Puncak Karier ASN

Penyuluh Hukum pada Kanwil Ditjen Pemasyarakatan Kalimantan Selatan. Magister Hukum Universitas Lambung Mangkurat. Aktif mengabdi lewat penyuluhan dan tulisan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Haris tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dalam dunia kerja birokrasi, ada satu jebakan psikologis yang sering diabaikan, keyakinan bahwa kebahagiaan itu akan tercapai setelah sukses mencapai jabatan tinggi. Tak sedikit ASN menghabiskan bertahun-tahun mendaki gunung karier, meyakini bahwa promosi jabatan, ruangan kerja yang lebih luas, dan tambahan tunjangan adalah kunci meraih kebahagiaan dan kepuasan hidup. Namun ketika gunung karier itu berhasil didaki, kebahagiaan mencapainya sering hanya bertahan sekejap, lalu hilang digantikan oleh keinginan mendaki gunung lain yang lebih tinggi dan ambisi yang baru. Silau dengan puncak lain yang lebih tinggi.
Psikologi modern menyebut fenomena ini hedonic treadmill. Manusia cenderung kembali ke tingkat kebahagiaan netral setelah peristiwa positif maupun negatif. Begitu puncak jabatan baru diraih, standar kepuasan ikut bergeser naik. Apa yang tadinya puncak, kini terasa biasa saja, dan jiwa kembali menuntut puncak berikutnya.
Teringat sebuah kisah seorang ASN, yang barangkali mewakili banyak abdi negara lain. Di suatu masa, ia lebih dulu menduduki jabatan struktural dibandingkan dengan seluruh angkatannya. Ada kebanggaan dan semangat kerja yang membuncah untuk membuktikan kepercayaan itu tidak salah alamat. Tahun-tahun pertama berjalan dengan capaian yang diapresiasi pimpinan. Namun kabar promosi berikutnya tak kunjung datang. Yang datang justru beberapa kali mutasi, ke unit-unit dengan karakter berbeda, ada yang strategis, ada yang jauh dari sorotan. Setiap kali berpindah, ia mencoba membuktikan diri lagi, sampai akhirnya sadar: kenaikan jabatan ternyata tak melulu soal kinerja, tapi juga relasi dan keterlihatan di mata pimpinan yang berwenang.
Berjalan waktu, kawan-kawan seangkatannya satu per satu naik jabatan, melampaui posisi yang pernah lebih dulu ia capai. Jujur diakuinya, ada rasa "seharusnya aku lebih dulu", "seharusnya aku lebih pantas". Perasaan itu justru menjadi titik balik: ia sadar, jika ambisi ini terus dituruti, ia akan selalu mengejar target yang lebih tinggi setiap kali satu target tercapai, sampai lupa menikmati proses. Ia akhirnya memilih jalur Jabatan Fungsional Tertentu yang lebih fleksibel, melepaskan ambisi struktural dan menemukan ketenangan.
Kisah ini bukan tentang kekeliruan sistem, kompetisi jabatan adalah bagian yang tak terpisahkan dari birokrasi. Yang menarik untuk direnungkan justru dinamika batinnya: standar kebahagiaan yang terus bergeser mengikuti pencapaian orang lain, sebuah kecemasan status yang oleh pemikir Alain de Botton disebut status anxiety. ASN yang menggantungkan harga dirinya pada SK jabatan sesungguhnya sedang bersandar pada pengakuan yang semu dan bersyarat. Pada titik itulah potensi tumbuhnya benih penyalahgunaan wewenang dimulai, sebab standar "puncak" yang terus bergeser akan selalu mencari cara tercepat untuk mencapai puncak.
Stoisisme menjawabnya lewat dichotomy of control: ketenangan hanya bisa diraih bila energi difokuskan pada hal yang benar-benar dalam kendali kita: pikiran, etika, kualitas kerja. Promosi, dinamika politik internal, dan penilaian orang lain berada di luar kendali kita. Berbagai tradisi kebijaksanaan lain sampai pada kesimpulan serupa dari sudut yang berbeda-beda — filsafat Timur mengenalnya sebagai sikap tidak melekat pada hasil, sementara dalam khazanah Nusantara dikenal istilah "nrimo" atau qana'ah: sikap merasa cukup dan ridha atas apa yang telah diusahakan dan didapatkan. Sosok ASN itu baru menemukan ketenangannya setelah, secara sadar atau tidak, sampai pada titik yang sama dengan semua tradisi itu: berhenti bertaruh pada variabel yang tak bisa ia kendalikan.
Sikap merasa cukup ini bukan kepasrahan tanpa daya juang, melainkan bentuk kemerdekaan sikap yang justru menjadi benteng etika paling kokoh bagi seorang ASN. Penyalahgunaan wewenang kerap berakar dari ketidakmampuan merasa cukup; ketika gaya hidup dipaksakan mengejar status, pendapatan sah dirasa tidak memadai. ASN yang memiliki kelapangan sikap ini punya daya tahan integritas yang tinggi. Dia tidak membalas pelayanan dengan tarif, tidak mengejar jabatan demi mengejar pengakuan semu.
Ini tak boleh berhenti menjadi beban individu semata, seolah menyuruh setiap ASN pasrah menerima apa pun keadaannya. Institusi punya peran membangun ekosistem yang tak memaksa pegawainya berlomba di atas hedonic treadmill: sistem merit yang benar-benar transparan agar kompetisi jabatan tak melulu bergantung pada kedekatan personal, jalur fungsional yang setara martabatnya dengan jalur struktural, bukan sekadar alternatif kelas dua, dan budaya penghargaan kinerja yang tak melulu diukur dari posisi yang diduduki. Ketika sistem dan sikap batin ASN berjalan beriringan, etika dan integritas bukan lagi slogan di dinding kantor, melainkan fondasi bersama menuju birokrasi yang sehat.
Kisah itu, pada titik terakhir yang kita ketahui, tidak lagi menyoal jabatan. Yang tersisa hanya pekerjaan hari ini, hal-hal kecil yang masih bisa diperbaiki — dan sebuah ketenangan yang jauh lebih plong dari titik ia memulai. Barangkali itulah puncak karier yang sesungguhnya: bukan eselon tertinggi yang pernah diraih, melainkan hari ketika seseorang berhenti berlari mengejar pengakuan, dan pulang ke rumah dengan pikiran yang tenang.
