Konten dari Pengguna

Refleksi Kecil tentang Penghargaan yang Sering Terlupakan di Lingkungan Sekolah

Vincent Kristianto

Vincent Kristianto

Vincent Kristianto, kelahiran Bandung 2009. Siswa kelas XI SMA Trinitas. Menulis untuk melatih kata-kata karena ia bisa membangun dan menghancurkan.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vincent Kristianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/id/photos/ada-apa-teknologi-iphone-aplikasi-1212017/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/id/photos/ada-apa-teknologi-iphone-aplikasi-1212017/

Ada momen yang mungkin terasa sepele, tapi diam-diam meninggalkan sesuatu di dalam dada.

Kamu mengetik pesan ke gurumu. Mungkin itu laporan bahwa kamu tidak bisa hadir esok hari karena sakit. Mungkin itu pertanyaan tentang tugas yang belum kamu mengerti. Mungkin itu informasi penting yang memang diminta untuk disampaikan lewat chat. Kamu mengetiknya dengan hati-hati, memastikan kalimatnya sopan, tidak ada yang salah, tidak ada yang bisa menyinggung. Kamu kirim. Kamu tunggu.

Satu jam kemudian, centang berubah jadi biru. Dibaca.

Tapi tidak ada balasan. Tidak ada "oke", tidak ada "baik, terima kasih", tidak ada tanda apapun bahwa keberadaan pesanmu itu diakui. Hanya biru. Lalu sunyi.

Dan kamu duduk sambil bertanya-tanya, apakah pesanmu cukup jelas? Apakah kamu salah nulis sesuatu? Atau memang begini adanya?

Hal Kecil yang Ternyata Tidak Sekecil Itu

Banyak orang akan langsung berkata, "Ya sudah, namanya juga guru sibuk. Jangan terlalu dipikirkan." Dan mungkin ada benarnya. Tapi coba pikirkan lagi dari sudut yang berbeda.

Ketika seorang murid mengambil HP-nya, membuka aplikasi chat, mengetik pesan kepada gurunya, dan mengirimkannya, ada sesuatu yang terjadi sebelum semua itu. Ada keberanian yang dipakai. Ada rasa hormat yang sudah ditunjukkan duluan, bahkan sebelum tahu bagaimana respons yang akan datang. Murid itu sudah menempatkan gurunya di posisi yang patut untuk dihubungi, patut untuk didengar, patut untuk dipercaya menerima informasi penting.

Dan semua itu dibalas dengan keheningan.

Hal tersebut bukan soal dramatis atau lebay, tapi soal sesuatu yang sangat mendasar dalam hubungan antar manusia, yaitu pengakuan. Bahwa kamu ada. Bahwa pesanmu terdengar. Bahwa kehadiranmu dalam sebuah percakapan itu nyata dan dihargai.

Membalas "ok" butuh waktu kurang dari lima detik. Tidak ada kesibukan di muka bumi yang tidak menyisakan lima detik untuk sebuah pengakuan kecil seperti itu. Kalau memang dibaca, dan waktu ada, tapi tetap tidak dibalas, maka itu bukan soal sibuk. Itu soal pilihan.

COIS dan Pertanyaan yang Menggelitik

Di sekolah kami, ada sebuah motto yang cukup sering kita dengar dan lihat. COIS. Cerdas, Otentik, Beriman, Solider.

Empat kata yang berat kalau benar-benar dihayati. Cerdas bukan hanya soal nilai bagus di rapor, tapi soal bagaimana kita berpikir dan bertindak. Otentik artinya kita jujur, tidak berpura-pura, apa yang tampak di luar mencerminkan apa yang ada di dalam. Beriman memiliki makna yang jauh lebih luas dari sekadar rajin ibadah, tapi soal bagaimana keimanan itu membentuk karakter dan cara kita memperlakukan orang lain. Dan Solider, kata terakhir yang justru sangat relevan dengan apa yang sedang kita bicarakan ini, artinya punya kepedulian, punya rasa kebersamaan, tidak cuek terhadap sesama.

Sekarang kita tarik ke situasi tadi. Murid mengirim pesan penting. Guru membacanya. Guru diam.

Di mana letak Solider-nya? Di mana Otentik-nya, kalau di kelas bicara tentang saling menghargai tapi di chat mengabaikan pesan murid begitu saja?

Hal tersebut bukan serangan kepada siapapun secara personal, melainkan pertanyaan jujur yang layak kita renungkan bersama. Karena motto bukan hanya pajangan di dinding atau tulisan di buku agenda sekolah. Motto seharusnya menjadi ruh yang hidup dalam setiap tindakan kecil, termasuk yang sesederhana membalas pesan.

Kalau nilai-nilai COIS hanya berlaku dalam situasi formal, dalam pidato upacara, dalam penilaian sikap di rapor, tapi tidak hadir dalam hal-hal kecil sehari-hari, maka kita perlu jujur bertanya mengenai sejauh mana kita benar-benar menghidupi nilai-nilai itu?

Anak-anak Belajar dari Apa yang Mereka Lihat

Ada sebuah kebenaran sederhana tentang bagaimana manusia belajar, terutama anak-anak muda. Mereka tidak hanya menyerap apa yang diajarkan secara eksplisit di depan kelas. Mereka merekam setiap hal yang terjadi di sekitar mereka. Mereka mengamati bagaimana orang dewasa di sekitarnya berperilaku, bagaimana guru mereka berbicara, bagaimana kepala sekolah menyapa, bagaimana penjaga sekolah diperlakukan oleh orang-orang yang posisinya lebih tinggi.

Dan dari semua pengamatan itu, mereka membentuk kesimpulan tentang bagaimana dunia bekerja.

Kalau yang mereka saksikan adalah bahwa orang yang punya otoritas lebih besar bisa dengan santai mengabaikan pesan orang yang posisinya lebih rendah, maka itulah yang mereka pelajari. Bukan dari buku. Bukan dari ceramah. Tapi dari pengalaman langsung yang terasa di kulit.

Suatu hari nanti, murid-murid itu akan punya posisi mereka sendiri. Mungkin sebagai atasan, sebagai pemimpin, sebagai orang tua. Dan pola yang mereka pelajari hari ini akan ikut mereka ke sana. Kalau yang mereka pelajari adalah bahwa mengabaikan itu normal, bahwa tidak membalas itu wajar, bahwa orang yang "di bawah" tidak perlu mendapat pengakuan dari yang "di atas", maka siklus itu akan terus berjalan.

Ini bukan soal menyalahkan guru semata, tapi soal menyadari bahwa setiap tindakan kecil kita, terutama yang dilakukan oleh mereka yang berada di posisi yang dikagumi dan dipercaya murid, adalah pendidikan yang sesungguhnya.

Guru Juga Manusia, dan Justru Karena Itulah...

Satu hal yang perlu dijaga dalam tulisan ini adalah kejujuran. Guru bukan robot. Mereka punya hari-hari yang berat, punya tekanan kerja yang tidak selalu terlihat dari luar, punya kehidupan di luar sekolah yang juga perlu diurus. Tidak ada yang meminta mereka untuk sempurna.

Tapi justru karena mereka manusia, mereka punya kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Mereka pernah muda. Mereka pernah menunggu balasan yang tidak kunjung datang. Mereka tahu rasanya merasa tidak dilihat.

Dan karena mereka manusia pula, mereka punya kapasitas untuk berubah, untuk menyadari, untuk memilih berbeda mulai hari ini.

Tidak ada yang meminta perubahan besar. Tidak ada yang meminta guru untuk selalu online dua puluh empat jam atau membalas pesan di tengah malam. Hal yang diminta sangat sederhana. Ketika sudah membaca, dan waktu memungkinkan, balaslah. Satu kata pun cukup. "Ok." "Baik." "Terima kasih sudah memberi tahu." Itu saja. Tidak perlu panjang. Tidak perlu mendalam. Hanya perlu ada.

Karena ada itu berarti banyak bagi yang menunggu.

Ilustrasi balas chat. Foto: leungchopan/Shutterstock

Bukan Hanya Soal Chat

Kalau kita mau jujur, fenomena ini sebenarnya bukan hanya soal pesan yang tidak dibalas. Itu hanya satu contoh dari sesuatu yang lebih besar, yaitu bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita anggap "di bawah" kita dalam hierarki tertentu.

Murid bertanya di kelas, guru menjawab seadanya tanpa benar-benar mendengarkan. Murid menyampaikan pendapat, guru langsung memotong tanpa memberi ruang untuk selesai bicara. Murid datang dengan masalah, guru merespons dengan buru-buru karena ada hal lain yang dianggap lebih penting.

Semua itu adalah versi berbeda dari centang biru tanpa balasan. Semuanya berkata hal yang sama kepada murid itu, bahwa kamu tidak cukup penting untuk benar-benar diperhatikan.

Dan percayalah, murid merasakan itu. Mungkin mereka tidak mengucapkannya. Mungkin mereka tetap senyum dan mengangguk. Tapi di dalam, ada sesuatu yang mengendap. Sesuatu yang perlahan membentuk cara mereka memandang diri sendiri dan cara mereka memandang orang lain.

Lalu Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kalau tulisan ini sampai ke tangan siapapun, entah murid, guru, orang tua, atau siapapun yang peduli dengan dunia pendidikan, mungkin ini bisa menjadi bahan untuk duduk sejenak dan berefleksi.

Untuk para guru, tidak ada salahnya sekali-kali bertanya kepada diri sendiri: sudahkah saya benar-benar hadir bagi murid-murid saya, bukan hanya secara fisik di kelas, tapi juga dalam hal-hal kecil yang terlihat sederhana? Sudahkah saya membalas pesan mereka? Sudahkah saya menunjukkan bahwa mereka dilihat dan dihargai?

Untuk murid, kalau kamu pernah mengalami ini dan merasa tidak enak sendiri, kamu tidak salah merasakannya. Perasaan itu valid. Dan semoga kamu bisa menjadikannya pelajaran untuk kelak menjadi orang yang berbeda, yang tidak melakukan hal yang sama kepada orang-orang di sekitarmu.

Untuk sekolah, motto yang indah seperti COIS tidak punya artinya kalau hanya hidup di atas kertas. Ia perlu hadir dalam kebijakan, dalam budaya, dalam cara guru dan murid diperlakukan setiap harinya. Mungkin sudah saatnya nilai-nilai itu tidak hanya dievaluasi lewat poin sikap di rapor, tapi juga dihidupi oleh semua orang yang ada di dalam ekosistem sekolah itu, termasuk dan terutama oleh para gurunya.

Centang biru tanpa balasan itu terlihat sepele. Tapi di baliknya ada murid yang duduk menunggu, yang bertanya-tanya apakah dirinya cukup penting untuk mendapat satu kata jawaban. Dan pertanyaan itu, kalau dibiarkan terlalu sering muncul tanpa jawaban, bisa perlahan-lahan membentuk keyakinan yang tidak sehat dalam diri seorang anak muda.

Kita bicara tentang membangun generasi yang cerdas, otentik, beriman, dan solider. Itu tujuan yang mulia. Tapi fondasi dari semua itu adalah rasa saling menghargai yang tumbuh bukan dari ceramah, melainkan dari teladan nyata setiap hari.

Dan kadang, teladan itu sesederhana membalas pesan dengan dua kata.

"Ok, terima kasih."

Semudah itu. Semudah itu untuk membuat seseorang merasa dilihat.