Pram Targetkan Residu Sampah DKI Turun di Bawah 20% Lewat Gerakan Pilah Sampah

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pengurus Bank Sampah Teman Pilah dibantu petugas PPSU membawa sampah yang telah ditimbang di Kantor RW 05 Kelurahan Bukit Duri, Jakarta, Selasa (12/4). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pengurus Bank Sampah Teman Pilah dibantu petugas PPSU membawa sampah yang telah ditimbang di Kantor RW 05 Kelurahan Bukit Duri, Jakarta, Selasa (12/4). Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan residu sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dapat ditekan hingga di bawah 20 persen melalui Gerakan Pilah Sampah.

“Saya meyakini bahwa gerakan ini bukan hanya sekadar mendapatkan rekor MURI. Yang lebih penting di lapangannya. Kalau kemudian residu yang diangkut ke tempat sampah itu kurang lebih di bawah 25 atau 20 persen, sebenarnya itulah ukuran untuk Jakarta penanganan sampahnya menjadi lebih baik,” kata Pramono dalam sambutannya usai membuka Jakarta Eco Future Fest (JEFF) 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (3/7).

Pramono mengatakan Gerakan Pilah Sampah mendapat sambutan luas dari masyarakat sejak diterbitkannya Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026. Menurutnya, gerakan tersebut kini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari komunitas lingkungan, RT/RW, hingga Abang None Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat membuka Jakarta Eco Future Fest 2026 di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (3/7/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Pramono menyebut sebanyak 6.336 peserta turut berpartisipasi dalam gerakan eco enzyme yang mengantarkan Jakarta meraih rekor MURI. Selain itu, sejumlah komunitas seperti Recosystem juga terlibat aktif dalam mengampanyekan pengelolaan sampah.

“Saya merasa bersyukur kegiatan ini disupport luar biasa oleh kelompok-kelompok komunitas. Salah satunya kita mendapatkan rekor MURI ini karena hampir 6.336 eco enzyme yang berpartisipasi di dalam gerakan ini. Ada Abang None, Recosystem, dan berbagai komunitas ternyata luar biasa yang terlibat untuk concern terhadap persoalan sampah di Jakarta,” ujarnya.

Pramono mengatakan antusiasme masyarakat terhadap gerakan pilah sampah bahkan melampaui ekspektasinya. Menurutnya, apresiasi yang diberikan kepada RT dan RW beberapa waktu lalu menunjukkan adanya kebanggaan warga dalam menjaga kebersihan lingkungan.

“Gerakan ini disambut luar biasa. Bahkan ketika kita mengumpulkan RT/RW di Monas kemudian memberikan apresiasi, rata-rata mereka punya kebanggaan terhadap penanganan sampah,” katanya.

Sebagai bentuk komitmennya, Pemprov DKI juga mencanangkan Bank Sampah Balai Kota. Pramono meminta fasilitas tersebut tidak berhenti sebagai seremoni, melainkan benar-benar menjadi contoh pengelolaan sampah di lingkungan pemerintahan.

“Saya sendiri tidak membayangkan di Balai Kota ada bank sampah. Saya minta ini ditangani secara baik, jangan hanya seremonial. Saya enggak mau yang seremonial,” tegasnya.

Warga memilah sampah dari rumah sebelum disetorkan ke Bank Sampah Bumi Lestari, Srengseng, Jakarta Barat, Minggu (17/5/2026). Foto: Aditya Nugraha/kumparan

Selain mengubah perilaku masyarakat, Pemprov DKI juga memperkuat infrastruktur pengelolaan sampah melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), pengoperasian RDF Rorotan dan RDF Bantargebang, serta fasilitas pengolahan menjadi bahan bakar.

Pramono optimistis kombinasi antara perubahan perilaku masyarakat dan penguatan infrastruktur mampu mengatasi timbulan sampah Jakarta yang saat ini mencapai sekitar 9.000 ton per hari.

“Selain membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, kemudian RDF Rorotan, RDF Bantargebang dijalankan, dan juga pembangkit untuk fuel. Mudah-mudahan neraca sampah yang sekarang terakhir di Jakarta itu rata-rata 9.000 per hari bisa diatasi,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, gerakan pilah sampah juga mulai berdampak pada kualitas lingkungan permukiman. Berdasarkan hasil survei, jumlah RW kumuh di Jakarta turun signifikan dari 445 RW pada 2017 menjadi 211 RW pada 2026.

Menurut Pramono, penurunan tersebut tidak lepas dari peran RT, RW, dasawisma, jumantik, PKK, dan berbagai elemen masyarakat yang aktif menjaga kebersihan lingkungan.

“Ketika kita gerakkan untuk melakukan pembersihan di RW-nya masing-masing, apa yang terjadi? RW kumuh di Jakarta turun sangat signifikan dari 445 RW kumuh turun menjadi 211 RW kumuh,” ungkapnya.

Ke depan, Pramono berharap Gerakan Pilah Sampah tidak hanya menjadi program pemerintah, tetapi juga berkembang menjadi gaya hidup masyarakat Jakarta.

“Saya berharap betul Gerakan Pilah Sampah ini menjadi gaya hidup yang ada di Jakarta ini,” kata Pramono.