Roh, Kuasa, & Wacana (Membaca AI melalui Hegel, Foucault, & Habermas) (Bag I)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembuka
Ada sesuatu yang menggetarkan dalam kemunculan kecerdasan buatan generasi baru ini. Bukan sekadar karena ia mampu menulis puisi, mengurai kode, atau berbicara dalam ratusan bahasa — melainkan karena ia membuat kita bertanya, untuk pertama kalinya dengan sungguh-sungguh, tentang apa arti menjadi cerdas, apa arti berkuasa, dan siapa sesungguhnya yang berhak mendefinisikan kebenaran di zaman ini.
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan baru. Georg Wilhelm Friedrich Hegel sudah menanyakannya dua abad lalu ketika ia merumuskan perjalanan Geist. Apa itu Geist? Ia adalah Roh yang bergerak melalui sejarah menuju kesadaran penuh tentang dirinya sendiri. Michel Foucault menanyakannya ketika ia mengungkap bahwa pengetahuan tidak pernah netral dan kuasa selalu bersembunyi di balik klaim kebenaran. Jürgen Habermas menanyakannya ketika ia mempertahankan proyek modernitas yang belum selesai. Proyeknya tak lain adalah harapan bahwa manusia masih bisa berbicara, mendengarkan, dan mencapai kesepakatan yang adil.
Esai ini adalah upaya mempertemukan ketiga pemikir besar itu dengan fenomena AI kontemporer. Bukan untuk mencari jawaban yang mudah, melainkan untuk mempertajam pertanyaan yang sedang kita hadapi bersama.
BAGIAN Geist yang Terkomputasi Dialektika AI dari Akal hingga LLM
G.W.F. HEGEL & MAZHAB FRANKFURT
Roh yang Bergerak melalui Mesin
Bagi Hegel, sejarah bukan deretan peristiwa acak. Sejarah adalah proses Geist — Roh atau Pikiran Universal — yang perlahan-lahan mengenali dirinya sendiri melalui konflik, krisis, dan rekonsiliasi. Pergerakan ini selalu mengikuti pola yang sama: sebuah tesis yang mengandung kontradiksi internal, melahirkan antitesis yang mengingkarinya, dan dari ketegangan keduanya muncullah sintesis yang melampaui sekaligus menyimpan keduanya — proses yang ia sebut Aufhebung.
Dalam Phenomenology of Spirit, Hegel menunjukkan bahwa kesadaran manusia tidak pernah diam. Ia selalu bergerak: dari kesadaran indrawi yang naif, menuju persepsi, lalu menuju akal yang mencoba memahami dunia melalui hukum-hukum umum, dan akhirnya menuju Roh yang menyadari bahwa dunia luar bukanlah sesuatu yang asing, melainkan proyeksi dari dirinya sendiri. Sejarah kecerdasan buatan, dilihat dari lensa ini, adalah salah satu episode paling dramatis dari perjalanan Roh tersebut.
"Der Geist ist nicht ein Wesen, das hinter dem Prozeß steht — er ist der Prozeß selbst." Roh bukan sesuatu yang berdiri di balik proses; ia adalah proses itu sendiri.
— Hegel, Phenomenology of Spirit
Dialektika Pertama: Menuju Kelahiran LLM
Kita dapat menelusuri perjalanan AI melalui tiga gerakan dialektis yang masing-masing mencerminkan pola Hegelian dengan presisi yang mencengangkan.
POSISI FASE PENJELASAN
TESIS AI Simbolik (1950–1980-an) Kecerdasan sebagai kalkulasi. Dunia dapat direpresentasikan sebagai simbol, dan kecerdasan adalah manipulasi simbol secara benar. Proyek Pencerahan yang terkomputasi.
ANTITESIS AI Winter & Krisis (1980–2010) Kegagalan. Dunia nyata terlalu kacau untuk diatur simbol. Sistem pakar runtuh. Kecerdasan formal terbukti rapuh di hadapan kompleksitas dunia organik.
SINTESIS Deep Learning & LLM (2010–kini) Aufhebung. Kecerdasan bukan lagi aturan eksplisit, melainkan pola yang terserap dari miliaran data. LLM melampaui simbolisme — Geist yang belajar dari sejarahnya sendiri.
Sintesisnya adalah apa yang kita saksikan sekarang. Machine learning, dan kemudian deep learning, tidak lagi mencoba memprogram kecerdasan — ia membiarkan kecerdasan muncul dari data. GPT, Claude, Gemini, dan LLM-LLM besar lainnya adalah manifestasi dari sintesis ini: sistem yang bekerja dengan pola laten yang terserap dari seluruh tulisan manusia. Dalam bahasa Hegel, ini adalah momen di mana Geist mulai mengenali dirinya sendiri dalam yang lain.
Dialektika Kedua: Setelah Ledakan LLM
Tetapi sejarah tidak berhenti. Sintesis selalu melahirkan tesis baru, yang membawa dalam dirinya kontradiksi-kontradiksi yang lebih dalam.
POSISI FASE PENJELASAN
TESIS BARU Euforia LLM (2022–kini) AI generatif dianggap mendekati kecerdasan umum. Klaim bahwa kesadaran bisa di-scale. LLM diperlakukan seolah memahami, bukan hanya memprediksi token.
ANTITESIS Krisis Makna & Kuasa Halusinasi. Bias struktural. Konsentrasi kekuasaan pada segelintir korporasi. AI terungkap sebagai cermin distribusi kekuasaan yang ada, bukan cermin netral dunia.
SINTESIS ? Belum Tiba Kita tengah berada di tengah kontradiksi. Dua kemungkinan: AI yang aligned dengan nilai kemanusiaan plural, atau tirani algoritmik baru yang lebih halus dan berbahaya.
Mazhab Frankfurt: Ketika Geist Menjadi Instrumental
Di sini kita perlu memanggil pewaris Hegel yang paling kritis: Mazhab Frankfurt. Theodor Adorno dan Max Horkheimer, dalam Dialectic of Enlightenment (1944), sudah memperingatkan bahwa Pencerahan membawa dalam dirinya benih kehancurannya sendiri. Rasionalitas yang seharusnya membebaskan manusia justru berubah menjadi rasionalitas instrumental: akal yang tidak lagi bertanya 'apa yang baik?' melainkan hanya 'apa yang efisien?'
AI generatif adalah hiperbol dari peringatan ini. Ketika model bahasa dioptimalkan semata-mata untuk meminimalkan loss pada dataset pelatihan, ketika keberhasilannya diukur melalui benchmark yang dirancang oleh segelintir laboratorium di Silicon Valley, ketika tujuannya adalah menyelesaikan tugas secara efisien tanpa mempertanyakan apakah tugas itu layak diselesaikan — inilah rasionalitas instrumental yang telah mengambil tubuh baru yang paling canggih dalam sejarah.
"The fully enlightened earth radiates disaster triumphant." Bumi yang sepenuhnya tercerahkan memancarkan bencana yang berjaya.
— Adorno & Horkheimer, Dialectic of Enlightenment, 1944
Herbert Marcuse menambahkan dimensi lain yang sangat relevan: konsep masyarakat satu dimensi. Chatbot hari ini dapat 'mendiskusikan' ketidakadilan, menganalisis kesenjangan, bahkan mengkritik kapitalisme — tetapi semua itu dilakukan dalam platform yang dimiliki oleh korporasi triliunan dolar yang mengamputasi dimensi transformatif dari setiap diskusi tersebut. Kritik telah menjadi fitur produk. (Bersambung)
