Sendiri untuk Membaca itu Baik

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada kalanya hidup terasa terlalu penuh. Terlalu banyak masalah yang harus dipikirkan, terlalu banyak tekanan yang harus ditanggung, dan terlalu banyak emosi yang harus disimpan. Sampai akhirnya, yang kita butuhkan bukan nasihat baru. Bukan pula lebih banyak orang yang datang menyelamatkan, melainkan sedikit jarak dan ruang untuk bernapas. Dalam kesunyian, pikiran perlahan menemukan kembali kejernihannya, hati belajar menenangkan dirinya sendiri. Dan kita mulai memahami bahwa ketenangan tidak selalu harus dicari dari kehadiran orang lain.
Mungkin memang ada fase dalam hidup. Ketika kita perlu berhenti sejenak dari keramaian, bukan karena kita membenci dunia atau tidak membutuhkan siapa-siapa. Tapi karena kita ingin kembali mengenali siapa diri kita sebenarnya. Kita belajar bahwa orang lain boleh menjadi tempat berbagi cinta, dukungan, dan kebahagiaan. Tapi jangan sampai mereka menjadi satu-satunya tempat kita menggantungkan ketenangan. Sebab ada bagian dari diri kita yang hanya bisa kita temukan ketika dunia sedang sunyi dan tidak ada siapa-siapa selain diri kita sendiri.
Di sanalah kedewasaan emosional perlahan tumbuh. Bukan ketika kita menjadi seseorang yang tidak membutuhkan siapa pun, melainkan ketika kita mampu mencintai seseorang tanpa kehilangan diri sendiri. Mampu menerima kehadiran tanpa takut pada kesendirian; dan mampu tetap utuh meskipun orang yang kita cintai tidak selalu berada di sisi kita. Terkadang, yang paling kita perlukan bukanlah jawaban baru. Tapi cukup ruang untuk diam, menepi, dan mendengarkan suara hati yang selama ini tertutup oleh riuhnya dunia.
Dan pada akhirnya, ketenangan terdalam bukan semata-mata lahir karena semua keadaan berjalan sesuai keinginan kita. Ketenangan datang ketika kita belajar berpasrah sepenuhnya kepada Ilahi, menerima setiap takdir-Nya dengan cinta, serta percaya bahwa bahkan sesuatu yang terasa buruk bagi kita belum tentu buruk di hadapan-Nya. Seperti seorang bayi yang menangis ketika wajahnya dibasuh oleh tangan ibunya karena merasa dingin dan tidak nyaman, padahal sang ibu sedang membersihkannya dengan penuh kasih sayang. Begitulah terkadang kita menangisi sesuatu yang sebenarnya sedang Tuhan gunakan untuk membersihkan, menjaga, atau mengarahkan kita kepada sesuatu yang belum mampu kita pahami.
Barangkali yang paling sering membuat kita terluka bukanlah kenyataan itu sendiri, melainkan ego kita yang ingin kenyataan berjalan sesuai kehendak kita. Kita memaksa apa yang ingin pergi untuk tetap tinggal, memaksa sesuatu yang telah berakhir untuk kembali, dan memaksa takdir mengikuti apa yang kita anggap paling baik. Padahal mungkin, ketenangan mulai hadir ketika kita berhenti melawan apa yang sudah ditetapkan, lalu berkata dalam hati, “Ya Allah, aku tidak selalu mengerti jalan-Mu, tetapi aku percaya kepada-Mu.”
Maka ambillah waktu untuk menepi, kenali kembali diri kita, pulihkan hati, lalu kembalilah menghadapi dunia dengan keyakinan bahwa tidak semua yang menyakitkan adalah bentuk kehilangan. Bisa jadi, di balik sesuatu yang tidak kita mengerti, ada kasih sayang Tuhan yang sedang bekerja dalam cara yang belum mampu kita lihat. Jadilah literat!
