Program Melbourne Symphony Orchestra Lahirkan Talenta di Dunia Orkestra

Program kolaborasi Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan Melbourne Symphony Orchestra (MSO) tidak hanya memberi pengalaman bermusik bagi peserta, tetapi juga membentuk talenta yang kemudian terlibat dalam pengelolaan pertunjukan. Sejumlah alumni program tersebut kini menjadi pemain sekaligus pengelola Serenade Bunga Bangsa (SBB) XII.
Project Manager SBB XII, Krido Bramantyo, merupakan alumni Art Management Workshop (AMW), program turunan kolaborasi Dinas Kebudayaan DIY dengan MSO. Ia mengikuti AMW untuk pertama kalinya tiga tahun lalu dan mendapat pemahaman baru mengenai pengelolaan ekosistem orkestra.
“Cukup punya dampak yang besar juga karena saya jadi lebih paham tentang ekosistem orkestra, tentang bagaimana me-manage pemain-pemain di dalamnya, bagaimana me-manage pertunjukannya,” kata Bram saat ditemui Pandangan Jogja, Jumat (28/8).
Pengetahuan tersebut kemudian diterapkan dalam produksi SBB XII. Bram berbagi tugas dengan Tika, yang juga merupakan alumni AMW tahun ini. Krido menangani kebutuhan teknis, termasuk tata suara dan pencahayaan, sedangkan Tika mengurus administrasi dan produksi.
Tika sebelumnya terlibat dalam SBB sebagai peserta magang sebelum dipercaya menjadi manajer produksi. Melalui AMW, ia mempelajari aspek pengelolaan yang berada di luar peran pemain musik, seperti keuangan, tiket, dan manajemen penonton.
“Kami belajar tentang finansial. Jadi gimana kita mengelola keuangan untuk orkestra, lalu misalkan bagaimana ticketing-nya, bagaimana memanage penonton,” kata Tika.
Pengalaman tersebut diterapkan dalam kondisi produksi yang memiliki keterbatasan sumber daya. Tika mengatakan pengelolaan produksi SBB XII hanya ditangani oleh dirinya dan Krido.
“Yang paling sulit adalah karena timnya itu cuma berdua, saya dan Mas Bram, untuk mengerjakan acara ini semua produksinya,” ujar Tika.
Dampak program juga dirasakan pemain. Aghisna, pemain biola asal Jombang yang tampil sebagai biola satu dalam SBB XII, mengikuti program MSO pada 2022 dan 2025 sebelum mengikuti AMW pada 2026.
Menurut Aghisna, pengalaman bersama MSO membuatnya memahami bahwa permainan orkestra tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga kerja sama antarpemain.
“Aku banyak belajar bahwa sesungguhnya kalau bermusik itu harus dari hati dan juga tidak hanya mengandalkan skill saja, namun juga kekompakan tim dan juga kerja sama dengan teman-teman yang lain,” katanya.
Melalui AMW, Aghisna kemudian mengenal pekerjaan di balik panggung, termasuk proses menghimpun musisi, pengelolaan keuangan, dan promosi pertunjukan.
Bram mengatakan pengalaman peserta yang kembali terlibat dalam SBB turut membentuk jejaring antarpemain dan pengelola. Ia menyebut sekitar 90 persen pemain SBB XII sudah pernah mengikuti penyelenggaraan SBB sebelumnya.
Menurut dia, jejaring tersebut membantu proses rekrutmen pemain ketika waktu persiapan pertunjukan terbatas. Pengalaman sebelumnya membuat alumni lebih mudah beradaptasi dengan kebutuhan produksi.
Bram juga menilai sistem pengelolaan orkestra yang dipelajarinya melalui program MSO memiliki pendekatan yang lebih menyeluruh. Ia melihat pengelolaan orkestra di Yogyakarta masih berjalan secara lebih parsial dibandingkan sistem yang dipelajarinya di Australia.
“Kalau di sini mungkin segala sesuatunya masih sifatnya parsial-parsial gitu. Tapi kalau di sana tuh sepertinya lebih holistik,” ujarnya.
Keterlibatan alumni sebagai pemain dan pengelola menunjukkan bahwa program kolaborasi MSO tidak berhenti pada pelatihan. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh peserta kemudian kembali digunakan dalam ekosistem orkestra di Yogyakarta.
