum pernah ia temui. Isinya sederhana. Arahkan teleskop ke titik tertentu di rasi Aquarius. Di sana ada planet yang belum pernah dilihat manusia.
Malam itu juga Galle mengarahkan teleskopnya. Asistennya, Heinrich d’Arrest, mencocokkan setiap bintang dengan peta langit terbaru. Tak lama kemudian d’Arrest berseru. Ada satu titik cahaya yang tidak tercatat di peta.
Itulah Neptunus. Letaknya hanya sekitar satu derajat dari titik yang dihitung Le Verrier. Le Verrier tidak pernah mengintip teleskop untuk mencarinya. Ia menemukannya dengan kertas, tinta, dan hukum Newton.
Bagaimana itu mungkin? Jawabannya membawa kita ke gagasan paling terkenal dari Imre Lakatos.
Teka-teki Uranus
Tahun 1781, William Herschel menemukan Uranus. Para astronom lalu menghitung orbitnya dengan mekanika Newton. Hasilnya meleset. Uranus kadang bergerak lebih cepat, kadang lebih lambat dari perkiraan.
Para ilmuwan menghadapi dua pilihan. Pertama, menyatakan persamaan Newton salah. Kedua, menduga ada benda lain di luar sana yang menarik Uranus.
Mereka memilih yang kedua. Mengapa? Lakatos punya jawaban yang rapi.
Program Riset: Inti Keras dan Sabuk Pelindung
Lakatos mengajak kita mundur selangkah. Yang dinilai jangan teori tunggal. Yang dinilai adalah rangkaian teori yang saling bersambung. Rangkaian ini ia sebut program riset ilmiah.
Setiap program riset punya dua lapis.
Inti keras dan sabuk pelindung bersama-sama membentuk sebuah teori.
Mengapa inti keras boleh dijaga? Lakatos meminjam pelajaran dari Pierre Duhem. Sebuah eksperimen tidak pernah menguji satu hipotesis sendirian. Ia selalu menguji satu paket hipotesis. Jika hasilnya meleset, logika tidak memberi tahu bagian mana yang salah. Ilmuwan harus memilih. Program riset adalah cara memilih yang terarah. (Bersambung)
