Polisi Selidiki Kematian Peserta Karnaval Sound Horeg di Banyuwangi

Polresta Banyuwangi masih menyelidiki kasus kematian warga saat mengikuti karnaval sound horeg di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pesanggaran. Namun, proses investigasi polisi menemui kendala lantaran pihak keluarga menolak diautopsi.
Kapolresta Banyuwangi, Kombes Pol Rofiq Ripto Himawan, menegaskan komitmennya untuk melanjutkan investigasi guna memastikan ada atau tidaknya unsur pidana dalam peristiwa tersebut.
“Saya sudah komit, saya sudah perintahkan bahwa investigasinya berjalan. Kita juga punya komitmen untuk menjaga peradaban itu,” kata Rofiq kepada awak media, Selasa (1/9).
Rofiq menjelaskan, autopsi menjadi langkah krusial bagi kepolisian untuk mendapatkan legitimasi hukum atas penyebab pasti kematian korban.
"Cuma klausul polisi bisa masuk meyakini bahwa ada peristiwa pidana, itulah yang kemudian menjadi legitimasi hukum kita bisa melakukan upaya-upaya yang sifatnya memaksa," ujarnya.
Informasi awal yang diterima polisi menunjukkan kematian diduga dipicu oleh kelelahan atau riwayat penyakit bawaan, seperti masalah jantung. Namun, tanpa autopsi, dugaan tersebut sulit dibuktikan secara medis.
"Sedangkan hampir rata-rata kesannya semuanya dari elemen-elemen ini mengatakan bahwa, 'Oh, itu kecapekan. Oh, itu hal yang wajar', begitu. Karena mungkin sebenarnya punya jantung memaksa untuk ikut.' Nah, ini kan susah," tutur Rofiq.
Ia menyayangkan sikap enggan diautopsi yang berpotensi menghambat penegakan hukum dan evaluasi keselamatan kegiatan masyarakat di masa mendatang.
"Ya bagaimana, polisi ini bisa apa, gitu? Kalau masyarakatnya juga tidak menginginkan untuk dirinya sehat dalam berpikir, dalam bertindak, dalam berkehidupan dengan budayanya sehari-hari. Ya ini PR kita bersama," tegasnya.
Kronologi Kejadian di Pesanggaran
Insiden kematian tersebut menimpa Bonari (48), warga Desa Sumbermulyo, saat mengikuti karnaval budaya sound horeg pada Minggu (23/8) malam. Korban mendadak tumbang saat rombongan mendekati garis finish sekitar pukul 19.00 WIB.
Sebelum meninggal dunia, Bonari sempat mengeluh lemas dan beristirahat di bak mobil pikap. Setelah merasa membaik, ia kembali berjalan melanjutkan kegiatan. Namun tak lama kemudian, kondisinya memburuk disertai keluhan sesak napas dan nyeri dada.
Rekan-rekan korban langsung membawanya ke Puskesmas Pesanggaran, tetapi tim medis menyatakan Bonari telah meninggal dunia sebelum sampai di fasilitas kesehatan.
Polisi Bantah Rumor Miras
Kapolsek Pesanggaran, AKP Agus Hari Widodo, membantah narasi yang beredar di media sosial bahwa korban meninggal akibat mengkonsumsi minuman keras (miras).
"Tidak ada miras. Korban meninggal dunia murni karena kondisi sakit," tegas Agus.
Ia menambahkan, petugas telah melakukan penyisiran (sweeping) sebelum karnaval dimulai untuk mengantisipasi peredaran miras. Kepolisian mengimbau masyarakat agar selalu memperhatikan kondisi fisik dan mengutamakan keselamatan saat mengikuti kegiatan keramaian.
