Sekolah Rakyat dan Grand Design Pendidikan Indonesia

Sarjana Pendidikan dan Analis sosiokultural yang menulis tentang pendidikan, literasi, budaya, parenting, dan isu-isu sosial.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Nuril Anwar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada banyak cara melihat sebuah kebijakan pendidikan.
Kita bisa menghitung berapa sekolah yang dibangun, berapa siswa yang diterima, berapa guru yang mengajar, atau berapa besar anggaran yang disiapkan.
Semua angka itu penting.
Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar: pendidikan seperti apa yang sedang kita bangun untuk anak-anak Indonesia?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin menarik ketika melihat perkembangan Sekolah Rakyat.
Program ini tidak hanya menyentuh persoalan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Perkembangannya juga mulai memperlihatkan bagaimana pendidikan, teknologi, dukungan sosial, dan pengembangan kualitas manusia dapat ditempatkan dalam satu ekosistem.
Karena itu, Sekolah Rakyat layak dibaca lebih luas.
Bukan semata sebagai sebuah program pendidikan, tetapi sebagai salah satu bagian dari perjalanan menuju grand design pendidikan Indonesia.
Dari Akses Menuju Kesempatan
Perdebatan tentang pendidikan sering dimulai dari akses.
Apakah anak bisa bersekolah? Apakah sekolah tersedia? Apakah fasilitasnya memadai?
Namun, akses hanyalah langkah pertama.
Anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi dapat menghadapi persoalan yang lebih kompleks. Mereka mungkin memiliki akses yang lebih terbatas terhadap buku, internet, lingkungan belajar, pendampingan, maupun berbagai pengalaman yang mendukung perkembangan mereka.
Karena itu, memberikan kesempatan pendidikan kepada kelompok yang membutuhkan bukan sekadar persoalan administratif.
Ini adalah persoalan mobilitas sosial.
Ketika seorang anak memperoleh pendidikan yang lebih baik, yang berubah bukan hanya kemampuan akademiknya. Dalam jangka panjang, peluangnya untuk melanjutkan pendidikan, memperoleh keterampilan, memasuki dunia kerja, atau membangun kehidupan yang lebih mandiri juga dapat meningkat.
Di sinilah Sekolah Rakyat memiliki arti penting.
Pada Agustus 2026, pemerintah menyebut lebih dari 43.000 anak telah terjangkau program Sekolah Rakyat. Pemerintah juga menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 150.000 siswa pada 2027.
Angka tersebut menunjukkan bahwa program ini mulai bergerak dalam skala yang cukup besar.
Tetapi skala bukanlah tujuan akhir.
Semakin besar sebuah program pendidikan, semakin penting memastikan bahwa pertumbuhan jumlah siswa berjalan bersama peningkatan kualitas.
Sekolah Rakyat Tidak Berhenti pada Bangunan
Ada satu perkembangan yang menarik dalam perjalanan Sekolah Rakyat.
Pendidikan tidak hanya dibangun melalui ruang kelas dan fasilitas fisik. Unsur digital mulai menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Tempo melaporkan bahwa Sekolah Rakyat memiliki 1.018 konten modul pembelajaran digital yang disusun oleh tim Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. [Tempo — Sekolah Rakyat Punya 1.018 Konten Modul Belajar Digital](https://www.tempo.co/digital/sekolah-rakyat-punya-1-018-konten-modul-belajar-digital--2283642?utm_source=chatgpt.com)
Informasi tersebut diperkuat oleh UPI dan ANTARA. UPI menjelaskan bahwa 1.018 modul tersebut mencakup 177 mata pelajaran untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Sebanyak 322 modul disusun pada 2025, sementara 696 modul lainnya disusun pada 2026.
Bagi pendidikan Indonesia, angka tersebut bukan sekadar statistik.
Ia menunjukkan bahwa pembangunan sekolah mulai bergerak ke arah pembangunan ekosistem pembelajaran.
Anak-anak hari ini hidup di tengah internet, video digital, media sosial, dan kecerdasan artifisial. Cara memperoleh informasi berubah dengan cepat.
Sekolah karena itu tidak mungkin sepenuhnya menggunakan pendekatan yang sama seperti beberapa dekade lalu.
Namun digitalisasi juga tidak boleh dipahami secara sederhana.
Memiliki ribuan materi digital belum otomatis membuat pembelajaran lebih baik.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah bagaimana materi tersebut digunakan oleh guru, bagaimana siswa berinteraksi dengannya, dan apakah teknologi benar-benar membantu meningkatkan pemahaman.
Di sinilah kualitas implementasi menjadi penting.
## Teknologi Memperkuat Guru, Bukan Menggantikan Guru
Ada kekhawatiran bahwa perkembangan teknologi dan AI akan mengurangi peran guru.
Menurut saya, justru sebaliknya.
Semakin banyak informasi tersedia, semakin penting seseorang yang mampu membantu anak memahami informasi tersebut.
AI dapat memberikan jawaban.
Internet dapat menyediakan informasi.
Tetapi anak tetap membutuhkan guru untuk memahami konteks, membangun cara berpikir, mengembangkan karakter, belajar bekerja sama, dan memahami konsekuensi dari keputusan yang mereka ambil.
Karena itu, digitalisasi pendidikan seharusnya tidak ditempatkan sebagai perlombaan menggantikan manusia dengan mesin.
Teknologi seharusnya menjadi **alat untuk memperkuat manusia di dalam sistem pendidikan**.
Guru yang memiliki akses terhadap sumber belajar yang lebih baik dapat memiliki lebih banyak pilihan dalam mengajar.
Siswa yang memperoleh sumber belajar digital dapat memiliki kesempatan untuk belajar lebih luas.
Dan sekolah dapat menjadi ruang yang menghubungkan keduanya.
Jika dikelola dengan baik, teknologi bukan sekadar fasilitas tambahan.
Ia dapat menjadi bagian dari transformasi cara belajar.
Yang Dibutuhkan Bukan Sekadar Banyak Program
Indonesia memiliki banyak kebijakan pendidikan.
Ada penguatan kompetensi guru, digitalisasi pembelajaran, pendidikan vokasi, pengembangan talenta, pendidikan tinggi, literasi, dan berbagai program untuk memperluas akses.
Persoalannya bukan apakah setiap program tersebut penting.
Persoalan yang lebih besar adalah apakah semuanya saling terhubung.
Di sinilah gagasan grand design menjadi relevan.
Seorang anak yang memperoleh kesempatan melalui Sekolah Rakyat seharusnya tidak berhenti pada satu jenjang pendidikan.
Jika ia memiliki kemampuan akademik, harus tersedia jalan menuju pendidikan tinggi.
Jika ia memiliki kemampuan teknologi, harus ada ruang untuk mengembangkan keterampilannya.
Jika ia memiliki bakat vokasional, harus tersedia pendidikan yang relevan dengan dunia kerja.
Dengan begitu, pendidikan menjadi sebuah perjalanan yang utuh.
Dari akses menuju kualitas.
Dari kualitas menuju keterampilan.
Dari keterampilan menuju kemandirian.
Dan dari kemandirian menuju mobilitas sosial.
Guru Tetap Menjadi Investasi Terpenting
Pada akhirnya, teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan manusia yang mampu menggunakannya.
Karena itu, pembangunan pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada infrastruktur dan perangkat digital.
Kualitas guru tetap menjadi salah satu faktor terpenting.
Guru membutuhkan pelatihan, dukungan, bahan ajar, ruang untuk berkembang, dan lingkungan kerja yang memungkinkan mereka fokus mendidik.
Di tengah perkembangan AI, peran guru bahkan bisa menjadi semakin penting.
Ketika mesin mampu menghasilkan jawaban dalam hitungan detik, kemampuan yang perlu dibangun pada siswa bukan sekadar menghafal jawaban.
Mereka perlu belajar bagaimana mengajukan pertanyaan.
Bagaimana memeriksa kebenaran informasi.
Bagaimana berpikir kritis.
Bagaimana bekerja sama.
Bagaimana menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Dan bagaimana mengubah pengetahuan menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Itulah sebabnya transformasi pendidikan seharusnya tetap menempatkan manusia sebagai pusat.
Sekolah Rakyat sebagai Bagian dari Mobilitas Sosial
Pada titik ini, Sekolah Rakyat dapat dilihat dari perspektif yang lebih luas.
Pendidikan bukan hanya tentang sekolah.
Pendidikan adalah tentang kesempatan.
Seorang anak yang memperoleh pendidikan berkualitas memiliki peluang lebih besar untuk menentukan masa depannya.
Karena itu, ketika negara memberikan perhatian lebih besar kepada anak-anak yang menghadapi keterbatasan ekonomi, yang sedang dibangun sebenarnya bukan hanya kapasitas sekolah.
Yang sedang dibangun adalah **kesempatan sosial**.
Tentu saja, setiap kebijakan membutuhkan evaluasi.
Sekolah Rakyat juga perlu terus memperhatikan kualitas guru, kesesuaian pembelajaran, fasilitas, perkembangan siswa, serta keberlanjutan pendidikan setelah mereka menyelesaikan satu jenjang.
Tetapi evaluasi tidak harus ditempatkan sebagai pertentangan antara mendukung atau menolak sebuah kebijakan.
Evaluasi justru diperlukan agar program yang memiliki tujuan besar dapat terus diperbaiki.
Kebijakan publik yang baik bukan kebijakan yang dianggap sempurna sejak awal.
Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang mampu belajar dari pelaksanaan dan berkembang sesuai kebutuhan masyarakat.
Dari Sekolah Rakyat Menuju Pendidikan 2045
Indonesia sedang menghadapi perubahan besar.
Bonus demografi, perkembangan teknologi, AI, perubahan dunia kerja, dan persaingan global membuat kualitas manusia semakin menentukan posisi Indonesia di masa depan.
Dalam kondisi tersebut, pendidikan tidak dapat berjalan secara terpisah-pisah.
Akses pendidikan harus bertemu dengan kualitas.
Kualitas harus bertemu dengan teknologi.
Teknologi harus bertemu dengan kompetensi guru.
Pendidikan harus terhubung dengan kebutuhan dunia kerja.
Dan seluruh proses tersebut harus tetap berorientasi pada pembangunan manusia.
Sekolah Rakyat dapat menjadi salah satu bagian dari perjalanan itu.
Program ini menunjukkan bahwa perluasan akses pendidikan dapat berjalan bersama dengan upaya membangun lingkungan belajar yang lebih terpadu. Pengembangan 1.018 modul pembelajaran juga memperlihatkan bahwa dimensi digital mulai mendapat tempat dalam ekosistem tersebut.
Tentu masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Tetapi justru di situlah pentingnya melihat kebijakan pendidikan sebagai proses jangka panjang.
Tidak semua hasil dapat terlihat dalam satu tahun.
Kadang hasil pendidikan baru tampak ketika seorang anak yang sebelumnya memiliki keterbatasan akhirnya mampu melanjutkan kuliah, memperoleh pekerjaan, membangun usaha, atau membantu keluarganya memiliki kehidupan yang lebih baik.
Itulah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.
Kita Sedang Membangun Apa?
Pada akhirnya, pembicaraan tentang Sekolah Rakyat membawa kita kembali kepada pertanyaan awal.
Kita sedang membangun apa?
Jika yang dibangun hanya sekolah, maka ukuran keberhasilannya adalah gedung, siswa, guru, dan fasilitas.
Tetapi jika yang sedang dibangun adalah masa depan manusia Indonesia, ukurannya jauh lebih besar.
Kita sedang membangun anak-anak yang memiliki kesempatan.
Anak-anak yang mampu belajar.
Anak-anak yang mampu menggunakan teknologi.
Anak-anak yang memiliki karakter.
Anak-anak yang memiliki keterampilan.
Dan yang paling penting, anak-anak yang memiliki pilihan atas masa depannya sendiri.
Karena itu, Sekolah Rakyat sebaiknya tidak hanya dipandang dari jumlah sekolah yang tersedia atau jumlah siswa yang diterima.
Ia dapat menjadi salah satu bagian dari upaya yang lebih besar untuk membuat pendidikan Indonesia semakin inklusif, adaptif, dan relevan dengan perubahan zaman.
Grand design pendidikan Indonesia pada akhirnya bukan sekadar dokumen yang berisi target.
Ia adalah arah tentang manusia seperti apa yang ingin kita siapkan untuk Indonesia masa depan.
Dan mungkin, ukuran paling sederhana dari keberhasilannya adalah satu hal:
ketika seorang anak yang sebelumnya memiliki sedikit pilihan, melalui pendidikan memperoleh lebih banyak pilihan untuk menentukan hidupnya.
Di situlah pendidikan benar-benar bekerja.
Bukan hanya membangun sekolah.
Tetapi membangun masa depan.
