Konten dari Pengguna

Serem Nggak Sih, Cuma 9 Persen Lansia yang Punya Dana Pensiun

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Persiapan hari tua masih menjadi pekerjaan besar bagi masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Asian Development Bank (ADB), hanya 9% lansia Indonesia yang memiliki tabungan pensiun. Angka ini jauh di bawah sejumlah negara Asia lainnya, seperti Tiongkok 87%, Malaysia 60%, Korea Selatan 53%, Bangladesh 28%, dan Vietnam 25%. Data tersebut menjadi pengingat bahwa memiliki penghasilan saat masih bekerja belum otomatis berarti seseorang siap secara finansial ketika memasuki masa pensiun.

Kondisi tersebut penting menjadi refleksi bagi para pekerja karena masa pensiun pada dasarnya adalah fase ketika kemampuan untuk memperoleh penghasilan aktif mulai berkurang. Sementara itu, kebutuhan hidup, kesehatan, tempat tinggal, dan kebutuhan keluarga tetap berjalan. Tanpa dana pensiun yang dipersiapkan sejak jauh hari, seseorang berpotensi tetap harus bekerja di usia lanjut atau bergantung kepada keluarga. Karena itu, dana pensiun bukan sekadar tabungan, tetapi instrumen untuk menjaga kemandirian dan kualitas hidup ketika penghasilan dari pekerjaan berhenti.

Kondisi lansia di Indonesia

Menyiapkan dana pensiun juga tidak harus menunggu memiliki penghasilan besar. Yang lebih penting adalah memulai sedini mungkin dan dilakukan secara konsisten. Iuran kecil yang disisihkan setiap bulan dapat berkembang dalam jangka panjang melalui investasi dan efek compounding. Program seperti Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) dapat menjadi salah satu pilihan bagi pekerja untuk membangun dana hari tua secara lebih terencana, termasuk bagi pekerja yang tidak memperoleh program pensiun dari pemberi kerja.

Pada akhirnya, angka 9% bukan hanya statistik, tetapi sebuah pesan penting bagi jutaan pekerja Indonesia: masa pensiun harus dipersiapkan sebelum masa kerja berakhir. Pensiun yang berkualitas tidak cukup hanya mengandalkan harapan bahwa nanti akan ada uang; perlu ada perencanaan, disiplin menabung, dan keputusan finansial sejak usia produktif. Semakin cepat dana pensiun disiapkan, semakin panjang waktu yang tersedia untuk membangun bekal hari tua—agar ketika tiba waktunya pensiun, seseorang tetap dapat menjalani hidup dengan mandiri, tenang, dan bermartabat.