Setelah Belasan Tahun Menjadi ASN, Akhirnya Saya Bertobat

Dokter, praktisi kesehatan masyarakat, yang ingin jadi penulis catatan perjalanan
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rizki Ekananda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tumbuh remaja di masa reformasi tanpa disadari membentuk cara pandang saya. Terpapar berita serta retorika aktivis, oposisi, dan demonstrasi memberi kesan kuat tentang makna "keren".
Tidak hanya itu, pemahaman tersebut membawa efek samping terhadap sudut pandang saya mengenai ASN sebagai bagian dari pemerintah.
ASN menjadi terbingkai negatif: bodoh, tidak bisa kerja, malas, lambat, dan identik dengan pungutan liar.
Ketika kamera menyorot seorang pejabat publik yang berani bersuara lantang (baca: marah-marah), hal itu seolah menjadi harapan perubahan—sebuah pemandangan anomali yang memuaskan suara hati atas rendahnya kinerja ASN.
Orang tua pernah berkata, "Jangan terlalu benci, nanti kena tulah."
Seiring berjalannya waktu, saya justru bergabung menjadi CPNS. Bukan hal yang mudah; butuh waktu lima tahun hingga akhirnya saya memutuskan mengikuti ujian CPNS di Gelora Bung Karno.
Pengalaman kerja di beberapa instansi mengantarkan saya pada satu kesimpulan: kebijakan adalah jalan perubahan.
Saya tidak ingin terus memelihara kebencian di dalam dada, hanya bisa berkomentar, dan merasa menjadi korban kebijakan. Saya ingin ikut mengambil peran, saya ingin ikut "campur tangan".
Tulisan ini merupakan catatan saya sebagai ASN. Cerita tentang mereka yang tidak heroik, jarang terlihat, dan sering mendapat stigma negatif—mereka yang bekerja di balik layar administrasi dan kebijakan.
Pemikir yang Bekerja di Balik Layar
Dulu saya berpikir bahwa inovasi serta pemikiran kritis dan logis hanyalah milik pekerja swasta, korporasi besar, atau NGO internasional.
Ternyata saya salah. Di balik bangunan kaku dan sekat kantor yang terasa suram, saya mendapati banyak ASN merupakan sosok-sosok cerdas.
Mereka adalah lulusan perguruan tinggi terbaik di dalam maupun luar negeri. Sebut saja kampus-kampus top dunia, jejak alumni mereka dapat kita temukan di dalam sistem kepegawaian ASN.
Proses Critical thinking dapat saya rasakan dalam proses penyusunan kebijakan. Di ruang-ruang rapat teknis, saya menyaksikan perdebatan sengit dan argumentatif berbasis data. Mereka mampu membedah situasi rumit dan menerjemahkannya menjadi program nyata untuk kebaikan masyarakat.
Kecepatan Kerja dan Tembok Regulasi
Persepsi saya mengenai lambatnya kerja ASN perlahan runtuh seiring pemahaman tentang penyelenggaraan negara yang bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
Saya belajar bahwa terdapat beberapa prinsip yang wajib dipegang ASN ketika bekerja, di antaranya asas kepastian hukum dan akuntabilitas.
Seorang ASN tidak dirancang untuk bergerak tanpa adanya regulasi pendukung. Situasi inilah yang sering kali mengesankan lambat dan rumitnya kerja ASN.
Belakangan saya memahami bahwa ia memiliki tujuan yang baik. Mekanisme administrasi dan verifikasi berlapis diciptakan untuk menjamin ketelitian sekaligus mencegah uang rakyat terbuang sia-sia.
Tidak banyak diketahui khalayak umum, dalam dunia ASN "salah langkah" dapat berujung penjara. Salah langkah yang menyebabkan kerugian negara berarti ASN harus mengembalikan uang tersebut ke negara. Semua hal ini tetap berlaku meskipun uang tidak masuk ke dalam kantong.
Pada akhirnya saya menyadari, kecepatan kerja ASN tidak hanya diuji dengan target waktu, tetapi juga kepatuhan dan kesesuaian pada aturan atau regulasi.
Kerja Keras yang Menembus Batas Jam Kerja
Sedih rasanya mendengar sentimen negatif atas kerja ASN yang "teng go", serta "sentimen kopi".
Kalau dipikir, "apakah salah datang dan pulang tepat waktu?".
Pengalaman saya bekerja di sektor swasta, justru memandang hal ini sebagai hak dan kewajiban yang ditaati. Lewat waktu kerja maka terhitung lembur, atau bahkan menjadi analisis beban kerja untuk menjamin performa dan kualitas pekerjaan.
Saya menjalani bahwa ruang-ruang rapat seringkali tetap bernyawa hingga larut malam dan akhir pekan. Saya menyaksikan sendiri bagaimana para senior dan rekan kerja mendedikasikan hidup demi sebuah regulasi yang mendukung pelayanan publik yang lebih baik.
Mereka juga sering kali bekerja melampaui uraian tugas pokok dan fungsi. Semua karena tanggung jawab dan demi memastikan roda pelayanan publik tetap berputar.
Realita dunia ASN, ritme kerja di birokrasi ternyata tidak setipis narasi "datang jam delapan, pulang jam empat".
Pernah saya tanyakan kepada senior terkait situasi ini dan jawaban mereka; "kita ini abdi bukan buruh". Sebuah jawaban yang mencerminkan pengabdian tulus.
Saya berasumsi, mungkin hal ini yang mendasari sangat jarang saya mendengar demonstrasi ASN bahkan untuk memperjuangkan yang sektor swasta sebut sebagai hak.
Refleksi Belasan Tahun Menjadi ASN
Belasan tahun saya berkarya sebagai ASN. Saya merasakan sendiri bagaimana perubahan reformasi birokrasi terus diperjuangkan.
Saya menyadari masih banyak ruang birokrasi yang perlu dibenahi. Birokrasi kita belum ideal dan prosesnya kerap memicu perdebatan pikiran.
Tetapi saya percaya kita masih berada di jalur yang benar (on the track) menuju cita-cita ASN yang lebih baik.
Saya pun tidak menafikan masih adanya oknum ASN yang tersangkut kasus korupsi. Namun kini, saya memiliki sudut pandang yang lebih luas: permasalahan korupsi di birokrasi ternyata tidak sesederhana yang terlihat di permukaan.
Dan terakhir, beberapa rekan mungkin berpikir bahwa daya kritis akan tumpul setelah masuk ke dalam sistem. Namun percayalah, mereka yang idealis dan kritis tetaplah sama. Mereka hanya bertarung di medan yang berbeda.
Mereka memang tidak tampak heroik, tidak memiliki panggung, tidak menggunakan pengeras suara di atas mobil bak terbuka, serta tidak diiringi massa yang bersorak di belakang. Mereka jauh dari sorot kamera.
Namun, justru di situlah letak pengabdian sejati. Saya mengenal banyak ASN yang memiliki tekad kuat untuk terus membawa perubahan positif bagi bangsa ini.
Oleh karena itu, saya menyatakan diri bertobat atas persepsi dangkal saya di masa lalu.
(Silakan baca tulisan saya: "Rajin Ibadah tapi Terjerat Korupsi", dan "Suara Sunyi Tenaga Kesehatan di Pulau Terpencil")
