Qodari Ungkap Strategi Komunikasi saat Anak Krakatau Erupsi

Kepala Badan Komunikasi Kepresidenan (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menceritakan strategi komunikasi pemerintah saat menghadapi erupsi Gunung Anak Krakatau. Saat itu, kata Qodari, Bakom menggelar tiga konferensi pers dalam satu hari untuk menyampaikan informasi terkait dampak erupsi kepada masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Qodari saat ditemui wartawan usai agenda peluncuran buku Juru Bicara: Perspektif Manajemen Komunikasi Politik di Era Disrupsi di Antara Heritage Center, Jakarta Pusat, Jumat (11/9).
Qodari mengatakan, strategi tersebut merupakan penerapan prinsip golden hour dalam komunikasi pemerintah. Prinsip itu menekankan pentingnya kecepatan dalam memberikan data dan informasi kepada publik.
“Sebetulnya yang disampaikan di buku itu insyaallah kurang lebih sama dengan apa yang kami lihat dan kami pikirkan dan kami kerjakan, ya. Misalnya bahwa kalau bicara komunikasi pada hari ini ada yang namanya golden hour. Jadi kita harus cepat memberikan data dan informasi,” ungkap Qodari.
Menurutnya, penerapan golden hour juga dilakukan Bakom ketika presiden mengeluarkan kebijakan ekspor satu pintu sumber daya alam. Kata dia, Bakom langsung menindaklanjuti pidato presiden dengan menggelar konferensi pers bersama para menteri bidang perekonomian.
“Dan itu kami contohkan di Bakom, misalnya ketika ada kebijakan Bapak Presiden tentang ekspor satu pintu sumber daya alam, kami langsung follow up pidato itu dengan press conference bersama menteri-menteri perekonomian, sehingga teman-teman media dalam dan luar negeri bisa mendapatkan penjelasan,” ujarnya.
Qodari kemudian menceritakan pola komunikasi Bakom ketika terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau. Ia menyebut erupsi tersebut memiliki dampak luas, mulai dari kesehatan, transportasi, hingga aktivitas pendidikan.
“Bakom waktu itu berkomunikasi dengan BNPB, dengan kementerian/lembaga, dalam satu hari menyelenggarakan tiga kali press conference, ya. Untuk teman-teman media bisa mendapatkan informasi yang pasti ingin ditanyakan, juga masyarakat mendapatkan informasi yang relevan,” papar dia.
Qodari menjelaskan, tiga konferensi pers tersebut masing-masing membahas dampak abu vulkanik terhadap kesehatan bersama Menteri Kesehatan, antisipasi sektor transportasi bersama Menteri Perhubungan, serta dampak erupsi terhadap proses pendidikan bersama kementerian yang membidangi pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan tinggi.
Ia pun menilai, prinsip-prinsip komunikasi yang dibahas dalam buku karya Benny Siga Butarbutar dan Prof. Marlinda Irwanti Poernomo sejalan dengan pekerjaan Bakom.
“Jadi, prinsip-prinsip yang ada di buku Pak Benny dengan Bu Marlinda itu insyaAllah sejalanlah dengan apa yang dikerjakan oleh Bakom,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Qodari menyambut baik rencana pengembangan buku tersebut menjadi modul pendidikan atau pelatihan bagi para juru bicara. Menurut dia, modul itu berpotensi menjadi bagian dari upaya memperbaiki komunikasi pemerintah.
“Dan tadi dari Prof. Marlinda menceritakan bahwa ini tidak hanya bukunya saja yang sudah ada, tetapi sudah sampai kepada modul. Artinya materi-materi yang ada di situ sudah siap untuk ditransfer menjadi menjadi praktik, ya, lewat suatu modul pendidikan atau pelatihan,” kata dia.
“Saya menunggu, I look forward untuk modulnya. Mudah-mudahan nanti modul ini juga bisa menjadi program atau bagian nyata dari perbaikan komunikasi kita di pemerintahan,” pungkas Qodari.
