Konten dari Pengguna

Sains dan Tuhan: Mengapa Tuhan Tetap Masuk Akal di Era Sains?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Saddam Shauqi SH MH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber foto sendiri Ilustrasi sains dan Tuhan: remaja membaca buku sains sambil merenungkan iman
zoom-in-whitePerbesar
sumber foto sendiri Ilustrasi sains dan Tuhan: remaja membaca buku sains sambil merenungkan iman

Hubungan sains dan Tuhan kembali dipersoalkan banyak remaja dan pegiat media sosial hari ini. Mereka mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan, lalu meragukan kebenaran agama yang mereka anut. Alasan yang paling sering terdengar adalah ini: sains sudah maju, jadi untuk apa lagi percaya kepada Tuhan?

Pertanyaan ini mengusik saya setelah mengikuti kajian Ustaz Muhammad Nuruddin beberapa waktu lalu. Jawaban beliau menurut saya layak didengar lebih luas, dan tulisan ini mencoba mengembangkannya.

Tuhan bukan penambal celah pengetahuan

Mereka yang menolak Tuhan sering berangkat dari satu anggapan. Dulu manusia percaya kepada Tuhan karena belum mampu menjelaskan alam. Gunung meletus dianggap tanda Tuhan murka. Petir dianggap kemarahan langit. Sekarang vulkanologi dan fisika sudah menjelaskan semuanya, sehingga Tuhan dianggap tidak diperlukan lagi.

Dalam perdebatan atheisme modern, pola pikir ini dikenal sebagai kritik terhadap God of the gaps, yaitu Tuhan yang hanya dipakai untuk menutup celah pengetahuan. Kritik ini salah sasaran. Keyakinan kepada Tuhan tidak bertumpu pada ketidaktahuan tentang gunung berapi. Keyakinan itu bertumpu pada penalaran rasional: alam semesta tidak mungkin muncul begitu saja.

Al-Ghazali, pemikir Muslim abad ke-11, merumuskan penalaran itu secara sederhana. Segala sesuatu yang bermula pasti memiliki sebab. Alam semesta bermula. Maka, alam semesta memiliki sebab. Argumen ini dikenal sebagai argumen kosmologis kalam, dan sampai sekarang masih dibahas serius dalam filsafat agama. Menariknya, kosmologi modern melalui teori Big Bang juga menyatakan bahwa alam semesta memiliki permulaan.

Kebetulan juga butuh penjelasan

Sebagian orang menjawab bahwa alam semesta muncul secara kebetulan, seperti lemparan dadu. Pertanyaannya sederhana: siapa yang membuat dadunya? Kita mungkin tidak mengenal pembuatnya. Akal kita tetap bertanya siapa yang membuatnya.

Dalam pengalaman sehari-hari pun, apa yang kita sebut kebetulan selalu punya sebab. Daun jatuh karena gravitasi. Kita bertemu teman di jalan karena kita dan dia sama-sama memilih jalan itu pada waktu yang sama. Menyebut alam semesta muncul tanpa sebab justru pilihan yang paling sulit dipertanggungjawabkan oleh nalar.

Evolusi tidak meniadakan Tuhan

Contoh lain adalah teori evolusi. Teori ini menjelaskan bagaimana makhluk hidup berkembang dan berubah dari waktu ke waktu. Lalu, apakah jika teori evolusi benar, Tuhan pasti tidak ada? Logikanya tidak nyambung.

Evolusi menjelaskan proses yang terjadi di dalam alam. Tuhan bukan bagian dari alam semesta. Teori yang menjelaskan proses di dalam alam tidak dapat membuktikan ada atau tidak adanya Pencipta alam itu sendiri.

Sains dan Tuhan: konflik yang hanya di permukaan

Alvin Plantinga, filsuf Kristen asal Amerika yang lama mengajar di University of Notre Dame, membahas persoalan ini dalam bukunya Where the Conflict Really Lies: Science, Religion, and Naturalism (2011). Menurut Plantinga, konflik antara sains dan agama yang meyakini Tuhan hanya tampak di permukaan. Di tingkat yang lebih dalam, keduanya justru selaras. Konflik yang sesungguhnya terjadi antara sains dan naturalisme, yaitu paham yang menganggap alam adalah satu-satunya kenyataan.

Plantinga berbicara dari sudut pandang Kristen. Islam memiliki pijakan yang tidak kalah kuat. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad adalah perintah iqra, bacalah. Al-Quran juga berulang kali mengajak manusia memikirkan penciptaan langit dan bumi (QS. Ali 'Imran: 190-191). Dalam tradisi ini, meneliti alam adalah bagian dari beriman.

Akar keraguan: konsep Tuhan yang keliru

Ketika berdiskusi dengan orang yang meragukan Tuhan, sebaiknya kita mulai dari satu pertanyaan: apakah kita sepakat bahwa Tuhan itu Mahakuasa? Perdebatan harus dimulai dari sana, karena akar persoalannya ada di situ.

Banyak pertanyaan anak-anak sekarang tentang Tuhan berawal dari konsep ketuhanan yang sejak awal keliru. Mereka membayangkan Tuhan seperti makhluk di dalam alam, sehingga dapat digantikan oleh penjelasan ilmiah. Jika konsep Tuhan dipahami dengan benar, pertanyaan mereka tentang sains dan Tuhan dapat dijawab dengan tepat.

Bukan sains yang menjauhkan anak dari Tuhan

Jika Tuhan tetap masuk akal, mengapa banyak remaja tetap ragu? Penyebab utamanya bukan sains, melainkan hilangnya rasa cinta dalam beragama.

Banyak anak di lingkungan kita mengenal agama dari bungkus dan ritualnya. Mereka tahu agama melarang makan babi, minum alkohol, dan berzina. Mereka tahu kewajiban salat lima waktu, puasa Ramadan, dan haji. Mereka hafal aturannya, tetapi jarang diajak menyadari bahwa agama adalah kebutuhan mereka sendiri.

Allah tidak membutuhkan salat kita. Al-Quran menegaskan bahwa siapa pun yang berjuang, ia berjuang untuk dirinya sendiri, dan Allah Mahakaya dari seluruh alam (QS. Al-'Ankabut: 6). Salat adalah kebutuhan rohani kita, dan manfaatnya kembali kepada kita.

Generasi sebelumnya sering diajak beribadah dengan cara ditakut-takuti. Kalau tidak salat, di kubur nanti dipatok ular. Kalau pelit, kuburnya sempit. Anak-anak sekarang bisa menjawab dengan enteng: ular saja, neraka itu cuma api. Rasa takut tanpa pemahaman tidak bertahan lama.

Dari rasa takut menuju rasa syukur

Kita perlu pendekatan yang berbeda. Ketika anak bertanya, "Untuk apa salat?", kita dapat menjawab dengan rasa syukur. Allah sudah memberi kita hidup, kesehatan, keluarga, dan rezeki. Salat hanya meminta beberapa menit dari waktu kita. Perintah-Nya sedikit, sedangkan nikmat-Nya sangat banyak.

Ada pula yang berkata, "Banyak orang salat, tapi tetap korupsi." Itu benar. Namun, kesalahannya bukan pada salat. Al-Quran menyebut salat mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-'Ankabut: 45). Jika seseorang salat tetapi tetap korupsi, salatnya belum benar. Artinya, cara ia beragama yang bermasalah, bukan agamanya.

Cinta kepada Nabi sebagai benteng

Dalam kajian itu, Ustaz Nuruddin menceritakan pesan yang sering disampaikan gurunya. Yang paling kuat membentengi seseorang dari kekufuran bukan hafalan Al-Quran, bukan banyaknya sholat, dan bukan banyaknya puasa, meskipun semua itu penting. Bentengnya adalah cinta kepada Nabi Muhammad SAW.

Orang yang mencintai Nabi dengan sepenuh hati pasti akan mencintai Tuhannya. Al-Quran menyatakan, "Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu" (QS. Ali 'Imran: 31).

Cinta lahir dari pengenalan. Anak tidak akan mencintai sosok yang tidak ia kenal. Karena itu, kita perlu mengenalkan sirah Nabi kepada anak-anak, pelan tetapi pasti. Pelajaran agama di sekolah hanya berlangsung satu sampai dua jam seminggu. Rumah harus menjadi tempat belajar yang utama.

Nalar dan cinta

Sains boleh terus maju, dan memang seharusnya terus maju. Kemajuan itu tidak membuat Tuhan kehilangan tempat dalam nalar. Hubungan sains dan Tuhan tidak perlu dipertentangkan. Yang perlu kita perbaiki adalah cara mengenalkan Tuhan kepada anak-anak. Nalar membuat iman mereka kokoh menghadapi pertanyaan. Cinta membuat iman itu tidak mudah lepas.