Semua Orang Bisa Jadi Pembuat Konten, Siapa yang Bertanggung Jawab?

mahasiswa aktif jurnalistik Islam universitas Islam UIN Sultan Thaha Saifudin Jambi
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Reza Valevi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, ketika sebuah peristiwa terjadi, masyarakat harus menunggu wartawan datang, mengumpulkan informasi, melakukan wawancara, lalu menyajikannya melalui media. Sekarang, keadaan berubah. Seseorang yang berada di lokasi kejadian cukup mengeluarkan telepon genggam, merekam apa yang dilihat, kemudian mengunggahnya ke media sosial. Dalam hitungan menit, informasi tersebut dapat dilihat ribuan bahkan jutaan orang. Kita hidup dalam masa ketika hampir semua orang memiliki kesempatan untuk menjadi pembuat dan penyebar informasi.
Perubahan ini sebenarnya membawa banyak hal positif. Kehadiran jurnalisme warga atau citizen journalism membuat masyarakat tidak selalu bergantung pada media profesional untuk mengetahui sebuah peristiwa. Warga dapat merekam kejadian yang mungkin luput dari perhatian wartawan. Dalam situasi tertentu, informasi dari masyarakat bahkan dapat menjadi petunjuk awal bagi media untuk melakukan peliputan lebih lanjut. Kamera ponsel telah membuat masyarakat memiliki kemampuan untuk mendokumentasikan realitas di sekitarnya.
Namun, kemampuan merekam sebuah peristiwa tidak otomatis berarti seseorang mampu menjelaskan kebenaran dari peristiwa tersebut. Sebuah video mungkin benar-benar direkam di suatu tempat, tetapi keterangan yang menyertainya bisa saja keliru. Potongan video dapat dilepaskan dari konteks, foto lama dapat dibagikan kembali seolah-olah merupakan kejadian terbaru, dan sebuah pernyataan dapat dipotong sehingga memiliki makna yang berbeda. Di sinilah persoalan mulai muncul: antara menjadi orang pertama yang mengunggah informasi dan menjadi orang yang benar-benar memahami informasi tersebut.
Media sosial juga membuat persoalan itu semakin rumit. Informasi tidak lagi hanya kita cari, tetapi datang kepada kita melalui linimasa. Kita melihat judul, video pendek, potongan pernyataan, atau sebuah unggahan yang sudah dibagikan berkali-kali. Karena muncul berulang kali, sesuatu yang sebenarnya belum tentu benar dapat terasa seperti sebuah fakta. Pengulangan akhirnya menciptakan kesan kebenaran, meskipun proses verifikasinya tidak pernah dilakukan.
Masalahnya bukan hanya terletak pada orang yang pertama kali membuat konten. Kita juga perlu melihat perilaku orang-orang yang ikut menyebarkannya. Sering kali seseorang membagikan informasi bukan karena sudah memastikan kebenarannya, melainkan karena informasi tersebut membuatnya terkejut, marah, takut, atau merasa terhibur. Tombol bagikan terlihat sederhana, tetapi di baliknya terdapat keputusan untuk meneruskan sebuah informasi kepada orang lain.
Dalam kondisi seperti ini, jumlah penonton dan tanda suka juga mudah disalahartikan sebagai ukuran kebenaran. Konten yang mendapatkan jutaan tayangan dianggap lebih penting daripada konten yang hanya dilihat sedikit orang. Padahal, popularitas dan kebenaran adalah dua hal yang berbeda. Informasi yang benar bisa saja tidak menarik perhatian, sementara informasi yang keliru justru dapat menyebar sangat cepat karena mampu membangkitkan emosi.
Kehadiran kecerdasan buatan atau AI kemudian membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih kompleks. Jika sebelumnya masyarakat harus berhati-hati terhadap foto dan video yang dipotong atau dimanipulasi, kini teknologi dapat membantu menghasilkan teks, gambar, suara, dan berbagai bentuk konten yang terlihat meyakinkan. Persoalannya bukan semata-mata apakah AI itu baik atau buruk. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana manusia menggunakan teknologi tersebut dan apakah mereka bersedia bertanggung jawab atas hasil yang mereka sebarkan.
Karena itu, kita tidak bisa begitu saja mengatakan bahwa AI adalah penyebab utama munculnya informasi palsu. Teknologi memang dapat digunakan untuk membuat sesuatu yang menyesatkan, tetapi keputusan untuk mengunggah dan menyebarkannya tetap berada pada manusia. Bahkan sebelum era AI, informasi palsu sudah dapat dibuat dan disebarkan dengan berbagai cara. AI hanya membuat tantangannya semakin besar karena kemampuan membuat konten kini menjadi jauh lebih mudah.
Pada titik inilah tanggung jawab pengguna menjadi penting. Kita mungkin bukan wartawan, bukan redaktur, dan bukan pula perusahaan media. Namun, setiap kali kita membuat konten, memberikan keterangan pada sebuah video, mengunggah informasi, atau membagikan sebuah berita, kita ikut menentukan informasi seperti apa yang beredar di masyarakat. Menjadi pengguna media sosial tidak berarti bebas dari tanggung jawab. Justru ketika semua orang bisa menjadi pembuat konten, kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya sebelum menyebarkan sesuatu menjadi semakin berharga.
Tanggung jawab tersebut sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana: melakukan verifikasi sebelum percaya dan membagikan. Kita dapat melihat siapa sumber informasi, kapan sebuah foto atau video dibuat, dari mana informasi itu berasal, dan apakah ada sumber lain yang mengonfirmasi hal yang sama. Langkah tersebut mungkin terasa merepotkan ketika informasi bergerak begitu cepat. Namun, beberapa detik untuk memeriksa dapat mencegah sebuah kesalahan menyebar kepada ratusan bahkan ribuan orang.
Di sinilah prinsip dasar jurnalistik seperti verifikasi tetap relevan, bahkan ketika informasi tidak lagi hanya diproduksi oleh wartawan. Wartawan memiliki kewajiban untuk memastikan informasi sebelum diterbitkan. Tetapi masyarakat sebagai pengguna juga perlu memiliki kebiasaan yang serupa. Tidak berarti setiap orang harus berubah menjadi wartawan, melainkan setiap orang perlu memahami bahwa menyebarkan informasi juga memiliki konsekuensi.
Di sisi lain, tanggung jawab tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pengguna. Platform media sosial juga memiliki peran besar karena merekalah yang menyediakan ruang tempat jutaan konten beredar setiap hari. Sistem yang menentukan konten mana yang lebih sering muncul di hadapan pengguna ikut memengaruhi informasi yang mendapatkan perhatian. Karena itu, perusahaan teknologi juga perlu memiliki mekanisme yang mampu mengurangi penyebaran informasi yang terbukti menyesatkan tanpa mengabaikan hak masyarakat untuk memperoleh dan menyampaikan informasi.
Namun, persoalan ini tidak akan selesai hanya dengan mengandalkan aturan dari platform. Sebab teknologi selalu berkembang lebih cepat daripada kemampuan kita membuat batasan. Ketika satu bentuk manipulasi berhasil dikenali, bentuk lain dapat muncul. Begitu pula dengan AI. Hari ini kita mungkin belajar mengenali gambar yang dibuat oleh AI, tetapi besok tantangannya bisa berubah menjadi suara atau video yang semakin sulit dibedakan dari kenyataan. Karena itu, kemampuan manusia untuk berpikir kritis tetap menjadi pertahanan yang penting.
Kita juga perlu membedakan antara kebebasan membuat konten dan kebebasan menyebarkan informasi tanpa tanggung jawab. Setiap orang tentu memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan membagikan pengalaman. Citizen journalism pun dapat menjadi kekuatan ketika dilakukan dengan etika. Masalahnya muncul ketika kebebasan tersebut digunakan untuk menyebarkan tuduhan, informasi yang belum terverifikasi, atau konten yang sengaja dibuat untuk memancing kemarahan publik. Kebebasan berekspresi seharusnya tidak membuat tanggung jawab ikut hilang.
Pada akhirnya, tantangan terbesar di era digital bukan hanya bagaimana menghasilkan lebih banyak informasi, tetapi bagaimana menjaga agar informasi yang beredar tetap dapat dipercaya. Kita sudah memiliki kamera di dalam telepon genggam, berbagai platform untuk menyebarkan informasi, dan AI yang dapat membantu membuat konten dalam waktu singkat. Yang sering tertinggal justru kemampuan paling sederhana: berhenti sejenak, berpikir, kemudian bertanya apakah informasi yang ada di depan kita benar-benar layak dipercaya.
Karena itu, literasi digital seharusnya tidak berhenti pada kemampuan menggunakan aplikasi atau membuat konten. Literasi digital juga berarti memahami konsekuensi dari apa yang kita unggah dan sebarkan. Sebelum membagikan sebuah informasi, kita perlu bertanya: siapa yang membuatnya, apa sumbernya, apakah konteksnya lengkap, dan apakah ada alasan bagi kita untuk meragukannya? Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut mungkin tidak menjamin kita selalu benar, tetapi dapat membuat kita tidak mudah menjadi bagian dari penyebaran informasi yang keliru.
Ketika semua orang bisa menjadi pembuat konten, persoalan kebenaran tidak lagi hanya menjadi urusan wartawan dan perusahaan media. Kebenaran juga menjadi tanggung jawab setiap orang yang membuat, mengunggah, menerima, dan menyebarkan informasi. Teknologi akan terus berubah, AI akan semakin canggih, dan media sosial akan terus melahirkan cara baru untuk berkomunikasi. Tetapi satu hal tetap berada di tangan manusia: keputusan untuk tidak langsung percaya, tidak terburu-buru menyebarkan, dan berani mencari tahu sebelum mengatakan bahwa sesuatu adalah benar. Sebab di tengah dunia yang semakin mudah membuat informasi, kemampuan menjaga kebenaran justru menjadi tanggung jawab kita bersama.
