Konten dari Pengguna

Rovelli, Mitos Objektivitas & Ilusi Kecerdasan Super:Sains & AI Yang Rendah Hati

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rovelli (Sumber: Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Rovelli (Sumber: Unsplash)

Konon di sebuah desa kecil, hiduplah enam orang yang buta sejak lahir. Suatu malam, rombongan pedagang singgah membawa seekor gajah. Penduduk desa ramai-ramai mengantar keenam orang buta itu mendekat, agar mereka juga bisa "melihat" gajah lewat tangan mereka sendiri.

Orang pertama memegang belalai, lalu berkata yakin, "Gajah itu seperti ular besar."

Orang kedua meraba telinga, dan membantah, "Bukan, gajah itu seperti kipas lebar."

Orang ketiga menyentuh kaki, "Kalian keliru. Gajah itu seperti batang pohon."

Orang keempat memegang ekor, orang kelima gadingnya, orang keenam perutnya yang bulat. Masing-masing pulang malam itu dengan keyakinan penuh. Masing-masing juga yakin, teman-temannya yang lain pasti salah.

Padahal tidak satu pun dari mereka berbohong. Tidak satu pun juga yang mengarang. Mereka semua memegang sesuatu yang nyata, benar-benar ada di depan mereka. Yang keliru hanyalah anggapan bahwa apa yang mereka pegang di tangan sendiri adalah gambaran utuh sang gajah, berlaku sama untuk siapa saja yang berdiri di mana saja.

Cerita lama ini terasa hidup kembali setiap kali saya membaca gagasan Carlo Rovelli, fisikawan Italia yang karyanya paling dikenal justru menantang satu keyakinan paling dasar dalam sains: bahwa ada fakta objektif yang berdiri sendiri, sama untuk semua orang, lepas dari siapa yang mengamatinya. Rovelli menyebut dirinya penganut pandangan relasional. Baginya, sifat sebuah benda hanya benar-benar ada dalam hubungan, dalam pertemuan antara yang diamati dan yang mengamati. Persis seperti gajah tadi. Belalai itu nyata. Telinga itu nyata. Tapi "gajah seutuhnya" hanya muncul kalau keenam orang buta itu mau duduk bersama, saling mendengar, dan menyusun kepingan mereka jadi satu.

Gagasan Rovelli ini tentu menuai pro dan kontra. Sebagian menyambutnya sebagai terobosan yang membebaskan sains dari kesombongan lama. Sebagian lain menganggapnya terlalu jauh melangkah, khawatir kalau semua jadi relatif, sains kehilangan pijakan. Perdebatan itu wajar dan sehat. Tapi mari kita lihat dulu apa sebenarnya yang dimaksud Rovelli, dengan bahasa yang paling sederhana.

Dulu, orang mengira ruang dan waktu itu seperti panggung yang sama untuk semua orang. Jam di tangan Anda dan jam di tangan orang lain, di mana pun mereka berada, dianggap selalu menunjukkan waktu yang sama persis. Einstein menunjukkan itu keliru. Jam bisa berjalan berbeda, tergantung seberapa cepat pemiliknya bergerak. Tidak ada satu waktu tunggal yang berlaku untuk semua. Waktu itu relatif, tergantung dari mana kita mengukurnya.

Di dunia partikel yang sangat kecil, keanehan ini bahkan lebih dalam lagi. Sebuah partikel tidak punya sifat yang tetap sebelum ada yang mengukurnya. Sifatnya baru "muncul" pada saat terjadi interaksi, pada saat ada yang menyentuhnya, seperti belalai yang baru terasa seperti ular besar begitu ada tangan yang meraihnya. Rovelli mengambil kesimpulan berani dari sini. Kalau begitu, kata dia, mungkin memang tidak ada "gajah seutuhnya" yang berdiri sendiri di luar sana, lepas dari segala pertemuan. Yang ada hanyalah jaringan hubungan, dan kebenaran yang selalu lahir dari pertemuan itu.

Ini bukan berarti sains jadi omong kosong, bebas ditafsirkan seenaknya. Gajah itu tetap nyata. Ukurannya bisa diukur ulang, ditimbang ulang, dan hasilnya akan konsisten setiap kali. Yang berubah hanyalah cara kita memaknai kata "objektif". Objektif bukan lagi berarti "kebenaran tunggal yang berdiri sendiri, lepas dari siapa pun". Objektif yang lebih jujur berarti "kebenaran yang kokoh karena disepakati bersama, lewat banyak sudut pandang yang saling menguji", tapi tetap terbuka untuk diperbaiki begitu ada sudut pandang baru yang belum pernah dicoba.

Pelajaran dari gajah dan enam orang buta ini rupanya sedang terulang lagi, kali ini bukan di ranah fisika, melainkan di ranah yang jauh lebih ramai diperbincangkan: kecerdasan buatan. Banyak orang membayangkan kecerdasan itu seperti tangga tunggal. Manusia berdiri di anak tangga tertentu. Mesin, kalau terus diberi lebih banyak data dan lebih banyak daya komputasi, akan naik terus di tangga yang sama, sampai suatu hari melampaui manusia, lalu melesat tak terkejar. Bayangan inilah yang disebut Superkecerdasan, atau Singularity.

Tapi coba renungkan sekali lagi cerita gajah tadi. Kecerdasan seekor lumba-lumba membaca arah arus laut. Kecerdasan seorang ibu menangkap kebohongan kecil dari raut wajah anaknya. Kecerdasan seorang tukang kayu memperkirakan berapa lama kayu jati akan melengkung. Semua ini cerdas, sungguh-sungguh cerdas, tapi masing-masing dalam kerangkanya sendiri, seperti belalai yang cerdas jadi belalai dan telinga yang cerdas jadi telinga. Menganggap ada satu tangga tunggal bernama "kecerdasan", tempat otak manusia dan mesin penjawab pertanyaan bisa dibandingkan naik-turun begitu saja, adalah kekeliruan yang sama persis dengan mengira ada satu jam tunggal yang berlaku sama untuk semua orang di alam semesta.

Ahli bahasa Noam Chomsky pernah menulis kritik yang menohok soal ini. Mesin seperti ChatGPT, katanya, memang sangat pandai menebak kata apa yang paling mungkin muncul berikutnya, setelah mempelajari jutaan kalimat manusia. Tapi menebak bukan hal yang sama dengan mengerti. Anak kecil bisa mengerti kenapa gelas pecah kalau jatuh, bukan sekadar menghafal bahwa kata "jatuh" sering diikuti kata "pecah".

Federico Faggin, penemu mikroprosesor yang di masa tuanya menekuni misteri kesadaran, mengatakan hal serupa dengan cara yang lebih menyentuh. Komputer, katanya, bisa menyimpan pengetahuan sebanyak apa pun, tapi tidak pernah bisa merasakannya. Ia bisa menyimpan kata "asparagus", "manis", dan "kenangan masa kecil" dalam satu database, tapi tidak pernah benar-benar mencicipi rasa asparagus, atau merindukan masa kecil. Menyimpan bukan hal yang sama dengan mengalami.

Filsuf Harry Frankfurt, jauh sebelum era kecerdasan buatan, pernah menulis esai kecil yang kini dibaca ulang banyak orang, membedakan pembohong dari tukang omong kosong. Pembohong masih peduli pada kebenaran, sebab ia sengaja menghindarinya. Tukang omong kosong sama sekali tidak peduli benar atau salah, yang penting terdengar meyakinkan. Sejumlah pemikir kini menduga, mesin-mesin bahasa yang sedang ramai dibicarakan lebih mirip tukang omong kosong dalam pengertian Frankfurt ini. Bukan karena mereka jahat atau sengaja menipu, tapi karena mereka memang tidak dirancang untuk peduli pada kebenaran, hanya dirancang untuk terdengar meyakinkan.

Kalau begitu, sebagian besar kegaduhan tentang mesin yang "akan segera menguasai dunia" barangkali juga sedang mengulang kesalahan enam orang buta tadi. Terlalu yakin pada apa yang baru dipegang sesaat, lalu buru-buru menyimpulkan itulah gambaran utuh dari segalanya.

Mari kembali sejenak ke desa kecil itu. Konon, setelah malam pertama yang penuh perdebatan, keenam orang buta itu bertemu lagi esok harinya. Kali ini bukan untuk membela diri masing-masing, tapi untuk saling bertukar cerita. Orang yang memegang belalai mendengarkan cerita tentang telinga yang lebar. Orang yang memegang kaki mendengarkan cerita tentang ekor yang kecil. Perlahan, dari enam kepingan yang tadinya saling bertentangan, tersusunlah gambaran gajah yang jauh lebih utuh daripada yang bisa dicapai siapa pun sendirian.

Barangkali di situlah letak keberkahan yang sesungguhnya, baik untuk sains maupun untuk kecerdasan buatan. Bukan pada siapa yang paling cepat mengklaim sudah memegang seluruh kebenaran. Melainkan pada kesediaan untuk mengakui, tangan kita hanya menyentuh sebagian kecil, dan bagian yang lain hanya bisa ditemukan lewat tangan orang lain, atau lewat kesabaran menunggu pertemuan berikutnya. Sains yang rendah hati, dan kecerdasan buatan yang rendah hati, pada akhirnya bukan sains dan AI yang lebih lemah. Justru itulah yang membuat keduanya layak dipercaya. (**)