Sang Pengangkat ‘Air Kehidupan’ di Gua Jomblang
·waktu baca 5 menit

“Momen itu bukan hanya tentang ditemukannya sumber air, tetapi juga tentang lahirnya harapan baru bagi seluruh desa.” – Romel Nofrianto.
***
Romel tak pernah menyangka dirinya akan menjadi pahlawan yang menghadirkan ‘air kehidupan’ untuk penduduk desa.
Bermula tahun 2019, saat Romel atau dikenal dengan panggilan Ciken bersiap melaksanakan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), ia mendapat kabar dari senior mahasiswa pencinta alam (Mapala) bahwa sedang berlangsung kegiatan eksplorasi sumber air di wilayah Wonogiri, Jawa Tengah. Ciken dan timnya akan diberangkatkan untuk membantu.
Ciken tak pikir panjang. Ia setuju bergabung dalam operasi. Namun yang tak ia sangka, keputusannya itu ternyata menjadi keputusan besar dan mengubah hidupnya dan nasib banyak orang.
“Kami berangkat dengan niat menjalankan kegiatan eksplorasi sebagaimana biasanya, tetapi pada akhirnya menjadi bagian dari sebuah sejarah yang sangat berarti bagi masyarakat,” kata Ciken kepada kumparan, Selasa (4/8).
Lokasi yang hendak dieksplorasi Ciken dan tim berada di Gua Jomblang, Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Kabupaten Wonogiri. Sebuah perkampungan yang terletak di kawasan pegunungan Sewu di bagian selatan Pulau Jawa. Kawasan ini didominasi oleh batuan karst atau batuan kapur. Secara geologis, pegunungan Sewu merupakan bekas dasar lautan yang terangkat ke permukaan bumi jutaan tahun lalu.
Karakteristik bentang alam tersebut menyebabkan sumber air permukaan sangat sulit ditemukan. Akibatnya, masyarakat setempat bertahun-tahun hidup berdampingan dengan persoalan kekeringan. Sepanjang waktu dihantui krisis air, terlebih saat saat musim kemarau melanda.
Isu kekeringan yang dialami di tempat tersebut mencuat dan sampai ke lingkaran Ciken dan tim awalnya bermula dari kegiatan sosial Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA). Saat itu PADASUKA Jawa Tengah, yang kebetulan dipimpin alumni ITNY bernama Gus Yayan, menyumbang air bersih ke Desa Gendayakan. Namun setelah sampai di lokasi, mereka menganggap sumbangan air saja tidak cukup, butuh upaya dan aksi berkelanjutan.
Salah satu anggota Padasuka yang juga warga Gendayakan menginformasikan bahwa ada goa yang tanaman dan pohon selalu hijau meskipun di musim kemarau. Berbeda dengan tanaman di tempat lain yang kering sepanjang kemarau. Mereka yakin gua tersebut menyimpan air. Namun PR-nya bagaimana mengangkat dan mengalirkan air tersebut ke rumah-rumah warga.
Informasi keberadaan gua dan sumber air tersebut disampaikan Gus Yayan ke Ciken dan timnya. Atas kondisi dan informasi tersebut, Ciken dan timnya di Mapala Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) siap melakukan eksplorasi di kawasan karst.
Berbekal ilmu teknik tali-temali dan penelusuran gua yang dikenyam selama berproses di Mapala, disertai kerja sama tim, eksplorasi pengangkatan air dari Gua Jomblang membawa harapan besar bagi masyarakat.
Setelah bertahun-tahun dilanda bencana kekeringan, harapan masyarakat menjadi kenyataan. ‘Air kehidupan’ muncul ke permukaan.
“Untuk pertama kalinya masyarakat melihat air dari sumber di wilayah mereka sendiri berhasil diangkat ke permukaan. Momen itu bukan hanya tentang ditemukannya sumber air, tetapi juga tentang lahirnya harapan baru bagi seluruh desa,” kata Ciken.
Keberhasilannya Ciken menjadi ‘pengangkat air kehidupan Desa Gendayakan’ tak benar-benar bermula dari keputusan mengabaikan KKN, tapi jauh sebelum ia berangkat menimba ilmu ke Yogyakarta. Kehidupan kecilnya di pelosok Riau telah membentuk karakternya hingga sampai mengabdikan diri di desa Gendayakan.
Masa kecil Ciken tumbuh pedalaman Riau, tepatnya di Desa Talang Suka Maju, Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Indragiri Hulu. Ia adalah anak dari orang tua perantau dari Sumatera Barat. Hidup jauh dari kota, Ciken dibesarkan dalam keluarga dengan segala keterbatasan.
Masa kecil Ciken bahkan dihabiskan dari satu tempat ke tempat lain, mengikuti perjalanan hidup orang tuanya. Ia beberapa kali berpindah tempat tinggal. Lingkungan berbeda-beda mempertemukan Ciken dengan beragam karakter masyarakat serta cara pandang yang berbeda-beda. Lingkungan sosial tersebut secara tak langsung membentuk cara pandang Ciken tentang kehidupan, termasuk tekadnya melanjutkan pendidikan tinggi.
Setelah lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tahun 2013, Ciken memutuskan merantau ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Keputusan tersebut merupakan langkah nekat dan tak umum sebab di keluarga Ciken belum ada tradisi menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.
Bermodal tekad besar, Ciken akhirnya diterima di Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta yang kini telah bertransformasi menjadi Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY).
Perjalanan Ciken dimulai di kampus itu, termasuk ketertarikannya bergabung organisasi mahasiswa pencinta alam. Sebagai anak dari pelosok Riau, yang masa kecilnya lebih banyak dihabiskan di tengah hutan dan alam bebas, Ciken sulit menghiraukan kegiatan Mapala. Ia merasa cocok dengan kegiatan alam yang tak jarang juga terlibat kegiatan sosial.
Meskipun Ciken seolah menemukan titik hidup baru dengan diterima kuliah, tapi perjalanannya nyatanya tak selalu mulus. Keterbatasan ekonomi memaksanya meninggalkan kelas beberapa tahun karena kekurangan biaya, ia harus bekerja sambil tetap berusaha melanjutkan pendidikan.
Di fase jalan berkerikil itu, Ciken menanamkan kembali tekad awalnya ‘kabur’ dari Riau. Dengan segala keterbatasan, ia memiliki ambisi menyelesaikan kuliah. Tekadnya berhasil, ia berhasil menyandang gelar sarjana teknik yang dalam prosesnya ia tetap aktif di Mapala hingga membawanya ke Gua Jomblang.
Sejak tahun 2019 hingga 2020, Ciken bersama rekan-rekannya terus mendampingi masyarakat dalam mengembangkan hasil eksplorasi pengangkatan air. Mereka tidak hanya membangun sistem pengairan, tetapi juga mendampingi pengelolaan dan memastikan program terus berjalan. Kendati berjalannya waktu, satu per satu tim seperjuangan Ciken menyelesaikan kuliah, bekerja, atau kembali ke daerah asal mereka. Tim yang semula puluhan, kini menyisakan hitungan jari.

