Rumah Peninggalan Rektor Pertama UGM, Prof. Dr. Sardjito di Yogyakarta Dijual

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rumah Pahlawan Nasional yang juga rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Sardjito yang berada di Jalan Cik di Tiro, Terban, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta dijual, Rabu (13/5/2026). Foto: Panji/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Rumah Pahlawan Nasional yang juga rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Sardjito yang berada di Jalan Cik di Tiro, Terban, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta dijual, Rabu (13/5/2026). Foto: Panji/kumparan

Rumah peninggalan Pahlawan Nasional yang juga rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Sardjito yang berada di Jalan Cik Ditiro, Terban, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta dijual.

Rumah berarsitektur jengki ini sempat jadi tren di era kolonial. Letaknya juga berada di jantung kota Yogyakarta, tak jauh dari area UGM. Jaraknya hanya 1 kilometer di sebelah utara rumah.

Bagian belakang rumah itu juga difungsikan sebagai kantor obat tradisional yang ditemukan Prof. Sardjito.

Sementara, di dalam rumah masih ada benda-benda bersejarah peninggalan Prof. Sardjito. Di antaranya mebel-mebel kayu seperti meja hingga lemari. Lemari itu berisi buku-buku peninggalan Prof Sardjito.

Di ruang tamu berlantai tegel itu, di sudutnya juga terdapat lemari kaca yang berisi koleksi keris-keris milik Prof. Sardjito.

Ketika menjabat Rektor UGM, rumah ini adalah rumah yang jadi tempat Prof. Sardjito berdiskusi dengan tokoh-tokoh negara. Bentuk bangunan rumah mayoritas masih asli.

Kerabat Prof. Sardjito, Budhi Santoso, mengatakan rumah yang berstatus sertifikat hak milik (SHM) ini dijual atas kesepakatan ahli waris yakni dua cucu Prof. Sardjito, Alita Poedjioetomo dan Dyani Poedjioetomo yang kini tinggal di Jakarta.

"Namanya warisan sebaiknya segera dibagi menurut saya. Saya menyarankan dikembalikan (untuk dibeli) ke UGM aja. Daripada, daripada kalau tidak dirawat dengan baik sayang rumahnya. Kalau saya. Dan sudah waktunya lah. Mereka (ahli waris) sudah usia 70an (tahun)," kata Budhi ditemui di rumah Prof. Dr. Sardjito, Rabu (13/5).

Rumah Pahlawan Nasional yang juga rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Sardjito yang berada di Jalan Cik di Tiro, Terban, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta dijual, Rabu (13/5/2026). Foto: Panji/kumparan

Budhi merupakan adik kandung dari istri Pek Poedjioetomo, anak tunggal Prof. Dr. Sardjito dengan Soeko Emmi Sardjito.

Budhi sudah tinggal di rumah ini sejak 1980 menemani Soeko. Sementara Sardjito sudah meninggal dunia sejak 1970.

"Saya dengan Pak Sardjito dan Bu Sardjito adalah adik mantu. Ayah saya ketika itu berbesan dengan Prof Sardjito," kata Budhi.

Pek Poedjioetomo pada waktu itu sering ke luar negeri. Budhi kemudian ditugaskan di rumah menemani Soeko Emmi.

"Dan di sini kebetulan Bu Sardjito juga melestarikan penemuan Prof. Sardjito obat tradisional yang namanya Calcusol peluruh batu urine," ceritanya.

Hari demi hari, Budhi kemudian diamanahi Soeko Emmi untuk mendampingi, menjaga, dan melestarikan penemuannya Prof. Sardjito ini dan diberi nama Perusahaan Jamu Tradisional Dr. Sardjito atau PT PJT Dr. Sardjito.

Ketika Soeko Emmi meninggal dunia, maka penggantinya adalah anaknya. Lalu berlanjut pada dua cucu Prof. Sardjito.

"Nah akhirnya estafet demi estafet sekarang pemegang tampuk usaha adalah buyutnya. Berarti kan saya sudah melampaui masa regenerasi empat zaman kan. Bu Sardjito, putranya, cucunya, buyutnya," katanya.

Dijual di Harga Miliaran Rupiah

Rumah ini memiliki luas tanah 1.206 meter persegi. Sementara luas bangunan kira-kira 800 meter persegi.

Lalu, di angka berapa rumah bersejarah ini dijual?

"Enggak usah bilang ya pokoknya M gitu aja (miliaran)," kata Budhi.

Rumah Pahlawan Nasional yang juga rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Sardjito yang berada di Jalan Cik di Tiro, Terban, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta dijual, Rabu (13/5/2026). Foto: Panji/kumparan

Budhi mengatakan rumah ini bukan rumah cagar budaya tetapi masuk sebagai rumah warisan budaya.

"Rumah induk yang gini itu tidak boleh diubah (bentuknya). Ketika pemiliknya ubah dendanya 500 juta ya," katanya.

Sementara bangunan tambahan dipersilakan jika direnovasi atau diubah.

Ditawarkan ke UGM, UII, hingga Tokoh di Yogya

Budhi berpendapat agar rumah ini bisa dirawat oleh UGM.

"Karena rumah ini adalah rumah bersejarah. Pak Karno, Sri Sultan Hamengkubuwono, Pak Hatta dan yang lain termasuk ayahnya Bapak Prabowo yang sekarang Presiden pernah ke sini. Buktinya ada," katanya.

Jika tidak UGM, harapannya UII, di mana Prof Sardjito juga pernah jadi rektor di sana, bisa merawatnya.

"Dulu sampai pernah nego dan sebagainya sampai Ibu Rektor (UGM) datang ke sini. Saya sarankan Ibu kalau rumah ini jadi dilepas, pergunakan lah sebaik mungkin sebagai rumah dinas antar rektor," katanya.

Rumah Pahlawan Nasional yang juga rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Sardjito yang berada di Jalan Cik di Tiro, Terban, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta dijual, Rabu (13/5/2026). Foto: Panji/kumparan

Kalau pun tidak, Budhi menilai rumah itu bisa digunakan sebagai museum atau rumah bakti sosial untuk kesehatan. Sehingga, ruh Prof. Sardjito masih ada.

"Tapi maaf kalau ini dibeli sama orang asing ya entah siapa pun nek dinggo (kalau dipakai) kafe saya tuh susah, ngelus dada," katanya.

"Paling mulia rumah ini dipakai hunian pribadi atau dibeli UGM atau UII dipakai rumah sejarah," jelasnya.

Sejumlah tokoh yang dinilai bisa merawat peninggalan rumah ini juga telah diberikan penawaran oleh Budhi. Misalnya saja eks Wali Kota Yogya Herry Zudianto hingga Wali Kota Yogyakarta sekarang Hasto Wardoyo.

"Nekat saya tawarkan dengan wali kota yang sekarang tapi ya lewat salah satu kerabatnya ya," katanya.

"Saya juga menawarkan pada seorang alumni UGM yang sudah menjadi dokter terkenal ada dua. Saya juga sudah mendekatkan pada salah satu pejabat di Jogja. Entah nanti siapa yang beruntung saya enggak tahu ya," katanya.

Tak Tahu Rumah Ditawarkan di Medsos

Di sisi lain, Budhi tidak tahu kenapa penjualan ini sampai diiklankan di media sosial.

"Saya itu malah malu ketika saya melihat (ada iklan) malu ya. Kalau memang ini dilepas dan kata mau dijual kalau saya seperti yang saya kan sudah menawarkan sepuluh orang. Saya secara pribadi face to face atau saya lewat rekan tokoh kerabat. Tapi sudah masuk di iklan saya terus terang aja saya malu," katanya.