Konten dari Pengguna

Satu Kampus, Berbeda Perjuangan: Realitas Kehidupan Mahasiswa

sumber: pexels Adedire Abiodun
zoom-in-whitePerbesar
sumber: pexels Adedire Abiodun

Setiap mahasiswa memiliki harapan untuk menyelesaikan pendidikan, memperoleh pekerjaan yang baik, dan membangun masa depan yang lebih cerah. Namun, di balik tujuan yang hampir sama, tidak semua mahasiswa memiliki kondisi dan kesempatan yang setara untuk mencapainya.

Bayangkan dua mahasiswa yang duduk dalam satu ruang kelas. Keduanya mendapatkan materi, tugas, dan ujian yang sama. Namun, kehidupan mereka di luar kampus mungkin sangat berbeda. Mahasiswa pertama memiliki laptop pribadi, akses internet yang stabil, serta dukungan finansial dari keluarga. Sementara itu, mahasiswa kedua harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa perjalanan pendidikan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan akademik dan kerja keras, tetapi juga oleh kondisi sosial serta ekonomi yang melatarbelakanginya.

Perguruan tinggi sering dianggap sebagai tempat yang memberikan kesempatan sama bagi setiap mahasiswa. Semua mahasiswa mengikuti sistem pembelajaran dan penilaian yang sama. Namun, apakah perlakuan yang sama selalu berarti kesempatan yang adil?

Pierre Bourdieu dan Jean-Claude Passeron dalam buku Reproduction in Education, Society and Culture (1990) menjelaskan bahwa pendidikan dapat berperan dalam mempertahankan ketimpangan sosial yang sudah ada di masyarakat.

Salah satu konsep yang relevan adalah modal budaya, yaitu pengetahuan, kebiasaan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh seseorang melalui lingkungan sosialnya.

Mahasiswa yang sejak kecil terbiasa membaca buku, berdiskusi, atau memiliki akses terhadap fasilitas pendidikan mungkin lebih mudah menyesuaikan diri dengan tuntutan akademik. Sebaliknya, mahasiswa yang memiliki keterbatasan fasilitas dan dukungan perlu melakukan usaha tambahan untuk memperoleh kesempatan yang serupa.

Perbedaan tersebut juga terlihat dalam kehidupan organisasi dan pengembangan diri. Ada mahasiswa yang bebas mengikuti seminar, pelatihan, atau kegiatan organisasi tanpa terlalu memikirkan biaya. Namun, ada pula mahasiswa yang harus mempertimbangkan pengeluaran transportasi, kebutuhan makan, atau jadwal pekerjaan sebelum mengikuti kegiatan yang sama.

Sayangnya, keadaan tersebut terkadang kurang mendapat perhatian. Mahasiswa yang kurang aktif dalam kegiatan kampus bisa saja dianggap tidak memiliki motivasi, padahal mungkin terdapat keterbatasan yang tidak diketahui orang lain.

Hal ini bukan berarti mahasiswa dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas tidak mampu berprestasi. Banyak mahasiswa berhasil mencapai prestasi melalui perjuangan yang besar. Namun, keberhasilan tersebut tidak menghapus kenyataan bahwa setiap mahasiswa menghadapi tantangan yang berbeda.

Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu memberikan perhatian terhadap kesenjangan kesempatan melalui penyediaan beasiswa, fasilitas belajar yang mudah diakses, serta kegiatan pengembangan diri yang tidak membebani mahasiswa secara finansial.

Selain itu, sesama mahasiswa juga perlu membangun kesadaran untuk tidak mudah membandingkan pencapaian seseorang tanpa memahami kondisi yang mereka hadapi.

Pendidikan seharusnya menjadi sarana untuk membuka kesempatan dan mengurangi ketimpangan sosial, bukan justru memperlebar jarak antara mereka yang memiliki banyak fasilitas dan mereka yang harus berjuang dengan keterbatasan.

Pada akhirnya, kita boleh memiliki tujuan dan garis akhir yang sama. Namun, sebelum menilai perjalanan orang lain, penting untuk menyadari bahwa tidak semua mahasiswa memulai dari garis yang sama.