Puluhan Ribu Migran Maroko Serbu Ceuta, Spanyol Pernah Alami Hal Serupa di 2021

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Orang-orang berjalan menuju perbatasan dengan Maroko meninggalkan Spanyol, di tengah penyeberangan massal migran dengan berjalan kaki dan melalui laut dari Maroko ke wilayah Spanyol, di Ceuta, Spanyol, Jumat (31/7/2026). Foto: Jon Nazca/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Orang-orang berjalan menuju perbatasan dengan Maroko meninggalkan Spanyol, di tengah penyeberangan massal migran dengan berjalan kaki dan melalui laut dari Maroko ke wilayah Spanyol, di Ceuta, Spanyol, Jumat (31/7/2026). Foto: Jon Nazca/REUTERS

Puluhan ribu migran menyeberang dari Maroko menuju wilayah kantong Spanyol, Ceuta, di Afrika Utara, dalam beberapa hari terakhir, yang memicu krisis baru bagi pemerintah Spanyol.

Namun, hal tersebut bukan pertama kali terjadi. Peristiwa serupa pernah terjadi pada 2021 ketika lebih dari 10 ribu migran memasuki Ceuta dalam dua hari setelah Maroko melonggarkan pengawasan perbatasan di tengah ketegangan diplomatik dengan Spanyol.

Perselisihan saat itu dipicu keputusan Madrid menerima pemimpin Front Polisario—kelompok yang memperjuangkan kemerdekaan Sahara Barat dari Maroko—untuk menjalani perawatan medis.

Ketegangan mereda pada 2022 setelah Spanyol mengubah kebijakan lamanya dengan mendukung rencana Maroko terkait Sahara Barat. Langkah itu sempat merenggangkan hubungan Madrid dengan Aljazair, yang selama ini mendukung Front Polisario.

Para migran dari Maroko tiba di perbatasan Spanyol, di Ceuta, Spanyol, Jumat (31/7/2026). Foto: Fabian Bimmer/REUTERS

Ceuta, bersama Melilla, merupakan dua wilayah enklave Spanyol di Afrika Utara yang menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan Benua Afrika. Gelombang migrasi di kawasan itu telah lama menjadi salah satu tantangan utama bagi kebijakan migrasi Eropa.

Sumber kepolisian Spanyol pada Jumat (31/7) waktu setempat menyebut, sekitar 40 ribu telah memasuki Ceuta yang hanya berpenduduk sekitar 80 ribu jiwa. Ribuan di antaranya menyeberang sepanjang Kamis malam hingga Jumat dini hari.

AFP melaporkan ratusan pria, perempuan, dan anak-anak terlihat berenang mengitari pagar pembatas yang memisahkan Maroko dan Ceuta. Mereka menggunakan pelampung sederhana sebelum membuangnya begitu berhasil mencapai daratan Spanyol.

Sejauh ini, sedikitnya 18 orang dilaporkan tewas saat berusaha mencapai wilayah tersebut.

Merespons situasi itu, pemerintah Spanyol telah mengerahkan pasukan tambahan untuk memperkuat pengamanan di Ceuta. Perdana Menteri Pedro Sanchez bersama Menteri Dalam Negeri dijadwalkan mengunjungi pos perbatasan Tarajal pada Jumat (31/7) untuk memantau langsung kondisi di lapangan.

Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab lonjakan migran dari Maroko tersebut.