Setelah Usia 50 Tahun, Apa Lagi yang Dicari?

Dosen Unindra - Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM - Humas ADPI - Asesor LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Mungkin ada banyak yang pernah mengalami. Dulu kita sibuk membuktikan bahwa kita hebat. Jabatan harus naik. Rumah harus bagus. Mobil harus berganti. Anak-anak harus berhasil. Karier bagus dan ekonomi mapan. Bahkan, orang lain harus tahu bahwa hidup kita baik-baik saja dan sukses. Kira-kira begitu.
Tapi apa yang terjadi setelah usia kkita 50+. Usia sudah mau pensiun. Kita mulai sadar bahwa “tepuk tangan manusia ternyata tidak pernah membuat hati benar-benar tenang”. Kita bisa punya banyak pencapaian, tetapi tetap gelisah. Bisa terlihat sukses di mata orang lain, tetapi diam-diam lelah mempertahankan sebuah kehidupan yang sebenarnya tidak perlu kita pertontonkan. Pergaulan luas tapi berujung semu. Akhirnya, lelah sendiri.
Usia lebih dari 50 tahun. Pelan-pelan kita belajar melepaskan. Tidak semua omongan harus dijawab. Tidak semua orang harus diyakinkan. Tidak semua keberhasilan harus dipamerkan. Tidak semua masalah harus dimenangkan. Karena di usia ini, ketenangan jauh lebih berharga daripada pengakuan. Banyak orang akhirnya menyesal atas apa yang dilakukannya dulu. Kalau boleh memilih, mungkin kita tidak lagi membutuhkan banyak hal. Hanya 5 kata di usia lebih dari 50 tahun: Cukup. Sehat. Tenang. Mandiri. Bersyukur.
Cukup dalam menerima rezeki. Sehat untuk menikmati sisa perjalanan. Tenang dalam menjalani hari-hari. Mandiri untuk tidak bergantung pada orang lain. Dan bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini. Dann ujungnya, menajag hati untuk selalu ikhlas melepaskan yang sudah berlalu. Dan yang paling penting: diridhai Allah di sisa usia dengan memperbanyak ibadah dan sedekah.
Kenapa begitu? Sebab pada akhirnya, kita tidak akan membawa jabatan. Tidak membawa rumah. Tidak membawa mobil. Tidak membawa rekening. Bahkan tidak membawa tepuk tangan manusia. Yang kita bawa hanyalah amal dan hati kita. Jadi, kalau hari ini usia kita sudah 50+, mungkin sudah waktunya berhenti bertanya: “Apa yang harus saya buktikan kepada dunia?” Gantilah dengan: “Apa yang harus saya perbaiki agar ketika waktunya pulang, hati saya tenang dan Allah ridha kepada saya?”
Karena pada akhirnya, hidup yang berhasil bukanlah hidup yang paling banyak dipuji manusia, tetapi hidup yang paling damai ketika menghadap Sang Pencipta. Semoga kita semua sampai di sana. Dalam keadaan tenang, cukup, sehat, ikhlas, dan diridhai. Aamiin.
