Sampah Plastik dan Zero Waste: Benarkah Kita Sudah Peduli Lingkungan?
Tulisan dari Opendri Halawa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sampah plastik adalah bagian dari kehidupan modern yang sering kita nikmati sekaligus kita sesali. Kita membeli minuman dalam botol plastik, makanan dalam wadah plastik, menerima paket dengan lapisan plastik dan bubble wrap, lalu beberapa jam kemudian merasa bersalah ketika melihat tempat sampah penuh.
Solusinya kemudian terdengar sederhana: zero waste. Bawa tumbler. Gunakan tas belanja kain. Hindari sedotan plastik. Pilah sampah. Gunakan kembali barang yang masih bisa digunakan.
Semua itu baik. Bahkan penting. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan: seberapa jauh gaya hidup zero waste mampu menyelesaikan persoalan lingkungan ketika sistem di sekitar kita masih menghasilkan begitu banyak sampah?
Di sinilah persoalannya menjadi lebih kompleks.
Ketika Konsumen Terus Disalahkan
Kampanye lingkungan sering kali dimulai dari individu. Kita diminta mengubah kebiasaan. Jangan gunakan plastik sekali pakai. Jangan membuang sampah sembarangan. Bawalah wadah sendiri. Belilah produk yang ramah lingkungan.
Pesannya benar.
Tetapi terkadang terdengar seperti seluruh persoalan lingkungan berada di tangan konsumen. Padahal, konsumen tidak menentukan bagaimana sebuah produk dirancang, dikemas, diproduksi, dan didistribusikan.
Bayangkan membeli satu barang secara daring. Barang tersebut mungkin sudah memiliki kemasan dari produsen. Setelah itu dimasukkan ke kardus, dibungkus plastik, ditambahkan pelindung, lalu dikirim menggunakan kendaraan yang juga menghasilkan emisi.
Ketika semua itu sampai di rumah, kita kemudian diberi nasihat: Jangan menghasilkan sampah.
Agak ironis.
Kita diminta mengurangi sampah, sementara sistem konsumsi modern justru membuat sampah menjadi bagian dari perjalanan sebuah produk.
Karena itu, persoalan sampah seharusnya tidak hanya dibicarakan sebagai persoalan perilaku masyarakat, tetapi juga sebagai persoalan sistem produksi dan konsumsi.
Zero Waste Tetap Penting
Namun, mengkritik pendekatan tersebut bukan berarti zero waste tidak relevan. Justru sebaliknya.
Mengurangi penggunaan barang sekali pakai tetap merupakan langkah yang masuk akal. Membawa botol minum sendiri, menggunakan kembali barang, memilah sampah, memperpanjang usia pakai produk, dan membeli sesuai kebutuhan merupakan kebiasaan sederhana yang memiliki nilai ekologis.
Masalahnya muncul ketika zero waste dianggap sebagai solusi tunggal. Tidak semua orang memiliki akses yang sama untuk menjalankan gaya hidup tersebut.
Di sebagian tempat, toko curah belum tersedia. Sistem pemilahan sampah belum berjalan. Bank sampah belum menjangkau semua wilayah. Produk alternatif mungkin lebih mahal daripada produk konvensional.
Bagi sebagian orang, membeli produk yang lebih ramah lingkungan bukan persoalan kesadaran, tetapi persoalan kemampuan ekonomi.
Maka, kurang tepat jika persoalan lingkungan hanya diselesaikan dengan mengatakan: Masyarakat harus lebih sadar.
Kesadaran memang diperlukan. Tetapi sistem yang mendukung kesadaran tersebut juga harus tersedia.
Dari Sampah ke Udara yang Kita Hirup
Persoalan plastik juga tidak berhenti ketika sampah meninggalkan rumah.
Ketika sistem pengelolaan sampah tidak berjalan dengan baik, sebagian sampah akhirnya dibakar atau masuk ke lingkungan. Di sinilah persoalan sampah bertemu dengan persoalan kualitas udara.
Kita sering membayangkan polusi udara berasal dari kendaraan, industri, atau kebakaran hutan. Padahal, pembakaran sampah secara terbuka juga dapat memperburuk kualitas udara dan menghasilkan berbagai polutan yang berbahaya bagi manusia maupun lingkungan.
Dengan kata lain, sampah yang kita anggap sudah hilang sebenarnya belum tentu benar-benar hilang. Ia mungkin hanya berpindah tempat.
Dari rumah ke tempat pembuangan. Dari tempat pembuangan ke sungai. Dari sungai ke laut. Atau dari halaman rumah menjadi asap yang masuk ke paru-paru.
Sampah tidak menghilang. Kita hanya memindahkan masalahnya.
Jangan Jadikan Zero Waste Sekadar Gaya Hidup
Ada satu persoalan lain yang juga perlu dibicarakan.
Zero waste kini telah menjadi bagian dari gaya hidup. Di media sosial, ia tampil dalam bentuk yang sangat menarik: tumbler estetik, tas belanja kain, wadah makanan yang rapi, produk tanpa kemasan, dan berbagai barang ramah lingkungan.
Tidak ada yang salah dengan itu. Tetapi jangan sampai kepedulian terhadap lingkungan berubah menjadi ukuran moral seseorang.
Seolah-olah orang yang menggunakan sedotan plastik adalah orang yang tidak peduli lingkungan, sementara mereka yang memiliki tumbler stainless otomatis menjadi penyelamat bumi.
Lingkungan tidak sesederhana itu. Seseorang dapat membawa tumbler setiap hari, tetapi tetap membeli barang secara berlebihan. Seseorang dapat menggunakan tas kain, tetapi terus berganti gawai, pakaian, dan barang konsumsi lainnya.
Karena itu, persoalan lingkungan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan: Apakah kamu menggunakan plastik? Pertanyaan yang lebih besar adalah: Seberapa banyak yang kita konsumsi, bagaimana barang itu diproduksi, dan ke mana perginya setelah kita tidak membutuhkannya?
Tanggung Jawab Harus Dibagi
Pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan pekerjaan satu kelompok.
Konsumen memiliki tanggung jawab untuk mengubah kebiasaan. Produsen memiliki tanggung jawab untuk mengurangi kemasan dan merancang produk yang lebih berkelanjutan.
Pemerintah memiliki tanggung jawab membangun sistem pengelolaan sampah, memperkuat regulasi, menyediakan infrastruktur, dan memastikan aturan benar-benar dijalankan.
Dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk mengawasi semuanya.
Karena itu, zero waste tetap relevan, tetapi tidak boleh menjadi alasan bagi sistem untuk melepaskan tanggung jawabnya.
Kita tidak mungkin menyelesaikan persoalan sampah hanya dengan meminta masyarakat membawa tumbler, sementara produksi plastik terus meningkat dan pengelolaan sampah tidak dibenahi.
Kita juga tidak bisa berbicara tentang udara bersih sambil membiarkan sampah dibakar di halaman rumah karena tidak ada sistem pengelolaan yang memadai.
Lingkungan bukan sekadar persoalan gaya hidup. Ia adalah persoalan kebijakan, ekonomi, industri, budaya, dan keadilan sosial.
Maka, mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya: Sudahkah saya hidup zero waste?
Dan mulai bertanya: Apakah sistem kehidupan kita sudah memungkinkan manusia hidup tanpa menghasilkan begitu banyak waste?
Sebab menyelamatkan lingkungan tidak cukup dengan membuat individu merasa bersalah.
Kita membutuhkan individu yang sadar, produsen yang bertanggung jawab, dan pemerintah yang bekerja.
Zero waste boleh dimulai dari rumah. Tetapi untuk benar-benar menyelesaikan krisis lingkungan, perubahannya harus sampai ke sistem.

