Pram Bicara Persoalan Sampah di Jakarta: Harus Diselesaikan Bersama-sama

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan persoalan sampah di Jakarta tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Dia mengharapkan keterlibatan banyak pihak untuk ikut mengomunikasikan upaya penanganan sampah secara terbuka dan transparan.
Hal tersebut disampaikan Pramono dalam acara Local Hero Indonesia Forum 2026 dengan mengusung tema "From Campaign to Collaboration: Strengthening Multi-Stakeholder Partnership for Sustainable Waste Management" di Graha Ali Sadikin, Balai Kota DKI Jakarta, Senin (31/8).
Acara tersebut digelar Indonesia Water Institute. Melalui forum tersebut, Indonesia Water Institute menekankan pentingnya keberlanjutan pengelolaan sampah melalui kolaborasi berbagai pihak, setelah sebelumnya mendorong masyarakat melakukan aksi pengelolaan sampah melalui kampanye.
"Karena untuk menyelesaikan persoalan sampah tidak bisa sendirian. Untuk menyelesaikan ini harus bersama-sama," ujar Pramono.
Pramono menambahkan Jakarta menghasilkan sampah lebih dari 9.000 ton setiap hari. Karena itu, Pemprov DKI Jakarta mengubah prinsip penanganan sampah dari sebelumnya "angkut buang" menjadi "pilah, angkut, olah".
"Maka ada perubahan yang sangat signifikan dan prinsip sesuai dengan Ingub Nomor 5 Tahun 2022. Kalau dulu adalah angkut buang, sekarang menjadi pilah, angkut, olah," katanya.
Perubahan tersebut mulai menunjukkan hasil. Jumlah sampah yang masuk ke Bantargebang mengalami penurunan sekitar 500 ton per hari. Sementara itu, sejak gerakan pilah sampah dicanangkan pada 10 Mei 2022, jumlah rumah tangga yang memilah sampah disebut meningkat dari 5,31 persen menjadi 23,14 persen.
"Di Bantargebang sendiri ada penurunan kurang lebih 500 ton per hari. Sejak gerakan pilah sampah dicanangkan pada 10 Mei tahun 2022, rumah tangga yang memilah sampah meningkat dari 5,31% menjadi 23,14%," jelas Pramono.
Menurut Pramono, capaian tersebut menunjukkan pengelolaan sampah Jakarta telah berada di jalur yang tepat. Namun, dia menekankan keberlanjutan dan keseriusan tetap diperlukan agar gerakan tersebut tidak berhenti di tengah jalan.
"Maka dengan demikian apa yang kita lakukan Bapak/Ibu, Saudara-saudara sekalian, menurut saya ini sudah on the right track untuk itu. Tetapi yang tidak kalah penting adalah continuity, keberlanjutan, keseriusan," tegasnya.
Pramono juga meminta penanganan persoalan persampahan di Jakarta dilakukan secara menyeluruh. Berbagai upaya tersebut harus dijalankan secara serius agar memberikan dampak yang lebih luas.
"Saya minta betul dalam persoalan persampahan ini jangan dilakukan setengah-setengah. Kita harus total football dan kalau ini bisa dilakukan maka multiplier effect-nya itu banyak sekali," ungkap Pramono.
Sementara itu, pendiri sekaligus Ketua Indonesia Water Institute, Prof. Dr. Ir. Firdaus Ali, mengatakan kampanye pengelolaan sampah tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah yang terus dihasilkan setiap hari. Menurutnya, aksi yang dilakukan masyarakat di tingkat komunitas perlu dilanjutkan melalui kerja sama yang lebih luas.
"Namun kita juga menyadari bahwa kampanye saja tidak cukup. Sampah terus dihasilkan setiap hari dan membutuhkan pengelolaan yang berjalan secara berkelanjutan. Karena itu melalui forum ini kita membawa tema 'From Campaigns to Collaboration'. Kita ingin melihat bagaimana aksi yang sudah dimulai dari masyarakat di level komunitas dapat dilanjutkan melalui kerja sama yang jauh lebih luas dan lebih masif lagi sehingga bisa mengubah perilaku kita bersama," kata Firdaus dalam sambutannya.
Salah satu upaya yang dilakukan IWS untuk mendorong keterlibatan masyarakat adalah kampanye "Merdeka dari Sampah" melalui "Local Hero Recycle Challenge". Kampanye tersebut mengajak masyarakat memulai aksi pengelolaan sampah dari rumah, termasuk menggunakan kembali dan mendaur ulang barang yang sudah tidak terpakai tetapi masih memiliki nilai ekonomi.
Menurut Firdaus, respons masyarakat terhadap kegiatan tersebut cukup baik. Sebanyak 191 karya dari berbagai daerah di Indonesia ikut dalam kegiatan tersebut dengan peserta yang berasal dari berbagai latar belakang.
"Respons yang kami terima cukup baik Pak Gub, ada 191 karya dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, tidak hanya Jakarta ya. Dengan latar belakang mulai dari pelajar, guru, ibu rumah tangga, komunitas RT dan RW, hingga pelaku usaha kecil. Dari kegiatan ini kita melihat bahwa masyarakat sebenarnya mau bergerak dan melakukan sesuatu untuk lingkungan kita," kata dia.
Firdaus menilai perubahan perilaku dalam mengelola sampah perlu dimulai dari sumbernya. Sampah yang tidak dipilah dan dikelola dengan baik dapat masuk ke badan air, sungai, waduk, hingga akhirnya bermuara di laut.
Karena itu, dia mengatakan pengelolaan sampah dan perlindungan kualitas air merupakan dua hal yang saling berkaitan dan sama-sama membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
"Karena itu pengelolaan sampah dan perlindungan kualitas air tidak bisa dipisahkan. Keduanya membutuhkan perubahan dari hulu atau dari sumbernya dan membutuhkan kolaborasi kita bersama," jelas Firdaus.
