Potensi Tersembunyi Generasi Strawberry: dari Rapuh Menjadi Tangguh, Bisakah?

Guru BK MAN Kota Palangka Raya Kalteng
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari helmisupriyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

LABEL YANG MENYAKITKAN TAPI MENYADARKAN
"Generasi Strawberry." Julukan ini manis di luar, tapi tajam di dalam. Strawberry indah, merah, menarik. Namun rapuh. Sekali ditekan, memar. Sekali jatuh, hancur.
Stigma ini sering disematkan kepada generasi muda saat ini: dinilai cerdas tetapi cengeng, kreatif tetapi tidak tahan banting, melek digital tetapi miskin mental.
Lantas, apakah memang generasi ini serapuh itu? Atau justru di balik kerapuhan tersebut terdapat potensi tersembunyi yang belum ditempa? Dalam esai ini berpendapat bahwa "Generasi Strawberry" bukanlah vonis. Ia merupakan tantangan. Dan dari tantangan itulah transformasi harus dilakukan: dari rapuh, menjadi tangguh.
AKAR KERAPUHAN (BUKAN MALAS, TAPI BEBAN ZAMAN)
Kerapuhan ini tidak dilahirkan oleh kemalasan. Ia lahir akibat perbedaan beban zaman.
Generasi sebelumnya ditempa oleh tantangan fisik: ditempuhnya jarak jauh ke sekolah, terbatasnya buku, dan sulitnya akses informasi.
Sementara itu, generasi sekarang dihadapkan pada tantangan mental: banjir informasi, tekanan media sosial, persaingan TKA, SNBT, dan dunia kerja global.
Sebagai contoh, ketika terjadi kegagalan dalam Try Out TKA berbasis digital, seringkali dirasakan seolah masa depan runtuh karena skor dapat langsung dibandingkan secara nasional. Ketika diberikan kritik oleh guru di grup kelas, kritik tersebut kerap dianggap sebagai "serangan" bukan "pengarahan." Hal ini bukan disebabkan oleh kelemahan, melainkan karena belum dibekalinya cara mengelola tekanan di era yang serba cepat.
POTENSI TERSEMBUNYI (KERAPUHAN ADALAH KEPEKAAN)
Namun perlu dilihat strawberry dari sisi lain. Memang rapuh, tetapi juga istimewa. Ia hanya dapat tumbuh di tanah tertentu, membutuhkan perawatan detail, dan menghasilkan buah yang luar biasa: manis, sehat, bernilai tinggi.
Generasi saat ini pun demikian. "Kerapuhan" yang disematkan sebenarnya merupakan "kepekaan":
1. Kepekaan terhadap perubahan, Kemampuan adaptasi terhadap teknologi sangat cepat. Bukti nyata: Ketika diperkenalkannya Platform Alef Education untuk Try Out dan pembelajaran digital, platform tersebut langsung dapat digunakan untuk belajar mandiri. Ini menunjukkan kecepatan adaptasi yang tinggi.
2. Kepekaan terhadap isu. Dimilikinya kepedulian terhadap mental health, lingkungan, dan keadilan sosial. Tidak dipilihnya sikap diam. Suara disampaikan melalui kampanye dan komunitas.
3. Kreativitas tanpa batas. Karena luasnya akses informasi, ide-ide yang dihasilkan menjadi tidak terbatas. Dari sinilah lahir konten edukasi TKA di TikTok, bisnis online oleh pelajar, dan solusi digital baru.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bukan generasi yang rusak yang dimiliki. Melainkan generasi yang perlu ditempa dengan cara berbeda.
JALAN TRANSFORMASI (3 KUNCI MENUJU TANGGUH)
Lalu bagaimana proses penempatan tersebut dilakukan? Ada 3 kunci:
Pertama, Penanaman Mindset Merdeka. "Merdeka Belajar" dimaknai sebagai kemerdekaan dari rasa takut gagal. Nilai jelek pada Try Out tidak dimaknai sebagai akhir. Itu dipandang sebagai data untuk diperbaiki. Kritik dari guru tidak dipandang sebagai musuh. Itu dipandang sebagai pupuk untuk bertumbuh.
Kedua, Penguatan Literasi Digital Produktif. HP tidak dijadikan sebagai tempat pelarian. Ia harus dijadikan sebagai kelas. Komentar netizen tidak dijadikan sebagai luka. Ia harus dijadikan sebagai bahan evaluasi. Digital harus difungsikan untuk menjawab, bukan untuk melumpuhkan.
Ketiga, Pembentukan Ekosistem yang Tangguh. Guru tidak hanya dituntut untuk mengajar, tetapi juga untuk mendampingi. Orang tua tidak hanya dituntut untuk melindungi, tetapi juga untuk menantang. Melalui kegiatan Sosialisasi TKA & Pembelajaran Digital telah dimulai proses penempaan: tidak hanya dipersiapkannya soal, tetapi juga mental.
PESAN PENUTUP
Tidak perlu alergi terhadap label "Strawberry." Karena buah yang sama dapat diolah menjadi selai yang awet, jus yang menyegarkan, dan produk ekspor yang dibanggakan. Semua itu tergantung bagaimana prosesnya dilakukan.
Dunia tidak membutuhkan generasi yang keras kepala dan anti kritik. Dunia membutuhkan generasi yang lembut hatinya tetapi kuat mentalnya. Yang dapat menangis saat jatuh, tetapi keesokan harinya dapat bangkit kembali. Yang dapat merasakan tekanan, tetapi
menjadikannya bahan bakar prestasi.
Maka tugas yang harus dilakukan sekarang adalah membuktikan.
Dibuktikan bahwa dari kerapuhan dapat dipelajari kepedulian.
Dari kejatuhan dapat dipelajari kebangkitan.
Dari tekanan dapat dipelajari ketangguhan.
Suatu hari nanti tidak akan diingat sebagai "generasi strawberry yang rapuh." Generasi Strawberry akan diingat sebagai generasi yang berhasil mengubah kerapuhan menjadi kekuatan.
