PM Spanyol Ungkap Alasan Ribuan Migran Maroko Terobos Perbatasan: Dihasut Mafia

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para migran kembali ke Maroko setelah mereka menyeberangi perbatasan untuk memasuki wilayah Ceuta di Afrika Utara milik Spanyol, Jumat (31/7/2026). Foto: Jorge Guerrero/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Para migran kembali ke Maroko setelah mereka menyeberangi perbatasan untuk memasuki wilayah Ceuta di Afrika Utara milik Spanyol, Jumat (31/7/2026). Foto: Jorge Guerrero/AFP

Gelombang puluhan ribu migran yang nekat menerobos perbatasan Spanyol di Ceuta hingga menewaskan sedikitnya 57 orang menjadi sorotan dunia. Pihak berwenang menduga aksi nekat massal ini dipicu oleh disinformasi dan rumor yang disengaja oleh mafia perdagangan manusia.

Melansir Al Jazeera, Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez, mengungkapkan bahwa lonjakan drastis dalam kurun waktu 24 jam tersebut disebabkan oleh kelompok penyelundup manusia yang menyebarkan penafsiran keliru atas putusan hukum di Spanyol.

"Apa yang muncul dari pembicaraan kami dengan pihak berwenang Maroko adalah bahwa mafia perdagangan manusia telah menggunakan penafsiran mementingkan diri sendiri atas putusan Mahkamah Agung," ujar Sanchez.

Menurut Sánchez, jaringan penyelundup manusia diduga menyebarkan informasi yang menyesatkan di media sosial. Rumor yang beredar menyebut bahwa setelah putusan Mahkamah Agung Spanyol, migran yang berhasil mencapai Ceuta melalui laut tidak bisa lagi langsung dipulangkan ke Maroko.

Pemerintah Spanyol menilai narasi tersebut dimanfaatkan oleh mafia penyelundup untuk meyakinkan ribuan orang agar menyeberang. Sánchez menambahkan, isu liar tersebut menyebar sangat cepat di kalangan migran hanya dalam hitungan jam sebelum aksi penerobosan terjadi.

Meski demikian, sejumlah aktivis kemanusiaan di Maroko meragukan rumor mafia sebagai satu-satunya pemicu utama. Menurut mereka, sebagian besar migran awam tidak memantau keputusan hukum kompleks tersebut.

Seorang pemuda berjalan kembali ke Maroko melewati pagar di samping personel militer Spanyol yang berjaga, di tengah penyeberangan massal migran dengan berjalan kaki dan melalui laut dari Maroko ke wilayah Spanyol, di Ceuta, Jumat (31/7/2026). Foto: Jon Nazca/REUTERS

Uni Eropa Desak Pembongkaran Jaringan Penyelundup

Menanggapi keterlibatan sindikat ini, Kepala Uni Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa jaringan penyelundupan manusia di Afrika Utara harus segera diberantas.

"Penyeberangan berbahaya harus segera dihentikan. Jaringan penyelundupan harus dibongkar, dan proses pengembalian [migran] harus dilakukan dengan cepat sesuai aturan," tegas Von der Leyen.

Sementara itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan ia menyambut baik niat Spanyol untuk tidak mengizinkan migran tanpa dokumen masuk ke daratan Eropa, menambahkan bahwa pemerintahnya sedang berhubungan dengan Spanyol.

Prancis juga sedang berhubungan dengan pihak berwenang Spanyol dan Maroko, kata rombongan Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Paris siap membantu Spanyol jika diperlukan, termasuk melalui badan penjaga perbatasan dan pantai Eropa, Frontex.