Rektor Diborgol, Ironi Glorifikasi Anak Petani Berprestasi
Tulisan dari Eben E Siadari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Judul-judul berita tentang wisuda sering memiliki pola yang sama: bercerita tentang kisah sukses form zero to hero. Tentang heroisme anak petani berprestasi yang berhasil mengarungi perjuangan berat dan menorehkan pencapaian tertinggi.
Berikut ini beberapa contoh judul berita semacam itu:
Raih IPK 3,99, Anak Petani Hortikultura dari Pematang Siantar Jadi Lulusan Terbaik IPB University (ipb.ac.id, 28 Juli 2026).
Anak Petani dari Banyumas Jadi Lulusan Terbaik IPDN, Perjuangannya Mengharukan (detik.com, 4 Agustus 2026).
Kisah Perjuangan Anak Petani Bojonegoro Hingga Jadi Lulusan Terbaik MHU UIN Walisongo (kemenag.go.id, 23 Mei 2026).
Anak Petani Penerima KIP-Kuliah Raih Predikat Terbaik Pada Gelaran Wisuda Sarjana Universitas Pattimura (unpatti, ac.id, 30 Juli 2026).
Johar Ma’mun, Anak Petani Asal Cilacap Lulus Cumlaude di UGM (ugm.ac.id, 29 Agustus 2024).
Kisah Anak Petani dari Desa Menjadi Lulusan Terbaik STAN (prioritystan.com, 20 Juni 2024).
Cerita M Idris, Anak Petani dari Daerah Tertinggal, Jadi Lulusan Terbaik Akpol 2019 (Kompas, 10 Juli 2026).
Judul-judul ini sudah dipastikan tidak turun dari langit. Ia pasti dirancang sedemikian rupa.
Petani diidentikkan dengan kalangan sederhana yang hidupnya serba pas-pasan. Oleh karena itu keberhasilan mereka meraih prestasi dipandang sebagai keberhasilan sistem dan kebijakan mengangkat hidup mereka.
Cerita keberhasilan ini ditempatkan sebagai simbol berlangsungnya meritokrasi yang adil dan bersih. Anak-anak petani yang meraih prestasi terbaik dijadikan bukti bahwa prestasi tak pandang latar belakang. Sistem telah menyediakan jalan yang memberi kesempatan sama kepada seluruh anak bangsa.
Rektor Unsoed Ditangkap
Tema from zero to hero memang bukan hal asing dalam pemberitaan media. Buku-buku teks jurnalistik klasik menganggap tema semacam ini memenuhi hampir semua unsur nilai berita.
Namun, tertangkapnya rektor Unsoed seyogyanya membawa publik pada pertanyaan kritis terhadap narasi from zero to hero yang dibangun pada setiap berita wisuda.
Penangkapan itu membawa publik kepada pertanyaan apakah betul meritokrasi telah berjalan di dunia pendidikan. Apakah dalil yang dibangun, bahwa siapa saja dapat mencapai prestasi puncak, asalkan berusaha keras, masih konsisten dengan karpet merah yang disediakan oleh rektor Unsoed bagi mereka yang berduit?
Menurut berita, KPK menangkap rektor Unsoed, ASO pada hari Kamis, 20 Agustus 2026 dan menetapkannya sebagai tersangka kasus dugaan suap seleksi mahasiswa jalur mandiri. Ia bersama sejumlah tersangka lain, diduga melakukan pemerasan dengan meminta sejumlah uang kepada orang tua calon mahasiswa baru di Fakultas Kedokteran senilai Rp650 juta untuk satu mahasiswa.
Ini bukan peristiwa serupa pertama. Kasus demikian juga pernah terjadi dan menyeret para pimpinan Universitas Lampung ke meja hijau pada 2022. Saat itu rektor Unila Diciduk atas penyuapan seleksi mandiri. Ia mematok harga mulai dari Rp100 juta hingga Rp350 juta per mahasiswa.
Peristiwa itu, menurut Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Eduart Wolok, seperti dikutip oleh Detikcom, telah membuat para rektor universitas negeri saling mengingatkan untuk menjaga marwah sistem penerimaan mahasiswa baru.
Apa daya, ternyata peringatan itu tidak diindahkan. Paling tidak oleh ASO.
Tertangkapnya rektor Unsoed membuka pandangan publik yang tertutup oleh silaunya berita form zero to hero. Di balik kisah-kisah keberhasilan spektakuler itu, ternyata ada sistem karpet merah bagi mereka yang punya uang.
Pembingkaian Episodik
Peristiwa tertangkapnya rektor Unsoed menjadi alarm kritis untuk mencermati wacana yang dibangun dalam membingkai prestasi di lingkungan pendidikan. Bukan berarti alarm ini dimaksudkan untuk mengecilkan apalagi mengabaikan aspek-aspek positif dari tema from zero to hero. Juga bukan dimaksudkan menganulir prestasi yang telah dicapai oleh anak-anak petani, yang diberitakan secara luas. Mereka tetap lah putra-putri bangsa yang hebat.
Tujuan esai ini ialah mendorong sikap kritis agar pembingkaian tentang keberhasilan wisudawan tidak terjebak dalam wacana pembingkaian episodik (episodic framing) yang manipulatif.
Dalam Is Anyone Responsible? How Television Frames Political Issues (1991), Shanyo Iyengar mengajukan argumen bahwa media tidak hanya menentukan apa yang dipikirkan oleh masyarakat. Media juga mengarahkan publik tentang siapa yang harus disalahkan atas suatu masalah. Pengarahan itu dilakukan lewat pembingkaian berita (framing).
Iyengar membagi pembingkaian berita menjadi dua jenis. Pertama, pembingkaian episodik. Ini adalah pembingkaian yang menyajikan masalah publik dalam bentuk kasus perorangan atau peristiwa spesifik. Tema dan judul seperti anak petani yang disebutkan sebelumnya, termasuk ke dalam pembingkaian episodik.
Kedua, pembingkaian tematik, yaitu menempatkan masalah dalam konteks yang lebih luas. Masalah publik tidak disajikan lewat kisah personal, melainkan lewat data yang komprehensif, tren jangka panjang dan latar belakang kelembagaan sosial.
Iyengar menemukan bahwa media massa, khususnya televisi, sangat didominasi oleh pembingkaian episodik. Hal ini berkaitan dengan sifat tayangannya yang visual dan menarik perhatian penonton.
Efek dari pembingkaian episodik, selain bersifat positif, seperti memberi inspirasi, dapat bersifat negatif, yaitu risiko digiring melihat fokus yang keliru. Ketika terus-menerus disuguhi berita dengan pembingkaian episodik, publik berpotensi untuk cenderung melihat suatu peristiwa sebagai peristiwa individualistik. Terjadinya suatu masalah dipandang sebagai sesuatu yang hanya diakibatkan oleh kegagalan individu.
Persoalan yang terjadi tidak lagi dipandang sebagai dampak dari kebijakan yang buruk. Akibatnya, pembingkaian episodik mengalihkan tanggung jawab dari otoritas dan lembaga publik kepada individu yang terlibat.
Tema wisuda dengan menonjolkan prestasi perorangan ‘anak petani’ yang terus-menerus direproduksi dapat menjebak publik untuk tidak lagi memberi perhatian kritis terhadap sistem. Cerita-cerita heroik ini berpotensi medominasi kognisi publik untuk berkata Anda berhasil karena Anda hebat. Anda gagal karena Anda tidak becus.
Tidak ada lagi tempat untuk mempertanyakan sistem, kebijakan, dan akuntabilitasnya. Sampai kemudian kita dikejutkan oleh apa yang terjadi di Unsoed.
Ilusi Semu tentang Keadilan
Bila menyimak pemberitaan, kisah-kisah keberhasilan mahasiswa Unsoed termasuk yang banyak memakai pembingkaian episodik dengan mengglorifikasi anak petani. Judul-judul berikut sebagai contoh:
Kisah Marhamdani, Anak Buruh Tani Lulusan Terbaik Fakultas Kedokteran Unsoed (kompas.com, 11 Maret 2020)
Kisah Inspiratif Rifai, Anak Buruh Tani Peraih Cumlaude. Pertamina pun Mengakui Kehebatannya (Tribun Jateng, 13 Desember 2017).
Anak Petani dan Penjahit ini Wujudkan Mimpi jadi Dokter Melalui Bidikmisi di Unsoed (Sindonews, 19 Mei 2023).
Kisah Tsabitun Anak Petani yang Lulus Cumlaude dari Unsoed, Wujudkan Cita-cita jadi Apoteker (Langit7.id, 21 April 2025).
Tatkala dibuai oleh narasi semacam ini, tanpa sadar publik sedang menikmati informasi semu tentang keberhasilan sebuah sistem. Publik menjadi tidak awas terhadap perlombaan di panggung belakang. Ketika anak-anak petani disanjung di panggung wisuda, di balik panggung terjadi transaksi yang samasekali memunggungi meritokrasi yang diagung-agungkan di panggung depan.
Rasa lega dan puas atas berita bergenre from zero to hero bisa menjebak publik pada ilusi keadilan yang semu. Psikolog AS, Melvin J. Lerner, pada tahun 1960 pertama kali mengamati kemungkinan jebakan keadilan semu ini melalui eksperimennya yang mengejutkan.
Ketika partisipan eksperimennya melihat seseorang diberikan hukuman setrum secara acak tanpa salah, alih-alih bersimpati pada ketidakadilan sistem eksperimen, para partisipan justru mulai mencari-cari kesalahan karakter sang korban untuk menjustifikasi penderitaannya. Tanggung jawab terhadap kegagalan dibebankan hanya kepada korban, menutupi fakta terhadap mengapa hukuman setrum dijatuhkan kepadanya.
Dari eksperimen ini Lerner menyimpulkan bahwa manusia memiliki kebutuhan psikologis yang mendalam untuk memercayai bahwa dunia ini adalah tempat yang adil dan dapat diprediksi. Otak memerlukan ini agar tidak merasa sia-sia merencanakan masa depan.
Jebakan keadilan semu Lerner terjadi ketika narasi from zero to hero ditampilkan terus-menerus lewat kisah seperti anak petani meraih IPK sempurna. Publik menjadi terbiasa untuk meyakininya sebagai bukti bekerjanya sistem punish and reward yang adil.
Akibatnya, keyakinan berlebihan akan adanya keadilan (yang ternyata semu) menutup mata sosiologis terhadap ketimpangan struktural di tengah masyarakat. Bila kita meminjam konsep Pierre Bourdieu (1986) tentang modal (capital), keberhasilan seseorang tidak semata ditentukan oleh kerja keras. Arena kompetisi ini tidak selalu berada pada tingkat kompetisi yang setara, termasuk di bidang pendidikan.
Studi-studi menunjukkan bahwa persaingan di dunia pendidikan diwarnai oleh ketidakseimbangan lapangan permainan dan bahkan aturannya. Anak-anak kelas atas memulai perlombaan dengan modal ekonomi dan budaya yang melimpah. Di sisi lain anak miskin harus bertarung melawan krisis kognitif akibat nutrisi buruk dan infrastruktur sekolah desa yang rusak.
Ada anak-anak yang dapat membayar guru les privat ke rumah. Sementara anak-anak lain tidak memiliki tempat bertanya tentang pelajaran bahkan kepada orang tuanya, yang harus bekerja sebagai kuli bangunan.
Ketika sebagian besar anak-anak kelas menengah mulus mengarungi proses untuk memperoleh beasiswa LPDP berkuliah di luar negeri, pada kenyataannya lebih dari 1,5 juta siswa kurang mampu gagal memperoleh beasiswa karena alasan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang tidak valid.
Puncaknya adalah tertangkapnya rektor Unsoed, sebagai bukti paling mutakhir ketidakseimbangan medan persaingan di bidang pendidikan. Peristiwa itu merupakan simbolisasi dari ada uang ada barang.
Deretan persoalan struktural di bidang pendidikan ini tidak mungkin dibebankan kepada individu atau perorangan, seperti yang ingin digambarkan oleh pembingkaian episodik from zero to hero. Ketika narasi ‘keajaiban’ terus disuburkan, publik berpotensi mengabaikan fakta struktural yang merupakan pekerjaan rumah yang besar. Ketika kita mengglorifikasi keberhasilan satu anak petani meraih prestasi super, tanpa sadar kita menyalahkan jutaan anak petani lainnya yang gagal walaupun mereka sudah menempuh berbagai cara untuk berhasil.
Berpikir Kritis, Berpikir Merdeka
Mumpung kita masih berada di bulan kemerdekaan, tampaknya sangat penting untuk terus mendorong publik berpikir merdeka dengan cara menumbuhkan sikap kritis dalam mengonsumsi pembingkaian wacana. Publik harus terus dibangun kesadarannya untuk kritis terhadap kemungkinan hegemoni wacana yang manipulatf.
Stuart Hall (1973) lewat model encoding/decoding menjelaskan bahwa media massa menyuntikkan ideologi tertentu ke dalam teks berita, sehingga audiens mengonsumsinya sebagai kewajaran atau akal sehat umum (common sense).
Namun, Hall juga menekankan bahwa produsen pesan atau komunikator (encoding) berhadapan dengan audiens (decoding) yang tidak begitu saja menerima pesan tersebut. Mereka menerjemahkan, menginterpretasikan dan memberi makna pada pesan tersebut berdasarkan latar belakang budaya dan pengalaman mereka sendiri.
Publik harus terus dibangun kesadarannya untuk tidak membenarkan ketimpangan struktural melalui romantisasi penderitaan masyarakat bawah, seperti heroisme anak petani yang direproduksi lewat pembingkaian episodik. Menolak romantisasi kemiskinan bukan berarti mengecilkan daya juang luar biasa anak-anak petani yang berhasil menjadi juara. Yang sebenarnya adalah merayakan prestasi mereka bukan alasan untuk memaafkan kegagalan sistem, seperti yang terungkap dalam kasus ditangkapnya rektor Unsoed.

