Konten dari Pengguna

Saat Tubuh Masih Ingat Trauma yang Dikira Sudah Sembuh

Putri Keiko

Putri Keiko

Mahasiswi Kedokteran Hewan Universitas Airlangga

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Keiko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi respons trauma dan beban emosional akibat pengalaman masa lalu. (Sumber: RyanMcGuire/Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi respons trauma dan beban emosional akibat pengalaman masa lalu. (Sumber: RyanMcGuire/Pixabay)

Pernahkah kamu merasa tiba-tiba dada terasa sesak setiap melewati tempat yang dulu jadi lokasi kejadian yang tidak menyenangkan? Atau jantung berdebar kencang dan gemetaran ketika melihat seseorang yang pernah menyakitimu? Mungkin kamu juga sering dibilang “lebay”, “baperan”, atau “move on dong, itu kan cuma masa lalu”.

Padahal reaksi seperti itu bukan soal lebay. Bisa jadi tubuhmu memang masih mengingat trauma yang pikiranmu kira sudah selesai.

Saat kita mengalami kejadian yang sangat menakutkan, atau menyakitkan, misalnya perundungan, kekerasan, kehilangan orang tersayang, ataupun perlakuan buruk di masa lalu, otak mencatatnya sebagai tanda bahaya. Tubuh kemudian merespons dengan meningkatkan kewaspadaan, yang ditandai dengan detak jantung lebih cepat, otot menegang, dan napas menjadi lebih pendek (Brewin et al.,2025)

Respons tersebut sebenarnya merupakan mekanisme alami tubuh untuk melindungi diri dari bahaya. Namun, pada sebagian orang, respons ini tetap muncul meskipun ancaman sudah berlalu. Otak masih dapat menanggapi hal-hal yang mengingatkan pada pengalaman masa lalu sebagai ancaman, misalnya bau tertentu, suara, nada bicara seseorang, atau suasana yang serupa dengan kejadian sebelumnya. Dalam psikologi, proses ini berkaitan dengan pembelajaran rasa takut (fear learning) dan respons pengingat trauma (trauma reminders), yaitu ketika hal-hal yang mirip dengan kejadian lama ikut memicu reaksi takut (Ney et al.,2022)

Pulih Itu Tidak Harus Selalu Baik-Baik Saja

Salah satu hal yang membuat pengalaman ini semakin berat adalah penilaian dari lingkungan sekitar. Seseorang mungkin mendengar kalimat seperti, “Itu kan sudah lama,” atau “ Kamu terlalu baperan”. Ucapan semacam itu bisa membuat seseorang mempertanyakan perasaannya sendiri. Ia mungkin merasa bersalah karena belum sepenuhnya merasa nyaman, meskipun sudah berusaha melanjutkan hidup.

Padahal, pulih bukan berarti tidak pernah merasa takut atau sedih lagi. Setiap orang memiliki proses pemulihan yang berbeda-beda. Ada yang dapat kembali nyaman dalam waktu relatif singkat, sedangkan yang lain membutuhkan waktu lebih lama untuk menghadapi hal-hal yang mengingatkannya pada pengalaman buruk.

Reaksi terhadap pengalaman buruk bukanlah sesuatu yang perlu dianggapnya sepele. Pengalaman setiap orang memang berbeda, tetapi dampaknya terhadap kesehatan mental menunjukkan bahwa persoalan ini layak dipahami lebih jauh, bukan sekadar dinilai sebagai bentuk kelemahan diri.

Ini Bukan Cuma Dialami Segelintir Orang

Kalau kamu merasa sendirian, sebenarnya banyak orang lain yang mengalami hal serupa. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2025) menunjukkan bahwa lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental, atau sekitar satu dari tujuh orang. Kecemasan dan depresi menjadi masalah yang paling umum ditemukan. Dalam satu dekade terakhir, kelompok usia 20-29 tahun juga tercatat mengalami peningkatan kasus yang cukup besar.

Di Indonesia, masalah kesehatan mental juga banyak dialami oleh anak muda. Survei Kesehatan Indonesia (Kemenkes, 2023) menunjukkan bahwa kelompok usia 15-24 tahun memiliki angka depresi tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Sementara itu, survei I-NAMHS (2022) menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja berusia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir. Dari jumlah tersebut, sekitar 5,5% di antaranya sudah masuk kategori gangguan mental.

Kondisi ini juga terlihat dari hasil pemeriksaan kesehatan mental melalui program Cek Kesehatan Gratis Kementerian Kesehatan pada 2026 juga menunjukkan kondisi yang perlu diperhatikan. Dari sekitar 7 juta anak yang menjalani skrining, sebanyak 4,4% menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8% menunjukkan gejala depresi. Selain itu, Kemenkes (2026) mencatat bahwa hanya sekitar 12,7% orang yang mengalami depresi mendapatkan pengobatan. Artinya, masih banyak orang yang membutuhkan bantuan, tetapi belum mendapatkannya.

Jadi, jika kamu atau orang di sekitarmu kewalahan secara emosional, jangan langsung menganggapnya sebagai kelemahan atau menyebutnya “mental tempe”. Masalah kesehatan mental merupakan hal nyata yang dialami banyak orang dan perlu ditanggapi dengan kepedulian, bukan penghakiman.

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Ketika tubuh kembali bereaksi terhadap pengalaman yang tidak menyenangkan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah berhenti menyalahkan diri sendiri. Kamu tidak harus memaksa diri sendiri untuk segera baik-baik saja hanya karena kejadian tersebut yang sudah lama berlalu. Cobalah memahami apa yang kamu rasakan tanpa menganggapnya sebagai tanda bahwa kamu lemah atau gagal untuk pulih.

Saat rasa takut atau cemas muncul, kamu bisa mencoba mengambil napas secara perlahan, memperhatikan napas secara perlahan, memperhatikan keadaan di sekitarmu, dan mengingatkan diri sendiri bahwa kamu sedang berada di masa sekarang. Jika memungkinkan, menjauhlah sejenak dari situasi yang terasa terlalu berat dan berikan waktu kepada diri sendiri untuk menenangkan diri.

Kamu juga tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Bercerita kepada orang yang kamu percaya dapat menjadi salah satu cara untuk memperoleh dukungan. Jika reaksi tersebut terus berulang, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau membuatmu kesulitan menjalani kehidupan, mencari bantuan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental merupakan langkah yang patut dipertimbangkan.

Kamu Tidak Harus Membuktikan Bahwa Kamu Sudah Pulih

Pada akhirnya, tidak semua hal yang telah berlalu benar-benar terasa selesai. Ada pengalaman yang mungkin sudah lama terjadi, tetapi masih meninggalkan rasa takut, sedih, atau tidak nyaman ketika sesuatu mengingatkannya kembali. Hal itu tidak otomatis berarti seseorang gagal melanjutkan hidupnya.

Pulih bukan tentang melupakan semua yang pernah terjadi atau memastikan bahwa diri kita tidak akan pernah merasa sakit lagi. Pulih juga berarti belajar memahami diri sendiri, menemukan cara untuk menghadapi perasaan yang muncul dan perlahan kembali merasa aman dalam menjalani kehidupan.

Luka yang tidak terlihat bukan berarti tidak nyata. Tubuhmu tidak mengada-ada. Ia hanya berusaha melindungimu dengan cara yang dulu pernah dibutuhkan. Tugasmu sekarang bukan menyalakan diri, tapi pelan-pelan mengajari tubuh bahwa kamu sudah aman.

Sembuh itu bukan soal melupakan, tapi soal belajar hidup tanpa terus dikendalikan oleh ingatan itu. Dan prosesnya boleh pelan.