Konten dari Pengguna

Proposal Damai atau Tekanan Baru? Membaca Strategi AS terhadap Iran

Mayjen TNI Purn. Fulad

Mayjen TNI Purn. Fulad

Adc SBY. Penasehat Militer RI untuk PBB. Wadan Seskoad. Wakortajar Lemhannas

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mayjen TNI Purn. Fulad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang-orang berjalan di halaman Hotel Serena, tempat kemungkinan fase kedua perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, Selasa (21/4/2026). Foto: Akhtar Soomro/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Orang-orang berjalan di halaman Hotel Serena, tempat kemungkinan fase kedua perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan, Selasa (21/4/2026). Foto: Akhtar Soomro/REUTERS

Dalam geopolitik internasional, perdamaian sering kali bukan tentang menghapus konflik, melainkan mengendalikan konflik agar tetap berada dalam batas kepentingan. Karena itu, setiap proposal damai hampir selalu membawa dua pesan sekaligus: pesan diplomasi dan pesan tekanan.

Hal itulah yang saat ini terlihat dalam proposal tandingan Amerika Serikat terhadap Iran.

Washington dikabarkan hanya mengizinkan satu fasilitas nuklir Iran tetap beroperasi, meminta Teheran menyerahkan ratusan kilogram uranium yang telah diperkaya, menolak kompensasi atas dampak sanksi ekonomi, serta belum bersedia mencairkan sebagian aset Iran yang dibekukan di luar negeri. Pada saat yang sama, Amerika juga berharap Iran membantu meredam berbagai konflik kawasan, termasuk di Lebanon dan beberapa titik strategis Timur Tengah lainnya.

Sekilas, proposal ini terlihat sebagai upaya membuka ruang kompromi. Namun bila dicermati lebih dalam, terlihat bahwa diplomasi yang dibangun masih disertai tekanan strategis yang cukup kuat.

Dalam berbagai forum keamanan internasional yang pernah saya ikuti ketika menjadi Penasihat Militer RI untuk PBB, saya melihat bahwa dinamika Timur Tengah hampir selalu bergerak di antara dua ruang: ruang dialog dan ruang tekanan. Kedua ruang itu berjalan bersamaan, saling mempengaruhi, dan sering kali digunakan sebagai instrumen untuk memperkuat posisi tawar masing-masing pihak.

Proposal AS dan Kepentingan Strategis Washington

Saya memandang proposal Amerika ini tidak semata-mata berbicara soal nuklir Iran. Persoalannya jauh lebih besar. Ini menyangkut perebutan pengaruh geopolitik, pengendalian stabilitas kawasan, keamanan energi global, hingga upaya membentuk keseimbangan kekuatan baru di Timur Tengah.

Amerika Serikat tentu memiliki kepentingan strategis untuk memastikan Iran tidak berkembang menjadi kekuatan nuklir yang sulit dikendalikan. Dari sudut pandang Washington, pembatasan program nuklir Iran dianggap penting untuk menjaga stabilitas kawasan sekaligus memberikan rasa aman bagi sekutu-sekutu Amerika di Timur Tengah.

Karena itu, tekanan ekonomi, pembatasan fasilitas nuklir, dan pengendalian pengaruh Iran di kawasan menjadi bagian dari strategi besar Amerika untuk mempertahankan keseimbangan geopolitik yang selama ini mereka bangun.

Perspektif Iran: Krisis Kepercayaan dan Jaminan Keamanan

Sejumlah kendaraan tengah melintasi jalan di Kawasan Teheran pada Selasa (5/5/2026). Tampak jalanan tersebut bergambar bendera Amerika Serikat (AS) dan Israel. Foto: STR / AFP

Namun di sisi lain, Iran juga memiliki cara pandang sendiri. Bagi Teheran, mereka adalah negara yang selama bertahun-tahun menghadapi embargo ekonomi, isolasi politik, tekanan diplomatik, bahkan ancaman militer.

Karena itu, ketika Amerika meminta Iran mengurangi aktivitas strategisnya, Iran tentu berharap adanya imbal balik yang nyata berupa pencabutan sanksi, pemulihan ekonomi, pencairan aset, dan jaminan keamanan yang lebih jelas.

Di sinilah letak persoalan utamanya: krisis kepercayaan.

Iran masih menyimpan pengalaman pahit terhadap kesepakatan nuklir tahun 2015 atau JCPOA. Saat itu dunia sempat melihat adanya harapan baru. Namun ketika Amerika keluar secara sepihak dari kesepakatan tersebut pada masa Presiden Donald Trump, kepercayaan Iran terhadap konsistensi kebijakan Washington mengalami guncangan yang sangat besar.

Akibatnya, setiap proposal baru kini dipandang Teheran dengan penuh kehati-hatian.

Amerika ingin Iran membatasi pengaruh strategisnya. Sementara Iran ingin memperoleh kepastian bahwa setiap konsesi yang diberikan tidak akan berujung pada tekanan baru di masa depan. Kedua pihak sama-sama berbicara tentang perdamaian, tetapi keduanya juga tetap menjaga posisi tawar masing-masing.

Timur Tengah dan Perebutan Stabilitas Global

Situasi ini menjadi semakin kompleks karena konflik Timur Tengah hari ini tidak berdiri sendiri. Gaza, Lebanon, Suriah, Laut Merah, hingga stabilitas energi dunia saling terhubung dalam satu rantai geopolitik yang sangat sensitif.

Sedikit saja terjadi kesalahan kalkulasi, dampaknya dapat meluas jauh melampaui kawasan.

Karena itu, perundingan AS–Iran sejatinya bukan hanya tentang uranium, sanksi ekonomi, atau fasilitas nuklir. Yang sedang dipertaruhkan adalah masa depan stabilitas Timur Tengah dan arah keseimbangan global di tengah dunia yang semakin multipolar dan penuh persaingan strategis.

Saya melihat ada beberapa pesan penting dari perkembangan ini.

Pertama, Amerika Serikat tampaknya masih mempertahankan pendekatan calibrated pressure atau tekanan terukur. Artinya, Washington membuka ruang negosiasi, tetapi tetap menggunakan tekanan ekonomi dan politik sebagai alat untuk mengendalikan proses diplomasi.

Kedua, Iran juga terlihat belum ingin menutup pintu dialog sepenuhnya. Fakta bahwa komunikasi masih berlangsung melalui mediasi Pakistan menunjukkan bahwa kedua negara sama-sama memahami risiko besar apabila ketegangan berubah menjadi konfrontasi terbuka.

Ketiga, dunia internasional saat ini sesungguhnya sangat membutuhkan stabilitas Timur Tengah. Kawasan ini bukan hanya pusat konflik, tetapi juga salah satu poros energi dan jalur perdagangan dunia. Ketika Timur Tengah bergejolak, maka harga energi, stabilitas ekonomi global, dan keamanan internasional ikut terkena dampaknya.

Penutup

Namun demikian, saya berpandangan bahwa perdamaian yang dibangun di atas tekanan sepihak tidak akan pernah menghasilkan stabilitas yang benar-benar kokoh. Perdamaian jangka panjang hanya dapat lahir apabila ada rasa saling menghormati, kejelasan komitmen, dan keberanian untuk membangun kepercayaan bersama.

Amerika perlu memahami bahwa Iran bukan sekadar aktor regional biasa. Iran memiliki pengaruh politik, ideologi, dan militer yang cukup besar di kawasan. Sebaliknya, Iran juga perlu memahami bahwa konfrontasi berkepanjangan dengan Barat hanya akan memperpanjang tekanan ekonomi dan mempersempit ruang pembangunan nasionalnya sendiri.

Karena itu, yang dibutuhkan hari ini bukan hanya proposal baru, melainkan paradigma baru dalam membangun hubungan yang lebih realistis dan lebih seimbang.

Dunia tentu berharap perundingan ini tidak berhenti sebagai diplomasi yang penuh kecurigaan. Sebab ketika diplomasi gagal membangun kepercayaan, maka tekanan ekonomi, perlombaan pengaruh, bahkan ancaman kekuatan militer akan kembali menjadi bahasa utama politik internasional.

Dan sejarah menunjukkan, dunia selalu membayar mahal untuk situasi seperti itu.