Sains Ekonomi Post Kapitalis: Belajar dari Ciptagelar (Bag I)

Dimitri Mahayana:Dosen Filsafat Sains S3 di STEI ITB.Pakar ICT lulusan Waseda University, Jepang & founder konsultan ICT Sharing Vision, Bandung.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Filsafat Sains Dimitri Mahayana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di lereng Gunung Halimun, Sukabumi, berlaku satu aturan adat yang terdengar ganjil bagi telinga ekonom: padi tidak boleh dijual. Beras pun tidak. Aturan ini dipegang oleh Kasepuhan Ciptagelar, komunitas adat Sunda yang menurut penanggalan adatnya telah berjalan sejak 1368. Bagi warganya, padi adalah perwujudan Nyi Pohaci sekaligus simbol kehidupan, sehingga tidak diperlakukan sebagai komoditas.
Warga menanam padi hanya sekali dalam setahun. Hasil panen disimpan di lumbung tradisional yang disebut leuit, berangka kayu, berdinding anyaman bambu, dan beratap ijuk. Setiap keluarga memiliki setidaknya satu leuit untuk menyimpan persediaan padi, sementara penelitian akademik mencatat masyarakat Kasepuhan memiliki persediaan pangan yang cukup hingga beberapa tahun ke depan. Berbagai sumber menyebut jumlah leuit di wilayah Kasepuhan mencapai ribuan.
Saya ingin mengajak pembaca melihat Ciptagelar dengan kacamata filsafat sains. Pertanyaannya sederhana. Kalau ilmu ekonomi memang sains, apa yang harus ia lakukan ketika bertemu data yang tidak cocok dengan teorinya?
Ciptagelar dan pertanyaan bagi logika pasar
Thomas Kuhn menyebut temuan semacam itu sebagai anomali. Dalam fase normal science, anomali tidak otomatis menggugurkan paradigma; ilmuwan umumnya berusaha menjelaskannya dengan kerangka yang ada. Namun, anomali yang bertahan dan semakin sulit dijelaskan dapat berkontribusi pada krisis dan, pada kondisi tertentu, mendorong perubahan kerangka. Data semacam itu dapat dibaca sebagai anomali bagi ekspektasi ekonomi, dan justru karena itu layak ditelaah, bukan diabaikan.
Buku teks ekonomi sering menggambarkan bahwa surplus dapat dipertukarkan untuk memperoleh kebutuhan lain. Petani menjual hasil yang melebihi kebutuhannya, memperoleh pendapatan, lalu menggunakan uang tersebut untuk membeli barang dan jasa yang dibutuhkan. Dalam kerangka pasar, pertukaran semacam ini memungkinkan sumber daya dialokasikan kepada pihak yang membutuhkannya.
Adam Smith juga menekankan pentingnya perdagangan dalam menjaga ketersediaan pangan. Dalam The Wealth of Nations, ia menjelaskan bahwa pedagang yang mengejar keuntungan sendiri justru ikut membantu menyalurkan pangan: dari daerah yang berlimpah ke daerah yang kekurangan, dan dari masa panen ke masa paceklik.
Ciptagelar menempuh jalan yang berbeda: padi tidak diperdagangkan, melainkan disimpan. Padi disimpan sebagai cadangan pangan, bukan semata-mata diperlakukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Ketika pandemi Covid-19 mengguncang rantai pasok dan harga pangan, sistem penyimpanan berbasis leuit memberi mereka cadangan pangan yang tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan pasar saat itu.
Bagi seorang ilmuwan, ini menarik. Ada sebuah praktik ekonomi yang telah berlangsung lintas generasi selama lebih dari enam abad. Tidak ada yang merancangnya sebagai eksperimen. Tidak ada ruang laboratorium. Namun hasilnya bisa diamati siapa saja yang mau datang dan melihat bagaimana masyarakat ini mengelola pangan.
Teori ekonomi dari seorang Abah
Pemimpin adat Ciptagelar bernama Abah Ugi Sugriana Rakasiwi. Ia menerima amanah itu pada tahun 2007, ketika ayahnya, Abah Anom, wafat. Usianya baru 22 tahun. Saat itu ia sedang kuliah di Bandung dan memiliki hobi bermain band. Ia kemudian pulang, meninggalkan bangku kuliah, lalu memimpin ratusan kampung.
Penjelasannya tentang larangan menjual padi sederhana. Jika padi dijual, ia berubah menjadi uang yang mudah dibelanjakan. Jika padi disimpan di leuit, nilainya tetap berupa persediaan pangan yang dapat digunakan untuk bertahun-tahun.
Coba baca kalimat itu pelan-pelan. Di dalamnya ada sebuah teori. Dalam ekonomi modern, likuiditas adalah salah satu keunggulan uang: ia mudah ditukar dengan berbagai kebutuhan. Tetapi Abah Ugi melihat sisi lainnya. Sesuatu yang mudah ditukar juga mudah dibelanjakan. Padi di leuit tidak demikian. Ia tidak mudah dicairkan menjadi uang, dan justru karena itu tetap tersimpan sampai benar-benar dibutuhkan.
Dalam ekonomi perilaku, gagasan serupa dikenal sebagai commitment device, yaitu cara untuk membatasi pilihan saat ini agar seseorang tidak mudah menyerah pada godaan sesaat di kemudian hari. Dalam bentuknya sendiri, Ciptagelar telah memiliki mekanisme semacam itu: padi disimpan di leuit, bukan untuk segera ditukar menjadi uang, melainkan untuk menjadi cadangan pangan.
Menjual padi sama dengan menjual kehidupan
Warga memiliki ungkapan: mupusti pare, lain migusti. Padi dimuliakan, tetapi tidak dituhankan. Ada ungkapan lain yang lebih menohok: menjual padi sama dengan menjual kehidupan.
Gagasan ini memiliki kemiripan dengan pemikiran Karl Polanyi, sejarawan ekonomi asal Hungaria. Dalam The Great Transformation, Polanyi menyebut tanah, tenaga kerja, dan uang sebagai fictitious commodities atau komoditas fiktif. Ketiganya dapat diperlakukan sebagai komoditas dalam sistem ekonomi, tetapi pada dasarnya bukan barang yang diproduksi untuk diperjualbelikan. Tanah adalah bagian dari alam. Tenaga kerja adalah manusia itu sendiri.
Tidak semua hal yang bernilai dalam kehidupan harus tunduk pada logika pasar. Jika semuanya diserahkan untuk diperjualbelikan, ada hal-hal yang justru bisa kehilangan fungsi dasarnya. Karena itu, masyarakat akan mencari cara untuk melindungi apa yang mereka anggap penting bagi keberlangsungan hidupnya.
Ciptagelar membawa gagasan itu lebih jauh ke soal pangan pokok. Padi dilindungi bukan setelah terjadi kekurangan, melainkan jauh sebelumnya. Ia disimpan sebagai cadangan agar masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasar ketika kebutuhan datang.
Amartya Sen memberi alasan kemanusiaannya. Ia meneliti berbagai bencana kelaparan dan menunjukkan sesuatu yang mengejutkan: kelaparan dapat terjadi bahkan ketika pangan tersedia. Masalahnya bukan semata-mata jumlah pangan, melainkan kemampuan orang untuk memperolehnya. Ketika upah jatuh dan harga pangan naik, kelompok miskin dapat kehilangan kemampuan untuk membeli makanan.
Di Ciptagelar, nasi tidak sepenuhnya bergantung pada kemampuan membeli. Padi sudah tersedia di halaman rumah, tersimpan di dalam leuit. Ia menjadi cadangan yang dapat digunakan ketika dibutuhkan.
Ada satu detail yang membuat saya terdiam. Juru bicara adat Ciptagelar pernah menjelaskan kepada Tempo bahwa padi tidak hanya diperuntukkan bagi manusia, tetapi juga bagi hewan di sekitar rumah seperti ayam, tikus, kecoa, cicak, semut. Masyarakat tidak boleh membunuh binatang di sekitar lingkungan tinggal karena sebagai satu keluarga yang hidup bersama. Ekonomi lingkungan menyebutnya menghitung biaya eksternal. Ciptagelar menyebutnya berbagi rezeki. (Bersambung)
