Konten dari Pengguna

Sebelum Hujan Datang, Sudahkah Kita Menyiapkan Ruang untuk Air?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Patra Mokoginta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika kemarau berlangsung, perhatian kita biasanya tertuju pada air yang mulai berkurang. Sumur yang surut, tanah yang mengering, tanaman yang membutuhkan lebih banyak air, sampai mata air yang debitnya tidak seperti biasanya.

Tetapi ada satu hal yang sering baru kita pikirkan setelah hujan turun deras: ke mana air itu akan pergi?

Danau Telaga Hutan Kota Tutuyan ketika kemarau melanda (Sumber: Foto koleksi penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Danau Telaga Hutan Kota Tutuyan ketika kemarau melanda (Sumber: Foto koleksi penulis)

Pertanyaan ini penting karena air hujan tidak selalu harus secepat mungkin dibuang dari suatu wilayah. Ada air yang seharusnya diberi kesempatan meresap ke tanah, sebagian tertahan oleh vegetasi, dan sebagian lagi mengalir melalui saluran menuju sungai atau badan air.

Karena itu, persoalan air sebenarnya tidak berhenti pada apakah hujan turun atau tidak. Kondisi lingkungan sebelum hujan datang ikut menentukan bagaimana air tersebut bergerak setelah menyentuh tanah

Hujan Tidak Selalu Harus Segera Dibuang

Air hujan yang jatuh di permukaan tanah mempunyai beberapa kemungkinan. Sebagian meresap, sebagian mengalir sebagai limpasan permukaan, dan sebagian lagi dapat tertahan oleh vegetasi maupun berbagai bentuk penyimpanan alami.

Kemampuan suatu wilayah menerima dan menyimpan air juga tidak sama. Balai Hidrologi dan Lingkungan Keairan Kementerian Pekerjaan Umum menjelaskan bahwa perbedaan kondisi kekeringan antarwilayah tidak hanya berkaitan dengan jumlah hujan, tetapi juga dengan kemampuan infiltrasi tanah, tutupan vegetasi, kapasitas penyimpanan air, dan karakteristik daerah aliran sungai.

Jadi, ketika membicarakan air hujan, kita sebenarnya sedang membicarakan kondisi ruang yang menerima air tersebut.

Ketika Tanah Semakin Sedikit Menerima Air

Kita bisa melihat perubahan itu dari lingkungan sekitar. Semakin banyak permukaan tanah yang tertutup bangunan, beton, aspal, atau material kedap air, semakin sedikit pula bagian permukaan yang secara langsung dapat menerima dan meresapkan air.

Bukan berarti setiap halaman harus dibiarkan berupa tanah terbuka. Kehidupan perkotaan memang membutuhkan jalan, bangunan, halaman, tempat parkir, dan berbagai fasilitas lainnya. Persoalannya adalah bagaimana keseimbangan antara permukaan terbangun dan ruang yang masih mampu menerima air tetap dipertahankan.

Penelitian BRIN tentang zonasi resapan air hujan di DAS Cimanuk menunjukkan bahwa kondisi resapan berkaitan dengan sejumlah faktor, antara lain infiltrasi, karakteristik tanah atau batuan, kemiringan, curah hujan, dan penggunaan lahan. Penelitian itu juga menempatkan kawasan resapan sebagai bagian penting dalam menjaga keseimbangan tata air serta membantu pengendalian banjir dan kekeringan.

Kondisi setiap daerah tentu berbeda. Karena itu, hasil penelitian di satu daerah tidak bisa begitu saja dianggap mewakili daerah lain. Tetapi prinsip dasarnya cukup jelas: kondisi ruang dan tutupan lahan ikut menentukan bagaimana air hujan bergerak dan tersimpan.

Kemarau Bisa Menjadi Waktu untuk Bersiap

Menariknya, justru ketika hujan belum banyak turun, kita mempunyai kesempatan untuk melihat persoalan itu dengan lebih tenang.

Saluran air bisa diperiksa. Bagian yang tersumbat dapat dibersihkan. Kondisi parit dan gorong-gorong dapat dilihat kembali. Ruang yang masih memungkinkan air meresap bisa dipertahankan. Vegetasi yang masih ada juga tidak harus dianggap sebagai penghalang pembangunan.

Hal-hal seperti ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi kesiapan menghadapi hujan memang tidak selalu harus dimulai dari proyek besar.

Data BMKG pada September 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau. Dalam Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian I September 2026, BMKG mencatat sekitar 80,7 persen wilayah Indonesia atau 564 Zona Musim masih mengalami musim kemarau. BMKG juga memproyeksikan kondisi curah hujan yang berbeda-beda antarwilayah pada periode berikutnya.

Data tersebut tentu bukan berarti setiap daerah harus langsung bersiap menghadapi hujan dengan pola yang sama. Justru sebaliknya, setiap wilayah perlu melihat kondisi lokalnya masing-masing.

Namun, masa ketika hujan belum terlalu sering turun dapat menjadi waktu yang baik untuk melakukan pemeriksaan sederhana terhadap lingkungan.

Setiap Daerah Punya Persoalan yang Berbeda

Di kota, persoalannya mungkin berkaitan dengan semakin padatnya permukiman dan permukaan yang tertutup. Di wilayah perdesaan, persoalannya bisa berkaitan dengan perubahan penggunaan lahan, kondisi daerah aliran sungai, atau berkurangnya vegetasi.

Di kawasan pesisir, persoalannya bisa berbeda lagi. Begitu pula di daerah perbukitan atau wilayah yang mempunyai kemiringan tertentu.

Kotamobagu dapat menjadi salah satu contoh kawasan perkotaan yang terus berkembang. Di tempat lain, seperti Bolaang Mongondow Timur, Tutuyan, atau kabupaten lainnya, karakter wilayah dan pola pemanfaatan lahannya tentu berbeda. Contoh-contoh itu tidak untuk menyamakan semua daerah, melainkan menunjukkan bahwa pengelolaan air memang harus melihat karakter masing-masing wilayah.

Yang sama adalah kebutuhan untuk memberi ruang kepada air.

Mengelola Air Dimulai dari Ruang yang Kita Punya

Mungkin kita sering membayangkan pengelolaan air sebagai sesuatu yang hanya bisa dilakukan melalui bendungan, jaringan irigasi, drainase besar, kolam retensi, atau proyek infrastruktur lainnya.

Padahal ada bagian yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sebuah halaman yang tidak seluruhnya ditutup beton. Pohon yang tetap dipertahankan. Saluran air yang tidak dipenuhi sampah. Ruang terbuka yang tidak semuanya berubah menjadi permukaan kedap air. Atau kawasan yang dirancang dengan mempertimbangkan ke mana air akan mengalir ketika hujan turun dalam jumlah besar.

Semua itu memang bukan solusi tunggal untuk banjir ataupun kekeringan. Tetapi semuanya menjadi bagian dari cara sebuah lingkungan menerima dan mengelola air.

Pemerintah mempunyai peran melalui perencanaan ruang, pembangunan infrastruktur, pengelolaan drainase, perlindungan kawasan resapan, dan pengawasan pemanfaatan lahan. Masyarakat pun mempunyai ruang untuk ikut menjaga kondisi lingkungan di sekitarnya.

Yang penting adalah cara kita melihat air itu sendiri.

Air hujan bukan sekadar sesuatu yang harus segera dibuang agar jalan tidak tergenang. Pada saat yang sama, tentu tidak semua air harus ditahan di satu tempat. Air tetap membutuhkan saluran dan jalur alir yang aman.

Yang diperlukan adalah keseimbangan: mana air yang perlu dialirkan, mana yang bisa ditahan, dan mana yang sebaiknya diberi kesempatan untuk meresap.

Ketika Hujan Datang, Ke Mana Air Akan Pergi?

Kita tidak bisa menentukan kapan hujan turun dan berapa banyak air yang akan jatuh di suatu tempat.

Tetapi sebelum hujan datang, kita masih punya waktu untuk melihat kondisi lingkungan kita sendiri.

Apakah saluran air masih berfungsi? Apakah masih ada ruang bagi air untuk meresap? Apakah vegetasi masih cukup? Apakah permukaan tanah sudah terlalu banyak tertutup? Dan ketika hujan deras turun, apakah air sudah mempunyai jalur yang aman untuk bergerak?

Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya bisa berbeda di setiap tempat.

Karena itu, mungkin kemarau tidak hanya perlu dilihat sebagai masa ketika kita menunggu air kembali turun dari langit. Kemarau juga bisa menjadi kesempatan untuk menyiapkan lingkungan agar ketika hujan datang, air tidak seluruhnya menjadi masalah dan tidak pula seluruhnya hilang begitu saja.

Pada akhirnya, persoalannya bukan semata-mata apakah hujan akan turun.

Persoalannya adalah apakah kita masih menyediakan cukup ruang bagi air ketika ia datang.