Reformasi Birokrasi : Birokrasi yang Melayani, KORPRI yang Menyatukan

Saya di Indonesia, mencoba untuk menulis dan memberi yg terbaik untuk negeri
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari SUARTRI WELI K HAREFA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KORPRI merupakan wajah Negara yang paling dekat dengan masyarakat
JAM 12.00 WIB, pada umumnya merupakan waktu istirahat siang bagi sebagian besar pegawai. Pada waktu tersebut, pegawai tentu membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak dari rutinitas pekerjaan guna memulihkan kondisi fisik dan menjaga produktivitas. Namun, dari sudut pandang masyarakat sebagai penerima pelayanan, waktu tersebut dapat memiliki makna berbeda. Masyarakat yang telah menempuh perjalanan jauh, meninggalkan pekerjaan, mengeluarkan biaya transportasi, bahkan mengatur waktu secara khusus hanya untuk mengurus satu dokumen, mungkin tiba di kantor pelayanan tepat pada pukul 12.00 WIB dan saat itu pula loket pelayanan telah ditutup karena memasuki waktu istirahat dan tentunya kekecewaan dihati masyarakat akan muncul.
Bagi masyarakat, tertundanya pelayanan bukan sekadar persoalan menunggu hingga loket kembali dibuka. Hal itu dapat berarti tambahan waktu, tambahan biaya, pekerjaan yang tertunda, bahkan keharusan datang kembali pada hari berikutnya. Satu kesempatan Saya pun mencoba menempatkan diri sebagai masyarakat yang sedang mengurus suatu dokumen. Ketika datang ke kantor pelayanan, tentu saya membawa harapan agar urusan dapat diselesaikan dengan cepat, mudah, jelas, dan pasti. Saya ingin mengetahui persyaratan secara lengkap, memperoleh informasi yang benar, dilayani dengan ramah, dan tidak harus berulang kali datang hanya karena informasi yang diberikan belum lengkap. Karena itu, ketika berbicara tentang pelayanan publik, kita perlu melihatnya bukan hanya dari sisi kenyamanan dan rutinitas sebagai pegawai, tetapi juga dari sisi masyarakat yang membutuhkan pelayanan. Kita perlu belajar melihat pelayanan dari sisi orang yang berdiri di depan loket, bukan hanya dari sisi orang yang berada di belakang meja.
Dalam konteks pelayanan publik di Kota Gunungsitoli, ada satu inovasi yang menurut saya patut diapresiasi, yaitu JITU—Jam Istirahat Tetap Buka, yang diusulkan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Gunungsitoli. Inovasi ini sederhana, tetapi menyentuh persoalan yang langsung dirasakan masyarakat. Melalui pengaturan petugas secara bergantian, pelayanan administrasi kependudukan tetap berlangsung pada jam istirahat. Bagi saya, JITU menunjukkan bahwa inovasi pelayanan publik tidak selalu membutuhkan gedung baru, teknologi yang rumit, ataupun anggaran yang besar. Yang dibutuhkan adalah kepekaan melihat persoalan masyarakat dan kemauan untuk memperbaiki cara kerja.
JITU juga memberikan pelajaran bahwa reformasi birokrasi tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Reformasi dapat dimulai dari hal sederhana, yaitu mengubah pola pikir aparatur. Hak pegawai untuk beristirahat tetap harus dihormati, tetapi pelayanan kepada masyarakat juga harus dipastikan berjalan. Di sinilah pentingnya menata sumber daya secara bijaksana agar kepentingan pegawai dan kebutuhan masyarakat dapat berjalan bersama.
Kesadaran menempatkan diri pada posisi masyarakat merupakan awal dari birokrasi yang berorientasi pada pelayanan. Sebelum meminta masyarakat memahami keterbatasan birokrasi, aparatur perlu lebih dahulu memahami kesulitan masyarakat. Jika kita menginginkan pelayanan yang cepat, jelas, adil, dan ramah ketika menjadi pengguna layanan, maka pelayanan seperti itulah yang seharusnya kita berikan ketika berada di balik meja pelayanan Namun, pelayanan yang cepat saja belum cukup. Birokrasi yang melayani harus berjalan bersama dengan birokrasi yang bersih. Kepastian persyaratan, waktu penyelesaian, keterbukaan informasi, serta mekanisme pengaduan yang mudah diakses merupakan bagian penting dari pelayanan. Masyarakat harus memperoleh haknya tanpa harus mencari perantara ataupun memberikan imbalan.
Dalam membangun birokrasi yang bersih dan profesional, KORPRI memiliki peran penting. KORPRI bukan sekadar organisasi yang menaungi aparatur sipil negara, tetapi juga menjadi ruang untuk menyatukan semangat pengabdian. Ketika mengenakan seragam KORPRI, perbedaan latar belakang seharusnya tidak menjadi sekat. Yang dipersatukan adalah tanggung jawab untuk melayani masyarakat, menjaga integritas, netralitas, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Bagi masyarakat, pemerintah adalah satu kesatuan. Ketika satu unit pelayanan gagal memberikan solusi, yang dinilai bukan hanya unit tersebut, tetapi pemerintah secara keseluruhan. Karena itu, diperlukan kerja sama antarlembaga dan kemauan untuk berbagi praktik baik. Inovasi yang berhasil di satu perangkat daerah dapat menjadi inspirasi bagi perangkat daerah lainnya sesuai dengan karakteristik pelayanan masing-masing. Sebagai bagian dari birokrasi, saya meyakini bahwa reformasi tidak harus selalu menunggu kebijakan besar. Reformasi dapat dimulai dari ruang kerja kita sendiri: datang tepat waktu, memberikan informasi yang benar, menanggapi keluhan, menyelesaikan pekerjaan sesuai target, serta berani memperbaiki cara kerja yang tidak efektif.
Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah pada akhirnya dibangun melalui hal-hal sederhana: ketika petugas menyambut dengan ramah, dokumen selesai tepat waktu, pengaduan mendapat tanggapan, dan pelayanan tetap tersedia ketika masyarakat membutuhkannya. Setiap anggota KORPRI sesungguhnya merupakan wajah Negara yang paling dekat dengan masyarakat. Dari sikap dan pelayanan aparatur, masyarakat menilai apakah Negara benar-benar hadir untuk mereka.Sudah saatnya birokrasi tidak dikenal karena panjangnya prosedur, tetapi karena cepatnya memberikan solusi. Sudah saatnya seragam KORPRI tidak hanya menunjukkan kesamaan pakaian, tetapi juga mencerminkan kesatuan nilai, integritas, dan tujuan pengabdian.
Dari loket pelayanan yang tetap terbuka, kita belajar bahwa kehadiran Negara dapat dimulai dari hal sederhana: melayani dengan tulus, bekerja dengan integritas, dan menempatkan masyarakat sebagai tujuan utama pengabdian.
