Polisi Pastikan Terpal dan Galon Temuan SAR Bukan dari Kapal Wartawan Hilang

Polda Banten memastikan terpal plastik dan galon minuman bermerek Aqua yang ditemukan Tim SAR Gabungan dalam pencarian KM Arupadhatu 1 di perairan Selat Sunda, bukan berasal dari kapal yang ditumpangi rombongan wartawan hilang.
Kepastian itu disampaikan setelah Ditpolairud Polda Banten memeriksa sejumlah barang temuan dan meminta keterangan tambahan dari pemilik kapal serta dua nakhoda pengganti KM Arupadhatu 1 di Polsek Carita, Minggu (13/9).
Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea memastikan dua barang temuan terbaru berupa terpal plastik berwarna biru gelap-silver dan botol galon plastik bertuliskan Aqua dinyatakan bukan milik KM Arupadhatu 1.
“Terpal yang ditemukan memiliki ukuran sekitar panjang 12 meter dan lebar 3,5 meter serta mengeluarkan bau amis ikan. Sementara KM Arupadhatu 1 memiliki panjang 7,52 meter, lebar 2,01 meter dan kedalaman 0,90 meter. Untuk bagian atap penumpang berukuran sekitar dua meter, kapal menggunakan bahan plastik ORCHID berwarna biru, bukan terpal plastik polyester atau PVC,” ujar Maruli dalam keterangan tertulis, Senin (14/9).
Maruli menjelaskan, KM Arupadhatu 1 dan KM Arupadhatu 2 memang memiliki terpal plastik, tetapi digunakan sebagai penutup dua mesin tempel. Terpal tersebut berukuran sekitar 2x2 meter, berwarna biru-oranye bolak-balik, dan bertuliskan “4M A12 ROYAL CROWN TECH BY KOREA + UV”.
Terpal itu tidak dibawa KM Arupadhatu 1 saat berlayar pada Senin (7/9), melainkan disimpan di KM Arupadhatu 2.
Sementara itu, terkait galon, Maruli mengatakan air minum yang biasa tersedia di kapal ketika menginap di laut menggunakan air mineral berkapasitas 15 liter merek Le Minerale.
“Untuk botol galon plastik bertuliskan Aqua, berdasarkan keterangan yang diperoleh, air minum yang biasa tersedia di kapal apabila menginap di laut menggunakan air mineral kapasitas 15 liter merek Le Minerale. Sementara terkait apakah pada pelayaran 7 September 2026 kapal membawa botol galon sebagai tempat penyimpanan air minum, belum dapat dipastikan,” terang Maruli.
Polda Banten juga memeriksa barang-barang lain yang sebelumnya ditemukan Tim SAR, termasuk pelampung dan jeriken. Kata Maruli, berdasarkan keterangan yang diperoleh, perlengkapan keselamatan KM Arupadhatu 1 terdiri dari 10–12 life jacket, tiga busa jok, satu ring buoy bantuan pemerintah provinsi, serta perlengkapan lainnya.
“Untuk jeriken yang tersedia di KM Arupadhatu 1 berkapasitas 30 liter sebanyak dua buah. Sedangkan terpal yang terdapat pada kapal dan digunakan di bagian kanopi buritan berbahan dasar terpal kain. Hal ini menjadi salah satu pembanding dalam mengidentifikasi barang-barang yang ditemukan Tim SAR,” paparnya.
Maruli menambahkan, berdasarkan keterangan nakhoda pengganti, KM Arupadhatu 1 pernah digunakan untuk perjalanan menuju perairan Ujung Kulon maupun Gunung Anak Krakatau. Dalam salah satu perjalanan, kapal membawa tujuh orang yang terdiri dari penumpang, ABK, dan nakhoda, dengan penggunaan BBM sekitar 140 liter di tangki serta satu jeriken cadangan berkapasitas 30 liter.
Keterangan mengenai kapasitas kapal dan perlengkapannya itu menjadi bagian dari proses verifikasi untuk mencocokkan barang-barang yang ditemukan Tim SAR dengan perlengkapan KM Arupadhatu 1.
“Seluruh keterangan tersebut masih menjadi bagian dari proses verifikasi. Kami tidak ingin terburu-buru menyimpulkan setiap barang yang ditemukan memiliki keterkaitan dengan KM Arupadhatu 1 sebelum dilakukan pemeriksaan dan pencocokan secara menyeluruh,” tegasnya.
Sementara itu, pencarian terhadap delapan orang yang berada di KM Arupadhatu 1 masih berlangsung pada hari ketujuh operasi SAR. Dalam pencarian tersebut, Tim SAR Gabungan memperluas area operasi menjadi tujuh sektor di perairan Selat Sunda dengan mengerahkan unsur laut, udara, dan darat.
