Quiet Quitting di Kampus: Bukan Malas, Tapi Lelah Jadi Mesin Prestasi
Tulisan dari widiana naurohimah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mereka tetap hadir di kelas. Tugas dikumpulkan tepat waktu. IPK aman. Tapi di dalam, mereka sudah berhenti peduli sejak lama.
Ini bukan kemalasan. Ini quiet quitting dan ia sudah masuk ke kampus.
Ketika "Cukup" Menjadi Perlawanan
Quiet quitting awalnya viral di dunia kerja: karyawan yang tidak resign, tapi juga tidak memberi lebih dari yang diminta. Tapi fenomena yang sama kini terjadi di kalangan mahasiswa dan hampir tidak ada yang membicarakannya.
Mereka tidak bolos. Mereka tidak gagal. Mereka hanya berhenti berpura-pura bahwa sistem ini layak untuk diperjuangkan mati-matian.
Sistem yang Menguras, Bukan Menumbuhkan
Sosiolog Émile Durkheim pernah memperingatkan tentang anomie kondisi ketika individu kehilangan keterikatan dengan norma sosial karena sistem gagal memberi makna. Mahasiswa yang quiet quitting bukan tanpa tujuan. Mereka justru sadar tujuan yang dijanjikan sistem gelar, prestasi, IPK tidak selalu berujung pada kehidupan yang lebih baik.
Mereka melihat kakak angkatan yang cumlaude tapi menganggur. Mereka ikut lomba, menang, lalu tidak ada yang berubah. Pada titik itu, wajar kalau mereka memilih untuk sekadar bertahan.
Salah Siapa?
Mudah untuk menyebut generasi ini lemah atau tidak mau berjuang. Tapi pertanyaan yang lebih jujur adalah: sistem mana yang sudah cukup berjuang untuk mereka?
Quiet quitting mahasiswa bukan krisis moral. Ini sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki jauh sebelum mereka duduk di bangku kuliah.

