Saat Anak SD Terjebak 'Geng': Antara Solidaritas dan Takut Dikucilkan

Mahasiswa PGSD Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Cinta Hana Kamilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bagi anak-anak usia sekolah dasar, gerombolan kecil atau yang kerap mereka sebut sebagai "geng" bukan sekadar tempat bermain. Di balik gelak tawa di jam istirahat, tersimpan sebuah arena sosial yang kompleks. Bergabung dengan sebuah kelompok sering kali dipuja sebagai lambang popularitas dan solidaritas, namun di sisi lain, ia juga bisa menjelma menjadi bentuk tekanan psikologis yang sunyi—di mana rasa takut dikucilkan menjadi rantai tak kasat mata yang mengekang kebebasan berekspresi anak.

Fenomena kelompok sebaya (peer group) pada anak usia 7 hingga 12 tahun merupakan fase krusial dalam perkembangan psikososial mereka. Menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson, anak pada usia ini berada dalam tahap industry vs inferiority (ketekunan vs rasa rendah diri), di mana validasi dari kelompok sosial di luar keluarga mulai memegang peran sentral dalam membangun harga diri mereka.
Ketika Solidaritas Menjadi Beban Secara naluriah, anak-anak mencari rasa aman dengan berkelompok. Solidaritas semestinya menjadi wadah untuk belajar berbagi, bekerja sama, dan membangun empati. Namun, dalam dinamika geng anak SD modern, solidaritas sering kali bergeser makna menjadi konformitas buta. Anak-anak kerap dihadapkan pada dilema moral yang pelik, seperti harus mengikuti aturan tidak tertulis kelompok demi diakui, meskipun hal tersebut bertentangan dengan kata hati mereka. Mulai dari urusan selera fesyen, gaya bicara, hingga tindakan yang lebih ekstrem seperti ikut-ikutan merunduk (bullying) anak lain agar mereka tidak menjadi target sasaran berikutnya. Riset psikologi perkembangan menunjukkan bahwa rasa takut ditolak (fear of rejection) pada anak SD sangatlah tinggi. Pengucilan sosial—meskipun hanya berupa tidak diajak duduk bersama saat makan siang atau dikeluarkan dari grup perpesanan—dapat memicu rasa sakit emosional yang intens, yang oleh neurosains diproses di bagian otak yang sama dengan rasa sakit fisik. Akibatnya, anak rela melakukan apa saja, kehilangan identitas aslinya, demi kata diterima. Wajah Baru Tekanan Sosial di Era Digital Dinamika geng masa kini juga semakin rumit dengan hadirnya teknologi. Tekanan tidak lagi berhenti ketika bel sekolah berbunyi dan anak pulang ke rumah. Melalui gawai, perundungan relasional dan rasa terasingkan terus mengepung lewat layar, siapa yang membalas status siapa, siapa yang masuk dalam lingkaran pertemanan tertutup, hingga standar validasi jempol dan komentar. Anak-anak yang terjebak dalam lingkaran ini sering kali mengalami kecemasan tersendiri. Mereka takut tertinggal (FOMO - Fear of Missing Out), namun di sisi lain merasa lelah harus terus-menerus menyesuaikan diri dengan standar kelompok yang kerap tidak realistis.
Peran Kritis Orang Tua dan Pendidik Menghadapi realitas sosial ini, orang tua dan guru tidak boleh memandang sebelah mata persoalan pertemanan anak dengan dalih "ah, itu cuma drama anak-anak". Pengalaman sosial di masa SD membentuk fondasi bagaimana mereka memandang hubungan interpersonal di masa depan.
Langkah pertama yang harus diambil adalah membangun ruang komunikasi yang aman di rumah. Alih-alih langsung menghakimi atau melarang anak bergaul dengan kelompok tertentu, orang tua perlu melatih anak untuk berpikir kritis tentang arti pertemanan yang sehat. Ajarkan anak untuk mengenali perbedaan antara belonging (rasa memiliki yang tulus) dan fitting in (memaksa diri agar cocok demi diterima). Sekolah juga harus proaktif menciptakan budaya inklusif, di mana kolaborasi lintas kelompok didorong, dan perilaku eksklusif seperti pembentukan geng yang diskriminatif dipantau dengan tegas. Sebab pada akhirnya, masa kecil anak-anak seharusnya diisi dengan kebebasan berteman yang didasari ketulusan, bukan kecemasan akan dikucilkan.
