Konten dari Pengguna

Semakin Bertambah Usia, Semakin Berani Jadi Diri Sendiri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada yang menarik saat seseorang semain bertambah usia. Saat melewati usia 55 tahun, usia yang bagi banyak pekerja menjadi penanda memasuki masa pensiun normal. Saya justru semakin senang melihat orang-orang yang bertambah usia, tapi semakin berani menjadi dirinya sendiri. Seleranya makin otentik, cara berpikirnya makin matang, dan batas-batas dalam pergaulan semakin jelas. Mereka tidak lagi merasa harus mengikuti semua tren, menghadiri setiap undangan, atau membuktikan sesuatu kepada siapa pun. Seolah-olah setelah puluhan tahun bekerja, mengejar target, memenuhi ekspektasi atasan, dan berusaha menjadi orang yang menyenangkan semua pihak, akhirnya mereka menemukan kebebasan untuk bertanya kepada diri sendiri: “Sebenarnya, apa yang membuat saya bahagia?”

Bagi seorang pekerja, perjalanan menuju usia pensiun sering kali dipenuhi target, tenggat waktu, promosi, pencapaian, dan tanggung jawab yang tidak ada habisnya. Kita terbiasa mengukur keberhasilan dari jabatan, besarnya penghasilan, pencapaian karier, bahkan pengakuan orang lain. Tanpa sadar, kita menghabiskan banyak energi untuk mengejar sesuatu yang kadang bukan benar-benar kita inginkan. Lalu, ketika usia bertambah dan masa pensiun semakin dekat, kita mulai memahami bahwa tidak semua perlombaan harus dimenangkan. Tidak semua pendapat harus diluruskan. Tidak semua orang harus menyukai kita. Ada kalanya, keberhasilan terbesar justru ketika kita bisa pulang dengan hati tenang, tertawa lepas bersama keluarga, menikmati secangkir kopi, membaca buku kesukaan, atau sekadar duduk menikmati pagi tanpa merasa bersalah karena tidak sedang mengejar apa-apa.

Itulah sebabnya, persiapan pensiun seharusnya tidak hanya tentang menyiapkan uang, tetapi juga menyiapkan cara pandang terhadap kehidupan. Dana pensiun yang cukup akan membantu kita menjalani hari tua dengan lebih tenang, tetapi kedewasaan emosional membuat kita mampu menikmatinya dengan lebih bermakna. Selagi masih bekerja, belajarlah membangun kehidupan di luar kantor. Rawat kesehatan, perkuat hubungan dengan keluarga, temukan kembali hobi yang sempat tertunda, perluas pergaulan yang sehat, dan sisihkan penghasilan untuk masa depan.

Pensiun, bukan hanya uang tapi juga mental

Jangan sampai kita begitu sibuk membangun karier hingga lupa membangun kehidupan yang kelak ingin kita nikmati setelah karier berakhir. Sebab, pensiun yang indah bukan semata-mata tentang berhenti bekerja, melainkan tentang memiliki kebebasan untuk menentukan bagaimana kita ingin menjalani hari-hari berikutnya. Ternyata memang benar, di usia tua, batas diri harus makin tegas. Ketawa pun makin lepas. Makin tidak tertarik buat caper sama orang lain. Tidak butuh validasi, yang penting tetap sehat dan semangat untuk menebar kebaikan di mana pun. Dan benar, semuanya akan indah pada waktunya bagi yang memahami.

Semakin bertambah usia, semoga kita semakin tidak sibuk mencari validasi, semakin tidak mudah terganggu oleh penilaian orang, dan semakin ringan langkah kita untuk menebarkan kebaikan di mana pun berada. Tetap sehat, tetap semangat, tetap produktif jika memang menginginkannya, tetapi tidak lagi merasa harus membuktikan nilai diri melalui kesibukan tanpa henti. Kita boleh berhenti mengejar dunia tanpa harus berhenti mencintai kehidupan.

Untuk teman-teman yang hari ini masih aktif bekerja, ingatlah bahwa masa pensiun bukan akhir dari perjalanan, melainkan babak baru untuk menikmati hasil perjuangan dengan cara yang berbeda. Jangan hanya mempersiapkan diri agar mampu bertahan hidup setelah pensiun. Persiapkan diri agar benar-benar bisa menikmati hidup. Karena pada waktunya, indah bukan lagi tentang seberapa tinggi kita pernah mendaki, melainkan seberapa damai kita menikmati tempat kita berpijak. #KopiPensiunan #DanaPensiun #EdukatorDPLK