Saat Wilayah Lain Mati Lampu, Dusun di Kulon Progo Ini Tetap Terang Berkat PLTMH

Di saat pemadaman listrik terjadi di sejumlah wilayah, termasuk di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dalam beberapa hari terakhir, suasana berbeda terlihat di Dusun Kedungrong, Kalurahan Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo.
Aktivitas warga tetap berjalan normal karena pasokan listrik di dusun tersebut tidak bergantung pada jaringan PLN, melainkan berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat.
Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong, Sumberini, mengatakan seluruh rumah di dusun tersebut kini telah menggunakan PLTMH sebagai sumber listrik utama. Prosesnya berlangsung bertahap sejak pembangkit mulai beroperasi pada 2012 hingga satu kepala keluarga (KK) terakhir bergabung pada 2025.
“Awal pertama kan 2012. Waktu itu baru untuk penerangan jalan, beberapa rumah, kemudian UMKM seperti bengkel. Pertama lima rumah saja. Terus bertambah sedikit demi sedikit,” ujar Sumberini kepada Pandangan Jogja, Kamis (25/6).
“Sekitar tahun 2020 hampir semuanya sudah menggunakan PLTMH. Tapi ada satu KK yang baru bergabung pada 2025, jadi sekarang sudah semuanya,” lanjutnya.
Menurutnya, keberadaan PLTMH membuat warga tidak lagi khawatir ketika terjadi pemadaman listrik.
“Tidak terpengaruh seperti daerah lain. Saat (listrik) PLN mati, dusun kami tetap hidup,” katanya.
Listrik untuk Rumah Tangga dan UMKM
Bendahara Pengelola PLTMH Kedungrong, Rahmat Sutejo, mengatakan saat ini pengguna PLTMH mencakup sekitar 50 kepala keluarga.
“Kalau kita berbicara KK itu sekitar 50-an KK. Tapi kalau rumah tidak sampai 50 karena ada satu rumah yang dihuni dua KK,” ujarnya.
Rahmat menjelaskan setiap rumah memperoleh alokasi daya 450 watt dengan arus 2 ampere.
“Kalau standar warga itu 2 ampere setara 450 watt. Untuk kulkas, elektronik rumah tangga, dan penerangan itu cukup,” katanya.
Listrik PLTMH ini digunakan untuk memenuhi hampir seluruh kebutuhan rumah tangga, mulai dari penerangan, magic com, kulkas, mesin cuci, hingga setrika.
Sejumlah pelaku UMKM seperti bengkel, penjahit, dan salon juga telah mengandalkan pasokan listrik dari PLTMH.
“Kalau industri kami beri sampai 4 ampere sampai 6 ampere sesuai kebutuhannya,” tambah Rahmat.
Iuran Rp12 Ribu per Selapan
Untuk biaya operasional, warga hingga kini masih membayar iuran sebesar Rp12.000 setiap 35 hari atau satu siklus selapan. Besaran tersebut telah bertahan selama beberapa tahun terakhir.
Rahmat mengatakan besaran iuran bukan merupakan tarif listrik yang ditetapkan pengelola, melainkan hasil kesepakatan bersama warga.
“Awalnya Rp7.000, kemudian bertambah sampai Rp12.000. Ini bukan tarif listrik, tetapi iuran hasil kesepakatan warga. Kalau nanti ada penyesuaian juga harus melalui musyawarah dengan warga,” ujarnya.
PLN Tetap Dipertahankan sebagai Cadangan
Meski seluruh rumah menggunakan PLTMH sebagai sumber listrik utama, warga tetap mempertahankan sambungan PLN. Namun, fungsinya hanya sebagai cadangan ketika pembangkit mikrohidro tidak dapat beroperasi.
Ketua Pengelola PLTMH Kedungrong, Sumberini, menjelaskan PLTMH memanfaatkan aliran irigasi sehingga setiap tahun terdapat penghentian aliran air selama sekitar dua pekan untuk pemeliharaan saluran.
“Kami belum bisa lepas dari PLN karena air selokan juga ada matinya. Biasanya pertengahan Juli sekitar dua minggu untuk pemeliharaan saluran. Kalau selokan mati kami menggunakan PLN. Tapi kalau air tetap mengalir kami tetap menggunakan PLTMH,” ujarnya.
Selain itu, Rahmat mengatakan sambungan PLN juga masih dimanfaatkan untuk beberapa perangkat elektronik yang membutuhkan tegangan lebih stabil.
“Kalau elektronik yang sekiranya riskan dengan arus yang fluktuatif itu tetap memakai PLN,” katanya.
Jadi Lokasi Studi Banding Kampus Dalam dan Luar Negeri
Keberhasilan pengelolaan PLTMH Kedungrong menarik perhatian berbagai lembaga pendidikan dari dalam maupun luar negeri.
Salah satunya mahasiswa peserta program Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies (ACICIS), yang rutin berkunjung untuk mempelajari pengelolaan energi terbarukan berbasis masyarakat.
“Sudah sekitar lima tahunan. Tahun 2025 kemarin ada sekitar 200 mahasiswa, dibagi dua gelombang,” ujar Sumberini.
Selain peserta program ACICIS Australia, PLTMH Kedungrong juga kerap menerima kunjungan mahasiswa UGM, organisasi masyarakat sipil, komunitas lingkungan, pemerintah daerah, hingga pelajar untuk studi lapangan dan berbagi praktik pengelolaan energi terbarukan berbasis masyarakat.
Menurut Sumberini, para pengunjung umumnya mempelajari sistem pembangkit mikrohidro, ruang mesin, pengelolaan laboratorium, hingga pengembangan UMKM yang memanfaatkan listrik dari PLTMH.
“Harapan kami PLTMH ini terus berkelanjutan, berkembang, sehingga nanti tumbuh UMKM-UMKM baru yang bisa meningkatkan kesejahteraan warga. Kami juga terbuka kalau ada daerah lain yang ingin belajar atau studi banding ke sini,” pungkasnya.
