Sisa MBG dan Kebiasaan Makan Anak

Writer, Walker, Cyclist, and Alumnus of The Open University (UT) and UPN Veteran. Views expressed are my own and do not represent any organization.
·waktu baca 10 menit
Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu keresahan yang terus mengganjal pikiran saya ketika melihat perdebatan tentang sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ketika makanan yang dibagikan kepada anak-anak tidak habis dan kemudian berakhir di tempat sampah atau menjadi makanan ternak, sebagian orang segera melihatnya sebagai persoalan program. Makanannya dianggap tidak enak, menunya dianggap tidak sesuai selera anak, atau penyelenggara dianggap belum mampu memahami kebiasaan makan penerima manfaat.
Semua kritik itu tentu layak didengar. Program sebesar MBG memang harus terus dievaluasi. Makanan yang disediakan dengan uang negara tidak boleh berakhir menjadi sampah tanpa pernah benar-benar memberikan manfaat kepada anak yang menjadi sasaran program.
Tetapi saya mempunyai kegelisahan lain.
Jangan-jangan, di balik persoalan sisa makanan MBG, ada masalah yang lebih dalam dan jarang kita bicarakan: jangan-jangan kita sedang berhadapan dengan generasi anak yang memang tidak terbiasa makan makanan bergizi.
Saya tidak bermaksud menyalahkan anak-anak. Apalagi menganggap mereka sebagai pihak yang “sakit” hanya karena menolak makanan tertentu. Anak pada dasarnya hanya mengenali dunia makanan sebagaimana makanan itu diperkenalkan kepadanya. Kalau sejak kecil lidahnya lebih akrab dengan makanan manis, gurih, renyah, berbumbu kuat, atau makanan olahan, tentu makanan dengan rasa yang lebih sederhana bisa terasa asing.
Dan lidah, seperti kebiasaan lainnya, membutuhkan proses untuk belajar.
Belajar dari Seporsi Makanan di Tanah Suci
Saya teringat pengalaman ketika pada 2025 saya menunaikan ibadah haji.
Para jamaah mendapatkan jatah makanan yang menurut saya cukup istimewa. Ada nasi, lauk, sayuran, dan sumber protein. Makanan itu disiapkan untuk memenuhi kebutuhan jamaah yang menjalani aktivitas ibadah dengan kondisi fisik yang tidak selalu ringan.
Tetapi makanan yang baik ternyata tidak otomatis menjadi makanan yang disukai semua orang.
Hari demi hari berlalu. Menu pun sebenarnya tidak selalu sama. Namun sebagian jamaah mulai merasa bosan. Ada yang hanya memakan bagian tertentu, ada yang tidak menyentuh makanannya, dan ada pula yang memilih mencari makanan lain.
Yang membuat saya sedikit heran adalah ketika ada jamaah yang justru memilih mie instan.
Di hadapannya tersedia makanan lengkap dengan lauk dan sayuran. Tetapi yang dicari justru mie instan.
Saya tidak hendak menghakimi pilihan tersebut. Setiap orang memiliki selera dan pertimbangan masing-masing. Tetapi pengalaman sederhana itu membuat saya menyadari satu hal: manusia tidak selalu memilih makanan berdasarkan apa yang paling bergizi. Kita sering memilih berdasarkan apa yang paling akrab bagi lidah.
Makanan yang secara gizi baik belum tentu secara psikologis terasa menyenangkan.
Pada akhirnya, sebagian makanan yang sebenarnya masih layak dimakan berakhir di tempat sampah.
Pengalaman itu kemudian terlintas kembali ketika saya mendengar tentang sisa makanan MBG.
Barangkali ada pola yang mirip.
Ketika seorang anak menerima makanan yang terdiri atas nasi, lauk, sayur, dan buah, kemudian ia tidak menghabiskannya, kita mungkin terlalu cepat menyimpulkan bahwa makanan itu tidak enak. Padahal bisa saja anak tersebut memang tidak terbiasa dengan makanan seperti itu.
Di sinilah persoalan menjadi menarik. Sebab yang sedang kita hadapi bukan semata-mata persoalan dapur, tetapi juga persoalan budaya makan.
Lidah Juga Punya Kebiasaan
Kita sering mengatakan, “Anak saya memang tidak suka sayur.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi kalau direnungkan, ada pertanyaan lanjutan yang sebenarnya penting: sejak kapan anak itu tidak suka sayur?
Apakah sejak lahir?
Tentu tidak.
Preferensi terhadap makanan berkembang melalui pengalaman. Anak belajar mengenali rasa, tekstur, aroma, warna, bahkan suasana ketika makan. Karena itu, apa yang berulang kali hadir di meja makan rumah memiliki kemungkinan besar menjadi sesuatu yang akrab bagi anak.
Penelitian tentang food neophobia—kecenderungan menolak atau enggan mencoba makanan yang belum familiar—menunjukkan bahwa anak yang lebih tinggi tingkat food neophobia-nya cenderung mengkonsumsi sayuran lebih sedikit. Sebuah penelitian terhadap anak usia 10–12 tahun, misalnya, menemukan hubungan negatif antara food neophobia dan konsumsi sayuran.
Artinya, penolakan terhadap sayuran tidak selalu sekadar soal “anak bandel” atau “anak tidak suka makanan sehat.” Ada aspek psikologis dalam proses anak mengenali makanan.
Yang menarik, sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa penerimaan anak terhadap makanan baru dapat dibangun melalui paparan berulang.
Sebuah penelitian terhadap anak-anak prasekolah menemukan bahwa pemberian sayuran secara berulang dapat meningkatkan konsumsi sayuran tersebut. Penelitian lain menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap makanan baru dapat meningkatkan kemauan anak untuk mencicipinya.
Jadi, ketika anak menolak sayur pada kesempatan pertama, persoalannya belum selesai.
Boleh jadi ia hanya belum akrab.
Di sinilah saya kira kita perlu mengubah cara pandang. Anak tidak selalu harus langsung menyukai makanan sehat. Kadang-kadang mereka perlu diperkenalkan, dibiasakan, lalu diberi kesempatan untuk belajar menyukainya.
Ini tentu bukan berarti orang tua harus memaksa anak menghabiskan semua makanan. Memaksa justru bisa membuat pengalaman makan menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Tetapi membiarkan anak sama sekali tidak bersentuhan dengan makanan yang sehat juga bukan solusi.
Ada jarak antara memaksa dan membiasakan.
Dan jarak itulah yang menurut saya perlu diisi oleh pendidikan keluarga.
MBG Bukan Hanya Soal Sarapan atau Makan Siang
Karena itu, saya melihat MBG seharusnya tidak dipahami hanya sebagai program pemberian makanan.
Kalau kita berhenti pada logika “pemerintah menyediakan makanan, anak makan, selesai,” kita kehilangan peluang yang jauh lebih besar.
MBG sesungguhnya bisa menjadi semacam laboratorium nasional untuk memperbaiki budaya makan anak Indonesia.
Bayangkan jika seorang anak setiap hari diperkenalkan dengan makanan yang lebih beragam. Ia mengenal ikan, telur, ayam, tahu, tempe, sayuran, buah, dan berbagai sumber pangan lainnya. Ia tidak hanya mendapatkan kalori, tetapi juga pengalaman makan yang lebih beragam.
Tetapi sekolah tidak mungkin bekerja sendirian.
Anak berada di sekolah hanya sebagian dari harinya. Selebihnya ia berada di rumah, bermain, belajar, dan tentu saja makan bersama keluarga.
Karena itu, kalau sekolah memberikan sayuran tetapi di rumah anak hampir selalu diberikan makanan yang didominasi tepung, gula, atau makanan ultra-proses, akan ada semacam pertarungan kebiasaan.
Sekolah sedang memperkenalkan kebiasaan baru, sementara rumah mempertahankan kebiasaan lama.
Ibarat sebuah perahu, sekolah sedang mencoba mengubah arah haluan, tetapi keluarga masih mendayung ke arah yang berlawanan.
Maka menurut saya, ketika ada banyak makanan MBG yang tersisa, respons kita tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan, “Kenapa makanan ini tidak enak?”
Pertanyaan itu penting, tetapi belum cukup.
Kita juga perlu bertanya, “Seperti apa kebiasaan makan anak-anak ini sebelum mereka menerima MBG?”
Pertanyaan kedua jauh lebih sulit dijawab. Tetapi justru di situlah persoalan yang lebih mendasar mungkin berada.
Jangan Menyalahkan Anak, Jangan Juga Menyalahkan Program
Saya kira kita harus berhati-hati agar gagasan ini tidak berubah menjadi kesimpulan yang terlalu sederhana.
Tidak semua makanan tersisa karena anak tidak terbiasa makanan bergizi.
Bisa saja makanan memang tidak enak. Bisa saja kualitas bahan tidak baik. Bisa saja makanan tiba dalam kondisi kurang layak. Bisa saja teksturnya tidak sesuai. Bisa saja porsi terlalu besar. Bisa saja menu terlalu monoton. Bahkan bisa saja ada persoalan distribusi dan waktu makan yang membuat makanan tidak lagi berada dalam kondisi terbaik ketika dikonsumsi.
Semua itu harus diperiksa.
MBG tidak boleh berlindung di balik alasan bahwa “anak harus belajar makan sehat.” Pemerintah dan penyelenggara tetap memiliki kewajiban menyediakan makanan yang layak, aman, bergizi, dan sedapat mungkin diterima oleh anak-anak.
Namun sebaliknya, kita juga jangan sampai terjebak pada logika bahwa setiap kali anak menolak makanan MBG, berarti programnya yang salah.
Ada perbedaan antara makanan yang tidak layak dimakan dan makanan yang belum terbiasa dimakan.
Keduanya membutuhkan respons yang berbeda.
Kalau makanan memang tidak layak, perbaiki makanannya.
Kalau porsinya terlalu besar, sesuaikan porsinya.
Kalau menunya monoton, perbanyak variasinya.
Tetapi kalau masalahnya adalah anak tidak terbiasa makan sayur, maka solusinya bukan menghapus sayur.
Justru anak perlu dibantu untuk mengenal sayur.
Penelitian di lingkungan sekolah juga memberikan gambaran menarik. Intervensi yang menggabungkan paparan makanan, contoh dari teman sebaya, dan dorongan positif terbukti dapat menurunkan food neophobia dan meningkatkan kesukaan terhadap buah serta sayuran.
Ini memberi pesan penting: selera bukan sesuatu yang selalu beku. Selera bisa dibentuk.
Dan kalau selera bisa dibentuk, keluarga memiliki peran yang sangat besar.
Pendidikan Gizi Dimulai dari Meja Makan
Saya justru berharap persoalan sisa makanan MBG dapat menjadi pintu masuk bagi sekolah untuk berdialog lebih serius dengan orang tua.
Bukan dalam bentuk teguran.
Bukan pula dengan mengatakan bahwa orang tua telah gagal mendidik anak.
Tetapi melalui percakapan yang sederhana: bagaimana membangun kebiasaan makan yang lebih sehat di rumah?
Orang tua perlu memahami bahwa mendidik anak makan sehat bukan pekerjaan sehari atau dua hari.
Anak mungkin menolak brokoli hari ini. Besok ia mungkin masih menolak. Tetapi suatu ketika ia bisa saja mencobanya.
Anak mungkin tidak suka ikan sekarang. Tetapi jika ikan terus hadir di meja makan dalam bentuk yang beragam, bukan tidak mungkin suatu hari ia menjadi makanan favoritnya.
Kebiasaan memang bekerja secara diam-diam. Ia tidak terasa ketika sedang dibentuk, tetapi menjadi sangat kuat ketika sudah terbentuk.
Kita sering terlalu sibuk mendidik anak membaca, berhitung, menghafal, dan mengejar prestasi akademik. Tetapi kita kadang lupa bahwa ada pendidikan lain yang tidak kalah penting: pendidikan untuk mengenali apa yang masuk ke dalam tubuh sendiri.
Anak perlu tahu bahwa makanan bukan sekadar sesuatu yang enak di lidah.
Makanan juga menentukan bagaimana tubuh tumbuh, bagaimana energi diproduksi, dan bagaimana kesehatan dipelihara.
Mungkin karena itu pendidikan gizi seharusnya tidak berhenti pada poster bergambar piramida makanan di dinding sekolah. Pendidikan gizi harus turun ke meja makan. Ia harus menjadi percakapan antara guru dan murid, antara sekolah dan orang tua, bahkan antara orang tua dan anak.
Dan MBG memiliki kesempatan besar untuk menjadi bagian dari proses tersebut.
Sampah Makanan sebagai Cermin
Pada akhirnya, saya melihat sisa makanan MBG bukan semata-mata sebagai sampah.
Ia memang sampah secara fisik. Tetapi secara sosial, ia adalah cermin.
Ia memantulkan banyak hal sekaligus: kualitas program, cara kita merancang menu, kemampuan kita memahami selera anak, pola konsumsi keluarga, budaya makan masyarakat, dan bahkan cara kita memperlakukan makanan.
Karena itu saya merasa kurang tepat jika sisa makanan hanya dijadikan amunisi untuk menyalahkan pemerintah. Tetapi saya juga tidak setuju jika persoalan itu diabaikan dengan alasan bahwa anak-anak memang pilih-pilih makanan.
Kita perlu melihatnya sebagai persoalan bersama.
Pemerintah harus memperbaiki kualitas makanan.
Sekolah perlu membangun edukasi gizi.
Orang tua perlu membangun kebiasaan makan di rumah.
Dan anak-anak perlu diberi kesempatan untuk mengenal makanan sehat tanpa dipaksa dan tanpa dipermalukan ketika belum menyukainya.
Mungkin di sinilah kita perlu melihat MBG dalam perspektif yang lebih panjang.
Keberhasilan program ini jangan hanya diukur dari berapa banyak porsi makanan yang dibagikan. Jangan pula semata-mata dari berapa banyak anak yang menerima makanan setiap hari.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah setelah beberapa tahun mengikuti program ini, anak-anak kita menjadi lebih akrab dengan makanan bergizi?
Apakah mereka mulai mengenali sayuran sebagai makanan biasa, bukan makanan yang harus dihindari?
Apakah mereka mulai memahami bahwa lauk berprotein bukan sesuatu yang asing?
Apakah mereka perlahan-lahan belajar bahwa makanan sehat tidak harus selalu memiliki rasa yang sangat manis, asin, atau sangat kuat?
Kalau jawabannya ya, maka MBG bukan hanya memberi makan anak hari ini. Ia sedang mengubah kebiasaan makan sebuah generasi.
Dan perubahan seperti itu memang tidak akan terlihat dalam satu semester.
Ia mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian, ketika anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah tumbuh dewasa dan membawa kebiasaan makan itu ke rumah mereka sendiri.
Di situlah saya membayangkan lingkaran perubahan yang sebenarnya.
Anak yang hari ini belajar makan sayur kelak mungkin akan menjadi orang tua yang menyediakan sayur bagi anaknya. Anak yang hari ini belajar mengenali makanan bergizi kelak mungkin tidak lagi menganggap makanan sehat sebagai sesuatu yang asing.
Dengan begitu, satu porsi MBG tidak berhenti pada satu kali makan.
Ia bisa menjadi awal dari sebuah kebiasaan.
Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan terbesar dari persoalan sisa makanan MBG bukanlah “mengapa anak-anak tidak mau makan?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “kebiasaan seperti apa yang selama ini kita wariskan kepada mereka?”
Sebab mungkin yang sedang kita lihat di tempat sampah bukan sekadar nasi, sayur, dan lauk yang tidak habis.
Mungkin di sana kita sedang melihat pantulan dari cara sebuah generasi belajar makan.
Dan kalau memang demikian, pekerjaan kita tidak cukup hanya memastikan makanan sampai ke tangan anak-anak.
Kita juga harus memastikan bahwa sejak dari rumah, mereka telah belajar untuk menghargai makanan yang baik bagi tubuhnya.
