Konten dari Pengguna

Sepi yang Memerdekakan

Nurul Firmansyah

Nurul Firmansyah

Lawyer and Restorative Economy Enthusiast

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nurul Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

koleksi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
koleksi Pribadi

Ada malam-malam tertentu ketika aku sadar tidak ada satu pesan pun yang masuk, tidak ada satu suara pun yang perlu kutanggapi, dan aku tiba-tiba merasa gelisah. Bukan karena ada yang salah, tapi karena hening itu sendiri terasa seperti sesuatu yang harus segera diisi.

Aku meraih ponsel, membuka aplikasi apa saja, mencari suara siapa pun, agar tidak perlu duduk berdua dengan diriku sendiri terlalu lama.

Aku pikir aku tidak sendirian dalam kebiasaan ini. Barangkali memang begitulah manusia dibentuk: sejak kecil kita belajar mengenali diri lewat mata orang lain, lewat pujian, teguran, tatapan, dan pengakuan. Maka ketika keramaian itu tiba-tiba hilang, yang terasa hilang bukan hanya suara di sekitar, tapi juga sebagian dari cara kita mengenali siapa diri kita.

Tapi belakangan aku mulai bertanya-tanya, jangan-jangan aku keliru selama ini. Jangan-jangan sepi tidak selalu berarti kehilangan. Ada kemungkinan lain yang jarang kupikirkan: bahwa di ruang sunyi itu justru tersimpan kesempatan untuk bertemu kembali dengan diri sendiri.

Belajar dari Kematian

Aku teringat, betapa sejak dulu manusia menaruh kematian dan kesepian dalam kotak yang sama. Mati adalah saat seseorang benar-benar berhenti berinteraksi dengan dunia, puncak dari kesendirian yang tak lagi bisa ditawar. Mungkin karena itulah hampir semua kebudayaan menciptakan cara untuk "melunakkan" kematian: doa-doa, upacara, bekal kubur, kisah tentang kehidupan setelah kematian. Semua itu, kalau kupikir lagi, adalah usaha manusia untuk tidak percaya bahwa kesendirian bisa benar-benar mutlak.

Namun semakin aku merenungkannya, semakin aku sadar ada pelajaran yang lebih sederhana dan lebih jujur di balik kematian: ada bagian dari hidup yang memang harus kujalani sendirian. Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikanku menjalani hidupku sendiri, atau mengambil alih tanggung jawab atas pilihan-pilihan yang kubuat. Pada akhirnya, akulah yang harus berjalan di jalanku sendiri, dan itu, entah kenapa, terasa menakutkan sekaligus melegakan pada saat bersamaan.

Membedakan Kesepian dari Menyepi

Aku mulai belajar membedakan dua hal yang selama ini kucampuradukkan: kesepian dan menyepi.

Kesepian datang tanpa aku memintanya, perasaan sendiri meski dikelilingi banyak orang. Menyepi, sebaliknya, adalah sesuatu yang kupilih sendiri: mengambil jarak dari keramaian bukan karena ditinggalkan, tapi karena aku memang butuh jeda.

Aku sadar, selama ini aku terlalu sering hidup berdasarkan penilaian orang lain tanpa benar-benar menyadarinya. Aku ingin terlihat berhasil, ingin dianggap baik-baik saja, ingin pendapatku diterima. Bahkan tidak jarang aku mengambil keputusan bukan karena benar-benar menginginkannya, melainkan karena takut mengecewakan seseorang.

Media sosial membuat semuanya lebih rumit. Aku bukan cuma hidup berdampingan dengan orang lain, tapi juga terus-menerus menonton hidup mereka, pekerjaan, rumah, liburan, kebahagiaan yang dipamerkan dalam potongan-potongan gambar. Tanpa sadar aku membandingkan semuanya dengan hidupku sendiri, sampai lupa bertanya hal paling mendasar: sebenarnya, apa yang aku inginkan?

Di titik itulah aku mulai memahami kenapa menyepi menjadi penting. Bukan untuk lari, tapi untuk berhenti sejenak dan mendengar kembali suara yang selama ini tenggelam oleh suara-suara lain.

Pertanyaan yang Tidak Nyaman

Ada pertanyaan-pertanyaan yang sulit kujawab ketika aku terlalu sibuk menanggapi dunia luar. Apa yang sebenarnya kupercayai? Apa yang benar-benar penting bagiku? Apakah jalan yang sedang kutempuh ini memang pilihanku, atau hanya rute yang kuikuti karena diharapkan orang lain?

Pertanyaan semacam ini tidak nyaman untuk direnungkan. Kadang membuatku gelisah, bahkan sedikit takut pada jawabannya sendiri. Tapi aku mulai percaya, justru dari kegelisahan semacam itulah aku bisa mengenal diriku lebih jujur.

Kemerdekaan diri, kurasa, dimulai persis di titik itu, ketika aku berani mengambil keputusan berdasarkan kesadaranku sendiri, bukan sekadar demi mendapat persetujuan orang lain. Ini bukan berarti aku harus menolak semua nasihat, apalagi hidup sepenuhnya sendirian. Aku masih membutuhkan keluarga, sahabat, dan orang-orang yang kucintai. Tapi hubungan-hubungan itu akan terasa lebih sehat ketika aku tidak kehilangan diriku sendiri di dalamnya. Aku boleh mendengarkan banyak suara, asal aku tidak lupa suaraku sendiri.

Belajar Berkata "Tidak"

Menjadi diri sendiri, aku belajar, ternyata membutuhkan keberanian yang cukup besar. Kadang keberanian itu sesederhana berani berkata "tidak."

Tidak pada sesuatu yang bertentangan dengan nilai yang kuyakini. Tidak pada hidup yang hanya dijalani demi memenuhi harapan orang lain. Tidak pada dorongan untuk selalu mencari pengakuan. Dan tidak pada keharusan untuk selalu mengikuti arah kerumunan.

Aku teringat kalimat Jean-Paul Sartre, bahwa manusia "dikutuk untuk bebas." Awalnya kalimat itu terdengar aneh bagiku, bebas kok dikutuk? Tapi lama-lama aku paham maksudnya: kebebasan bukan cuma soal melakukan apa yang kuinginkan, melainkan juga soal menanggung sendiri akibat dari setiap pilihan yang kuambil.

Itu tidak mudah. Ketika aku mengikuti arus bersama orang banyak, aku selalu punya alasan untuk berlindung: "toh semua orang juga begitu." Tapi ketika aku memilih jalan sendiri, aku tidak lagi punya tempat bersembunyi. Aku harus berani berkata: ini pilihanku, dan aku yang bertanggung jawab atasnya.

Barangkali di situlah letak makna sepi yang sesungguhnya bagiku sekarang, bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai ruang latihan menuju kemerdekaan.

Bising di Dunia yang Terhubung

Ironisnya, aku hidup di zaman ketika semua orang begitu mudah terhubung, tapi tidak selalu terasa lebih dekat. Aku bisa berbicara dengan siapa saja, kapan saja, dari mana saja. Tapi entah kenapa, rasa kosong itu masih sering muncul.

Mungkin karena terhubung dengan orang lain tidak sama dengan terhubung dengan diri sendiri. Aku terlalu sibuk mengikuti apa yang sedang ramai dibicarakan, apa yang sedang viral, sampai aku tahu banyak soal kehidupan orang lain, tapi semakin sedikit tahu tentang apa yang sesungguhnya sedang terjadi dalam diriku sendiri.

Karena itu, aku belajar untuk sesekali berhenti. Tidak perlu pergi jauh ke gunung atau mengasingkan diri ke tempat terpencil. Cukup dengan cara-cara sederhana: mematikan ponsel sejenak, berjalan sendirian, membaca buku tanpa gangguan, duduk diam, memberi ruang bagi pikiran untuk mengembara.

Dalam kesunyian semacam itu, aku belajar satu hal yang selama ini luput: tidak setiap ruang kosong harus segera diisi. Ada kekosongan yang justru memberi kesempatan untuk bertumbuh, kalau aku cukup sabar membiarkannya ada.

Menuju Sepi yang Memerdekakan

Pada akhirnya, aku sadar sepi adalah bagian dari hidup yang tidak mungkin sepenuhnya kuhindari. Aku akan kehilangan orang-orang yang kucintai. Aku akan menghadapi keputusan-keputusan yang tidak bisa diambil orang lain untukku. Dan kelak, kematian adalah perjalanan yang harus kutempuh sendirian.

Karena itu mungkin aku perlu berhenti memandang sepi semata sebagai sesuatu yang menakutkan. Aku bisa belajar bersahabat dengannya, bukan untuk menjauh dari kehidupan, tapi justru untuk lebih mengenal diri sebelum kembali menjalani kehidupan itu.

Aku mulai percaya, orang yang tidak pernah berani sendirian mungkin akan selalu membutuhkan kerumunan untuk merasa dirinya berharga. Sebaliknya, orang yang mampu menyepi akan belajar bahwa harga dirinya tidak melulu ditentukan oleh tepuk tangan orang lain.

Kemerdekaan diri, bagiku sekarang, bukan berarti tidak membutuhkan siapa pun. Kemerdekaan adalah kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang sedang melihat.

Dan mungkin benar, jalan menuju kemerdekaan itu memang tidak selalu ramai. Kadang ia justru dimulai dari sebuah ruang sunyi, ketika aku berhenti mencari suara orang lain, dan untuk pertama kalinya, benar-benar mendengar suaraku sendiri.