Sebelum Menjadi Bembenx Ora Turu, Ia Hanyalah Anak Gamping yang Suka Bersepeda

Di kalangan pesepeda Indonesia, banyak orang mengenalnya sebagai Bembenx Ora Turu. Julukan itu lahir setelah Bentang Jawa 2022, ketika ia hampir tiga hari tidak tidur, lupa bahwa dirinya sedang mengikuti perlombaan, lalu menghilang dari pelacakan panitia hingga membuat banyak orang panik.
Namun jauh sebelum kisah itu menjadi urban legend di komunitas sepeda, Bambang Anggoro Jati hanyalah seorang anak yang tumbuh di Gamping, Sleman.
"Rumah saya ya di Gamping. Baratnya Pasar Buah Gamping sekitar 2 kilometer," katanya sambil tertawa.
Bambang lahir pada 1993 dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang pensiunan TNI, sementara ibunya mengajar di taman kanak-kanak. Setelah lulus sekolah, ia melanjutkan kuliah di Universitas AMIKOM Yogyakarta mengambil jurusan Teknik Informatika.
Dunia yang digelutinya saat itu sangat jauh dari olahraga ketahanan. Ia pernah menjadi asisten dosen, berjualan perangkat keras komputer, hingga mengikuti kompetisi overclocking yang populer di kalangan penggemar hardware pada masanya.
"Dulu saya malah mainnya hardware komputer," ujarnya.
Sepeda datang belakangan. Awalnya hanya sebagai aktivitas rekreasi seperti banyak orang lainnya. Namun semakin lama, Bambang justru lebih tertarik pada perjalanan yang semakin jauh.
Bukan kecepatan yang membuatnya tertarik, melainkan pengalaman berada berjam-jam sendirian di jalan.
Ketertarikan itu perlahan membawanya masuk ke dunia ultra cycling, cabang bersepeda jarak jauh yang menuntut ketahanan fisik dan mental dalam waktu yang panjang.
Di dunia ini, tantangannya bukan sekadar siapa yang paling cepat mencapai garis finis, melainkan siapa yang mampu bertahan ketika tubuh mulai kehabisan tenaga, rasa kantuk datang berulang kali, dan jalan di depan terasa tidak pernah berakhir.
Dari tahun ke tahun, jarak yang ditempuh Bambang semakin panjang. Jika banyak orang lebih sering menggunakan sepeda motor untuk beraktivitas, Bambang justru menghabiskan lebih banyak kilometer di atas sadel sepedanya.
Dalam setahun ia bisa menempuh 16.000 hingga 20.000 kilometer, angka yang bahkan melampaui jarak tempuh sepeda motor pribadinya.
"Motor saya Vario 2015, tapi kilometernya kalah jauh sama sepeda," katanya.
Meski namanya kini dikenal luas di komunitas ultra cycling Indonesia, kehidupan Bambang tetap sederhana. Ia masih tinggal di Gamping dan menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa.
Bedanya, jalan yang dulu hanya membawanya berkeliling Yogyakarta kini telah membawanya menyeberangi pulau, mengikuti berbagai ajang ultra cycling, hingga bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar lagi.
Sebelum dikenal sebagai Bembenx Ora Turu, Bambang Anggoro Jati hanyalah seorang anak Gamping yang suka bersepeda.
Namun dari jalan-jalan kecil di sekitar rumahnya, ia perlahan menemukan sesuatu yang akan mengubah hidupnya: hasrat untuk terus mengayuh lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan.
**
Tentang Mitra Liputan
Liputan ini didukung oleh Nutriflakes, sereal umbi garut pilihan keluarga Indonesia. Melalui kolaborasi ini, Nutriflakes dan Pandangan Jogja mengangkat kisah-kisah tentang gaya hidup aktif, ketahanan fisik, serta pentingnya menjaga pola makan dan kesehatan pencernaan dalam aktivitas sehari-hari.
Baca cerita lainnya dari Nutriflakes:
