Konten dari Pengguna

Seporsi Kebahagiaan dalam Mi Instan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Makhsun Bustomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemarin siang, mereka berdua pamit untuk trip. Ya, Ephis putri saya, dan ibunya mengejar sunrise ke Gunung Bromo. Sedikit becanda saya berkata, ”Matahari di pantai, di gunung, atau di atas balkon rumah sendiri itu benda yang sama. Kenapa harus repot-repot ke sana?"

Apa yang dicari, sih?

Tetapi demi mereka bahagia, saya berikan uang saku. Malah, sebelum pergi, mereka berdua saya hadiahi jaket baru. Lalu, saya ngapain sendirian di rumah?

Ilustrasi Seporsi Kebahagiaan dalam Mi Instan: Koleksi Pribadi pada 6 Oktober 2024

Sudah beberapa lama saya tidak leluasa bepergian. Kondisi kesehatan saya membatasi mobilitas. Ditinggal mereka berdua, untuk membunuh sepi saya selesaikan membaca Hygge, buku karya Meik Wiking tentang konsep bahagia versi orang Denmark dan bagaimana mewujudkannya. Kebahagiaan adalah saat-saat nyaman bersama keluarga, sahabat dan nyaman bersama dirinya sendiri. Bahagia juga dapat ditemui ketika kembali ke alam, menjauhi gadget, membaca buku, diterangi lampu yang nyaman, ngobrol dengan teman tanpa mendominasi, ngemil dan berbagi.

Lantas, saya menemukan sebuah kalimat kunci.

"Kebahagiaan adalah kegembiraan-kegembiraan kecil yang bisa diciptakan sehari-hari, bukan keberuntungan besar yang jarang terjadi".

Karenanya, saya turut gembira dikirimi foto mereka berdua, dengan pose membentuk lambang hati. Semoga itu menjadi kegembiraan kecil bagi mereka. Belum tentu juga kan mereka gembira setiap hari di rumah bersama ayah atau suaminya?

Ilustrasi seporsi mi instan bersumber dari https://www.pexels.com/photo/bowl-with-chicken-noodle-soup-and-parsley-4210846/

Nah, salah satu kegembiraan kecil saya ketika sendirian di rumah adalah makan mi rebus.

Pertama, karena saya cukup malas keluar rumah. Kedua, kalaupun harus pesan online, tidak ada yang cukup menarik selera saya dalam daftar makanan di marketplace. Jelas lebih menggoda satu porsi mi rebus buatan sendiri.

Beruntungnya ada cukup stok mi instan dengan berbagai merk. Bukan belanja sendiri, melainkan berkat hasil menghadiri acara selamatan, tahlilan atau kenduri. Belakangan tradisi brekat di tempat tinggal saya berisikan bahan makan seperti mi instan, beras, telor mentah, teh, gula dan kadang-kadang ada rokok 2 atau 3 batang yang dikemas plastik.

Yang pasti, semakin banyak yang makan mi instan, maka Sudono Salim dan generasi ahli warisnya makin bahagia. Saya jadi teringat makna berkat atau berkah yang saya tahu ketika masih belajar di sebuah madrasah, Berkah adalah kebaikan yang bertambah terus. Apakah mereka turut memberi kontribusi kebahagiaan buat saya?

Kupilih-pilih lagi beberapa mi instan. Siapakah yang lebih bahagia, saya yang dapat paket berkat ini dari sohibul hajat atau atau para pemilik pemodal Indofood yang memiliki keberuntungan besar? Apakah pasti Sudono Salim dan keluarga lebih bahagia dari saya?

Saya terlalu cerewet bertanya-tanya sendiri. Maklum, sendirian di rumah. Tapi, pada akhirnya saya tak perlu memikirkan jawabannya lebih jauh. Ternyata memikirkan hal itu hanya bikin lubang kecemburuan yang besar.

Jadi, cukup dengan menikmati mi instan, dan membayangkan istri dan anak saya sedang bergembira di Bromo, maka saya ikut gembira.

Saya tahu, bahagia ini sesungguhnya masih perlu diuji. Apakah ketika melihat tetangga saya bahagia akan terus bahagia? Apakah mendengar teman promosi ikut gembira? Mendengar teman lama yang dahulu nilai akademiknya jauh di bawah saya kini bergelar Phd dari universitas luar negeri membuat saya merasa lebih pantas menempelkan gelar itu di belakang nama saya.

Sepertinya kita tidak hanya mencari bahagia. Tetapi juga mesti pintar mencari cara agar lubang itu tidak menganga. Sepertinya Tuhan sudah menyediakan kehidupan ini bermacam serpihan yang dapat menjadi sumber kebahagaiaan. Kita hanya cukup mengambil porsi secukupnya.

Makan mi rebus saban hari sudah pasti akan menghilangkan kebahagiaan yang ditawarkannya. Barangkali kita jangan terlalu repot mencari kebahagiaan itu apa, bisa jadi itu justru membawa kita menjauh dari kegembiraan yang ada. Di sini saya belajar menerima porsi yang bisa dinikmati.

Dan, lucunya setelah mi disantap, ternyata bumbu-bumbunya masih utuh dalam kemasan plastik. Lha, kok tadi saya betul-betul lupa, dan anehnya seporsi mi rebus terlanjur habis juga.

Mungkin seperti itulah manusia, repot-repot mencari bahagia, sampai lupa memeriksa lubang yang diam-diam menganga di dalam dirinya.