Saat Berkah Dihitung Seperti Omzet

Eks. Imam Besar Masjid NU At-Taqwa, Jepang. Dai Internasional dan pengajar pesantren di Probolinggo asal Temanggung, yang pernah aktif berdakwah di Korea, Taiwan, dan Jepang.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Muhammad Riza Diponegoro tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Subuh belum sepenuhnya pecah ketika pengeras suara masjid pesantren menyalakan lantunan asmaul husna, dan di sudut lain kompleks, seorang santri muda membuka aplikasi kamera untuk merekam wajahnya sendiri sedang mengaji, siap diunggah sebelum jamaah subuh usai. Dua peristiwa itu terjadi dalam satu tarikan napas, di satu tempat yang sama, dan justru di situlah letak keretakan yang hendak dibaca esai ini. Filsuf Korea-Jerman Byung-Chul Han pernah menulis bahwa masyarakat modern tidak lagi dijajah oleh kekuasaan yang memaksa dari luar, melainkan oleh kesenangan yang membujuk dari dalam. Ia menyebutnya kekuasaan yang tersenyum. Pertanyaannya, apakah pesantren, benteng terakhir yang konon menyimpan waktu lambat dan laku batin, sudah ikut tersenyum kepada logika itu.
Untuk memahami betapa dalamnya pergeseran ini, ada baiknya kita bandingkan dua zaman kepatuhan. Di zaman lama, seorang santri patuh kepada kiai karena ada rasa segan yang lahir dari kehadiran fisik sang guru, dari tatapan yang bisa menegur tanpa kata, dari aturan pondok yang jelas batasnya dan jelas hukumannya bila dilanggar. Ada semacam malaikat roqib atid atau kalau meminjam budaya Kristen Eropa: "sinterklas" (pencatat perbuatan) dalam bayangan itu, sosok pengawas dari luar yang mencatat siapa yang lalai dan siapa yang taat, lalu membalasnya dengan pujian atau hukuman. Kepatuhan semacam ini, meski kadang keras, punya batas yang bisa dilihat mata. Seseorang tahu kapan ia sedang diawasi dan kapan ia bebas dari pengawasan itu.
Tetapi di zaman yang tengah kita jalani, batas itu lenyap. Tidak ada lagi jam malam yang perlu diawasi penjaga gerbang, karena santri sendiri yang mengunggah jadwal hariannya ke media sosial, lengkap dengan tagar rajin dan tagar berkah, seolah dirinya sendiri yang menjadi penjaga sekaligus tontonan. "Sinterklas" itu belum menghilang, ia hanya pindah alamat, dari menara pengawas ke dalam kepala setiap orang. Manusia modern, dan dalam konteks ini santri modern, tidak lagi butuh diawasi untuk bekerja melampaui batas. Ia mengawasi dirinya sendiri, menghukum dirinya sendiri lewat rasa bersalah, dan memberi hadiah kepada dirinya sendiri lewat rasa puas yang semu.
Ada yang berubah dalam cara pesantren memaknai dirinya sendiri, dan perubahan itu jarang datang lewat kekerasan. Ia datang lewat kemudahan. Zuhud yang dulunya berarti melepas kelekatan pada dunia kini bisa dijual sebagai gaya hidup hijrah, lengkap dengan warna pastel dan pencahayaan yang tepat. Ke-tawadu-an yang dulunya diam-diam, tumbuh di ruang gelap tanpa saksi, kini butuh disaksikan agar dianggap sungguh terjadi. Han menyebut proses ini sebagai lenyapnya ritual, sebuah dunia yang kehilangan jarak dan kesunyian karena segalanya dituntut untuk segera tampil dan segera menghasilkan. Ritual yang dulunya berjalan lambat, penuh pengulangan yang tak tergesa, kini dipangkas menjadi konten yang harus selesai dalam durasi lima belas detik. Bahkan tirakat, laku prihatin yang dulunya dijalani dalam kesunyian penuh, kini bisa muncul sebagai judul unggahan, seolah menahan lapar hanya punya makna bila ada yang menyaksikan.
Namun, di sisi lain, kerusakan yang paling dalam bukan pada permainan imej/citra, melainkan pada tubuh dan jiwa mereka yang bekerja di dalamnya. Santri senior yang berkhidmat kepada kiai, mengurus dapur, mengasuh adik kelas, menjaga gerbang hingga larut, sering melakukannya tanpa upah yang layak, dan anehnya mereka tidak merasa dipaksa. Mereka merasa berbakti. Di sinilah Han menemukan bentuk penindasan paling licin abad ini, yang ia sebut eksploitasi diri. Tidak ada mandor dari luar yang bengis mengawasi mereka bekerja. Yang mengawasi adalah suara dalam diri sendiri yang berbisik bahwa lelah ini akan berbuah berkah, bahwa mengeluh berarti kurang ikhlas. Manusia yang percaya dirinya bebas, pada kenyataannya sedang memeras dirinya sendiri hingga batas paling akhir, dan karena pemerasan itu berasal dari dalam, ia tidak pernah terasa seperti penindasan. Seorang santri bisa tidur tiga jam semalam demi menyelesaikan tugas piket sekaligus menghafal, lalu tersenyum ketika ditanya kabar, karena mengeluh dianggap sebagai tanda lemah iman, bukan tanda tubuh yang butuh istirahat.
Kesalehan pun perlahan berubah menjadi instrumen kendali yang jauh lebih efektif daripada tongkat rotan. Han menamainya psikopolitik, kekuasaan yang bekerja lewat pengelolaan perasaan, bukan lewat larangan. Narasi tentang pahala, tentang ketaatan kepada guru, tentang keberkahan yang menanti di ujung kesabaran, bisa dengan mudah dipakai untuk menjinakkan pertanyaan kritis. Siapa yang berani menuntut hak ketika tuntutan itu bisa dibaca sebagai kurangnya rasa syukur. Kepatuhan yang dulunya lahir dari cinta kepada ilmu, kini rawan ditunggangi menjadi kepatuhan yang lahir dari rasa bersalah. Seorang pengurus pondok yang menuntut kenaikan honor, misalnya, bisa dengan mudah dibungkam bukan lewat ancaman, melainkan lewat pertanyaan halus, apakah ia mengabdi karena Allah atau karena uang. Pertanyaan itu terdengar suci, padahal fungsinya menutup ruang tawar menawar yang wajar.
Di luar gerbang pesantren, pasar kerja juga ikut menuntut wajah baru dari seorang santri. Istilah santripreneur dan santri digital lahir bukan tanpa maksud. Ilmu yang dulunya dicari demi ilmu itu sendiri, thalabul ilmi yang tidak menuntut balasan segera, kini diminta membuktikan kegunaannya dalam angka omzet dan jumlah pengikut. Sanad keilmuan yang dulu diwariskan lewat mata yang bertemu mata, lewat "sujud" yang lama di hadapan guru, kini diringkas menjadi sertifikat yang bisa dipajang di linimasa. Bukan berarti sertifikat itu jahat, tetapi ketika transmisi spiritual yang lambat dan personal itu direduksi menjadi validasi formal semata, sesuatu yang esensial ikut hilang dalam perjalanan. Lembar kertas Ijazah kini lebih mudah dipercaya daripada mata yang menatap lama, padahal ilmu pesantren dulunya justru tumbuh dari tatapan itu, dari waktu yang dihabiskan berdua tanpa terburu selesai.
Yang paling menyayat dari pembacaan Han adalah korban dari proses ini jarang menyadari dirinya korban. Mereka justru merasa sedang naik kelas, sedang menjadi santri yang relevan, santri yang mengikuti zaman. Perasaan tertindas, kata Han, sudah lama diganti oleh perasaan gagal secara pribadi. Ketika seorang santri kelelahan, ia tidak lagi menyalahkan sistem yang menuntutnya bekerja tanpa henti atas nama berkah, ia menyalahkan dirinya sendiri karena dianggap kurang ikhlas menjalani proses. Di titik ini, pesantren yang semula berdiri sebagai ruang perlawanan terhadap logika pasar, diam-diam berbalik menjadi salah satu mesin yang paling rapi menjalankan logika itu, justru karena memakai bahasa langit untuk membenarkan kelelahan di bumi.
Ironi ini bertambah pahit ketika disandingkan dengan sejarah kelahiran pesantren itu sendiri. Dulu, pesantren tumbuh justru sebagai perlawanan terhadap zaman kolonial yang serba menghitung untung rugi, sebuah ruang yang sengaja dijaga lambat agar manusia sempat mengenal dirinya sebelum dikenal pasar. Kini, ketika kolonialisme fisik sudah lama pergi, kolonialisme yang lebih halus datang lewat algoritma, lewat tuntutan tampil, lewat godaan validasi instan yang terasa manis di lidah namun perlahan mengikis apa yang dulu membuat pesantren berbeda dari dunia luar.
Bukan berarti seluruh dunia pesantren telah jatuh ke jurang ini. Masih banyak kiai yang menolak menghitung berkah dengan kalkulator, masih banyak santri yang mengaji karena rindu, bukan karena tayang. Masih ada pondok yang justru mematikan telepon genggam santrinya di jam mengaji, bukan demi konten, melainkan demi mengembalikan "ruang sunyi" yang dulu memang menjadi rumah bagi ilmu. Tetapi arah angin patut diwaspadai, sebab "kapitalisme lanjut," sebagaimana dibaca Han, tidak pernah datang dengan wajah serigala. Ia datang dengan wajah yang tersenyum, menawarkan pertumbuhan, menawarkan pengakuan, menawarkan rasa berguna, sementara diam-diam mengambil sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu waktu yang lambat, kesunyian yang jujur, dan pengabdian yang tidak butuh disaksikan siapa pun.
Barangkali tugas pesantren hari ini bukan menolak zaman, sebab menolak sepenuhnya hanya akan membuatnya makin terasing dari generasi yang lahir bersama layar. Tugas yang lebih berat justru mengembalikan jarak, mengizinkan ritual berjalan lambat lagi, mengizinkan khidmat tetap menjadi rahasia antara santri dan Tuhannya, tanpa perlu ditukar dengan tanda jempol dari dunia yang gampang lupa. Sebab keberkahan, jika ia sungguh ada, tidak pernah butuh kamera untuk membuktikan dirinya nyata, dan "sinterklas" yang sesungguhnya, kalau boleh dipinjam konsep dan istilahnya sekali lagi, hanya perlu Yang Satu, yang mengetahui amal hamba-Nya bahkan sebelum amal itu sempat diunggah ke mana pun.
