Rupiah Melemah dan Utang Merajalela, Salah Siapa?

Editor dan pendongeng
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Isnaini Khomarudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kurs dolar terus melonjak terhadap mata uang kita. Rupiah melemah dan ekonomi lesu, rakyat sengit sebab tak tahu ke mana harus mengadu. Sebagian curhat di medsos karena kebutuhan kian sulit dipenuhi dengan pendapatan yang kian tak memadai. Harga-harga barang mencekik, dan pejabat yang diharapkan terlihat hanya bisa cekakak-cekikik. Salah siapa?

Bukan bermaksud mencari kesalahan, tapi mengutarakan kegelisahan yang memang layak diperhatikan oleh segenap pemangku kepetingan dan perumus kebijakan. Hajat hidup rakyat harus mendapat sorotan penuh dan semaksimal mungkin mendapatkan solusi sesuai sumber daya negara yang berlimpah.
Tidak hanya subsidi yang dikaji kembali, tetapi juga penegakan aturan di lapangan. Jangan sampai kebijakan disalahgunakan, baik dikeruk oleh oknum pemerintah ataupun salah sasaran kepada penerima yang sebetulnya tidak berhak.
Rupiah melemah, rakyat terluka
Rakyat makin terluka dengan ucapan presiden bahwa dolar tidak dipakai di desa-desa. Intinya, pernyataan ini menyiratkan seolah naiknya dolar terhadap rupiah tak akan memengaruhi kehidupan ekonomi warga perkampungan.
Ini jelas keliru dan perlu diluruskan. Secara praktis, warga desa memang tak bertransaksi menggunakan mata uang dolar. Orang-orang di perkotaan pun belum tentu pakai dolar. Namun, naiknya kurs dolar dan melemahnya rupiah sungguh berdampak pada daya beli mereka.
Akhirnya, berutang menjadi niscaya, bahkan tak terhindarkan. Ketimbang melakukan kejahatan, misalnya, warga masih mending pinjam uang yang tidak melanggar aturan. Masalah menjadi pelik karena pembayaran tak semudah yang dijanjikan. Sebab semua terdampak oleh lesunya ekonomi nasional.
Jadi teringat pada bait-bait ke-6 dan ke-7 dalam syair Dhandanggula karya KGPAAMangkunegara IV yang digurat dalam Serat Darmawasita. Utang mendapat catatan tersendiri lantaran signifikan dan menentukan banyak perihal kehidupan.
6
angêdohkên durtaning kang ati | anyêdhakkên rahayuning badan | dèn andêl mring sêsamane | lan malih wêkas ingsun | aja tuman utang lan silih | anyudakkên darajat | camah wêkasipun | kasoran prabawanira | mring kang potang lawan kang sira silihi | nyatane angrêrêpa
Artinya:
Menjauhkan rasa iri | mendekatkan pada keselamatan badan | dapat dipercaya sesama | dan lagi pesanku | jangan membiasakan berutang dan meminjam | mengurangi harga diri | mendapat malu akhirnya | kalah kewibawaanmu | terhadap yang menghutangi dan yang meminjamimu | kenyataannya minta dikasihani
7
luwih lara-laraning kang ati | ora kaya wong tininggal arta | kang wus ilang piandêle | lipure mung yèn turu | lamun tangi sungkawa malih | yaiku ukumira | wong nglirwakkên tuduh | ingkang aran budidaya | têmah papa asor dènira dumadi | tan amor lan sêsama
Yang berarti sebagai berikut. Bahwa rasa sakit hati (baca: kepedihan) akibat ditinggalkan atau tidak punya uang masih jauh lebih parah ketimbang sakit hati karena hal lain. Akibat utang piutang orang yang semula berteman atau karib sebagai kerabat mendadak terkikis rasa percaya diri salah satu pihak.
Utang tak terelakkan
Orang yang punya utang dilanda rasa malu yang besar dan berkepanjangan dan hanya terhibur tatkala ia tertidur. Itu pun tak nyenyak sebab utang menggelayuti pikiran, khawatir tak bisa bayar dan merusak persaudaraan. Maka ketika bangun himpitan susah kembali dirasakan sebagai hukuman atas pilihan yang salah, yakni berutang.
Namun, siapa yang salah sebenarnya? Bukankah kesejahteraan dan kemakmuran rakyat mestinya menjadi perhatian utama para pejabat atau mereka yang mendapat mandat dari rakyat sebagai pengelola (kekayaan) negara? Jadi berutang justru menjadi pilihan logis tanpa menimbulkan kericuhan seumpama ia memilih jalan pintas dengan membegal atau melakukan pencurian.
Gemah ripah untuk siapa?
Faktanya, orang berteriak dan mengeluh tapi negara seolah enggan hadir dalam ruang-ruang diskusi. Ada pejabat bahkan menyebut tidak perlu kebanyakan diskusi atau forum rembuk. Padahal momen seperti ini jadi perjumpaan penting untuk mempertemukan atau menganalisis kebutuhan. Dari sana, kebijakan lebih presisi bisa dirumuskan agar tepat sasaran dan anggaran yang dibelanjakan bisa bermanfaat sebesar-besarnya bagi rakyat dan umat.
Siapa yang rendah diri atau rendah hati saat ini? Rakyat sakit hati, hanya bisa diam dan berutang dari kanan kiri lingkup pergaulan. Rupiah melemah, dolar melonjak. Gemah ripah apakah sekadar slogan tanpa jejak?
